Kebebasan Menurut Jean-Paul Sartre (Part 4)


Kebebasan dan Facticity


Kita bebas, dan kita membuktikannya dengan memilih dan bertindak dan merencanakannya dengan cara tertentu di mana tidak ada obyek yang tak bebas dapat melakukannya. Dalam hal ini, perbedaan antara aktif dan pasif, antara orang yang melakukan sesuatu dan orang yang membiarkan sesuatu terjadi pada dirinya, adalah perbedaan yang tampak jelas, yang dapat dialami sepanjang waktu.

Manusia tidak hanya bebas, tetapi seperti dinyatakan berulangkali oleh Sartre, "dikutuk untuk bebas" (condemned to be free). Yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah manusia tidak bisa melepaskan kebebasan ini, bahkan sekalipun ia ingin melepaskannya. Kebebasan kita itu bukan sesuatu yang bisa kita peroleh atau kita hilangkan, tetapi merupakan suatu aspek yang diperlukan dan tak bisa dipisahkan dalam menjadi manusia.

Meski kebebasan yang dinyatakan Sartre terkesan radikal, Sartre tidaklah mengabaikan fakta bahwa manusia lahir dalam suatu situasi, dengan disposisi fisik dan sosial tertentu. Kita mungkin miskin, ditindas oleh rezim yang berkuasa, dan berbagai situasi lain apapun yang bisa kita bayangkan. Hal-hal itulah yang kita namakan faktisitas (facticity), yaitu keadaan, situasi, atau fakta --yang bersifat fisik maupun sosial-- yang tak bisa kita kontrol. Faktisitas merujuk ke suatu hubungan antara for-itself dan in-itself.

Faktisitas adalah seperangkat situasi di mana, walau bersifat kontingen (contingent), tampaknya membelenggu kita untuk melakukan sesuatu atau untuk menjadikan kita yang ini ketimbang yang itu. Namun, faktisitas itu adalah basis di mana kita membangun pilihan-pilihan bebas kita, atau ia adalah bahan-bahan dari mana pilihan bebas kita dibangun.

Jika kita sepenuhnya mengakui kebebasan kita, kita akan mengetahui bahwa walaupun mungkin ada beberapa hal yang secara fisik tidak bisa kita lakukan, kita tetap bebas untuk hidup dengan pembatasan-pembatasan itu dengan satu cara ketimbang cara yang lain. Dan kita akan melihat juga bahwa tidak ada yang bisa memaksa kita untuk memilih salah satu jalan ketimbang jalan yang lain. Memang ada beberapa batas terhadap pilihan-pilihan kita. Namun, tidak ada batas yang bersifat spesifik atau khusus.

Faktisitas tidak bisa membatasi kebebasan kita. Hal ini karena, menurut Sartre, kita tidak bisa memiliki kebebasan tanpa suatu konteks, dan kita akan selalu bisa memberontak melawan penindasan ini, dan berjuang untuk menafsirkan hal itu dengan beberapa cara yang berbeda. Faktisitas memberikan konteks bagi kita untuk melaksanakan kebebasan kita.

Manusia bukanlah obyek untuk digunakan oleh Tuhan atau pemerintah atau perusahaan atau masyarakat. Manusia juga bukan untuk "disesuaikan" atau dilebur ke dalam peran-peran, untuk sekadar menjadi pelayan, satpam, ibu rumah tangga, atau pekerja. Kita harus melihat lebih dalam dari peran kita dan menemukan diri kita sendiri.

Kebebasan adalah potensialitas sentral dan unik, yang membentuk kita sebagai manusia. Sartre menolak determinisme, dengan menyatakan bahwa adalah pilihan kita bagaimana kita merespons kecenderungan-kecenderungan yang ada (determining tendencies).

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)