Kebebasan Menurut Jean-Paul Sartre (Part 3)


Sartre Tentang Kesadaran


Titik tolak filsafat adalah cogito, yakni kesadaran yang saya miliki tentang diri saya sendiri. Descartes memulai dengan menyatakan, "Saya berpikir, maka saya ada" (I think therefore I am). Namun Descartes langsung menafsirkan cogito sebagai suatu cogito tertutup, yang terpisah dari dunia dan terkurung dalam dirinya.

Sebaliknya, para pemikir eksistensialis tidak memulai dari "kesadaran murni" yang melihat dunia, terhadap mana muncul pertanyaan, "Bagaimana saya tahu bahwa ia eksis?" Sartre memulai refleksinya dari sudut pandang sebuah kesadaran yang sudah terlibat (engaged) dalam dunia eksternal, dari suatu kesadaran yang "tidak murni" (impure).

Pendekatan Sartre sangat berbeda untuk tidak mengatakan bertentangan dengan pendekatan Cartesian. Bagi banyak pemikir eksistensialis seperti Sartre, dunia tidaklah diperlakukan terutama sebagai obyek pengetahuan, juga bukan sebagai obyek yang disadari. Keprihatinan banyak pemikir eksistensialis adalah untuk menjelaskan dan menjabarkan mengada dalam dunia (being in the world). Tidak ada kecenderungan untuk mengajukan pertanyaan tentang bagaimana kita mengetahui atau membuktikan adanya dunia, yang berbeda dari orang yang mengetahui atau menyadari kehadirannya.

Menurut Sartre, ada lompatan antara "saya berpikir" (I think) dan saya ada "(I am) dalam cogito Cartesian. Dengan kata lain, Sartre beranggapan, ada dua macam (mode) kesadaran yang secara fundamental berbeda dan tak bisa dipertemukan. Pertama, cogito pra-refleksif, yang tidak melibatkan adanya ego atau self. Dan cogito refleksif, yang menempatkan suatu self dan menyatukan pengalaman masa lalu yang berbeda-beda.

Butir penting yang bisa ditarik dari sini adalah bahwa cara utama manusia dalam berhadapan dengan dunia adalah tidak ada self. Manusia secara pra-refleksif seperti orang yang memandang ke luar jendela dan tidak punya pengalaman fenomenologis tentang dirinya sendiri (selfhood). Ia juga tak punya akses terhadap dirinya sendiri, sebagai subyek yang yang bertahan secara metafisis.

Di sisi lain, ketika kita melalui memori mengingat peristiwa-peristiwa, kita secara retrospektif memberi suatu self pada diri kita sendiri, dengan memaksakan penyatuan terhadap sekuens temporal (cogito refleksif). Namun hal ini tidak memiliki status ontologis ataupun metafisis.

Menurut Sartre, seluruh kesadaran dan setiap tindakan diniatkan (intending act) adalah: Pertama, secara posisional, menyadari adanya obyek yang ia pandang. Kesadaran diarahkan pada dan memiliki beberapa kaitan ke arah sejumlah obyek, seperti pemandangan yang sedang diamati. Kedua, secara non-posisional, menyadari akan dirinya sendiri sebagai kesadaran. Maka ia secara tidak langsung menyadari bahwa ia bukanlah obyek yang ia pandang atau ia posisikan.

Perlu dicatat bahwa aspek kedua dari kesadaran ini berarti bahwa kesadaran diri (self-consciousness) terlibat dalam semua dan setiap aspek kesadaran. Ia adalah kesadaran yang selalu sadar akan dirinya sendiri, "menyadari bahwa ia menyadari" (aware of being aware).

Meski demikian, tidak ada konten substantif dari kesadaran ini. Lebih lanjut, kesadaran ini tidak mensyaratkan adanya ego yang dilibatkan dalam relasi sadar dengan obyek. Deskripsi fenomenologis dari mode kesadaran ini oleh karena itu tidak bisa menetapkan adanya suatu self atau ego.

Jadi, harus dibedakan antara kesadaran tematis dan kesadaran non-tematis: kesadaran akan sesuatu dan kesadaran (akan) dirinya. Berarti, cogito yang merupakan titik tolak bagi filsafat kita adalah cogito pra-refleksif. Kesadaran (akan) dirinya "membonceng" pada kesadaran akan dunia. Dengan kata lain, cogito tidak menunjuk pada suatu relasi pengenalan, tetapi kepada suatu relasi Ada. Kesadaran adalah kehadiran (pada) dirinya.

Konsekuensi pokok yang ditarik Sartre dari ketiadaan self, esensi atau hakikat ini adalah bahwa eksistensi manusia sepenuhnya bebas dan kebebasan ini tidak bisa dicabut. Bagi Sartre: Kebebasan manusia mendahului esensi manusia dan membuat esensi itu dimungkinkan; esensi manusia itu tertangguhkan dalam kebebasannya. Apa yang kita sebut sebagai kebebasan tidaklah mungkin dibedakan dari keberadaan "realitas manusia." Manusia tidak eksis lebih dulu untuk kemudian baru menjadi bebas; (melainkan) tidak ada perbedaan antara menjadi manusia dan menjadi bebas.

(Lihat: Sartre, Jean-Paul. 1974. Being and Nothingness: An Essay on Phenomenological Ontology. London: Methuen & Co Ltd.)

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI