Kebebasan Menurut Jean-Paul Sartre (Part 5)


Tanggung Jawab


Saya adalah pilihan-pilihan saya. Saya tidak bisa untuk tidak memilih. Jika saya tidak memilih, itu tetaplah sebuah pilihan. Jika saya dihadapkan pada keadaan yang tak bisa dihindarkan, manusia tetap bisa memilih bagaimana dia bersikap di dalam keadaan tersebut.

Tindakan-tindakan kitalah yang merumuskan diri kita. Dalam kehidupan, orang mengkomitmenkan dirinya sendiri, menggambar potretnya sendiri, dan tak ada yang lain kecuali potret tersebut. Kita terus-menerus menciptakan diri kita. Bukan karena seseorang itu jujur, maka dia tidak melakukan korupsi. Sebaliknya, karena dia terus-menerus dan berulang kali tidak mau melakukan korupsi, maka dia seorang jujur.

Setiap tindakan memberi kontribusi bagi perumusan diri kita. Dan dalam setiap momen, kita bisa memilih bertindak berbeda dan menggambar potret yang berbeda tentang diri kita. Selalu ada kemungkinan untuk perubahan, untuk mulai membuat jenis pilihan yang berbeda.

Manusia memiliki kekuasaan untuk mentransformasikan dirinya tanpa batas. Realitas manusia adalah "mengidentifikasi dan merumuskan dirinya lewat tujuan-tujuan yang dikejarnya," ketimbang oleh apa yang diduga sebagai "sebab-sebab" di masa lalu.
Karena manusia itu bebas, maka ia bertanggung jawab atas seluruh tindakan-tindakannya. Konsekuensi penting dari pernyataan bahwa manusia dikutuk untuk bebas (condemned to be free) adalah ia membawa beban dari seluruh dunia di pundaknya. Dia bertanggung jawab pada dunia dan pada dirinya sendiri sebagai cara mengada (way of being). Kita tak bisa melempar tanggung jawab ini ke orang lain.

Sartre menyatakan, bahkan jika manusia tidak ingin bertanggung jawab, ia tidak bisa mengada tanpa tanggung jawab terhadap tindakan-tindakannya. "Karena saya bertanggung jawab atas hasrat terdalam saya untuk lepas dari tanggung jawab. Untuk membuat diri saya sendiri pasif di dunia, untuk menolak bertindak atas hal-hal dan atas yang lain (the Others) adalah untuk tetap memilih sendiri, dan bunuh diri adalah salah satu beberapa cara lain untuk being-in-the-world." Setiap kita bertanggung jawab atas setiap hal yang kita lakukan. Kita juga bertanggung jawab atas setiap hasrat terdalam kita untuk melepaskan diri dari tanggung jawab.

Kecemasan (Anguish)

Kebebasan manusia tampak dalam kecemasan (anguish). Kecemasan itu hadir ketika kita menjadi sadar atas kebebasan kita. Keberadaan saya memprovokasi kecemasan sampai ke tahap di mana saya tidak mempercayai diri sendiri dan reaksi-reaksi saya dalam situasi itu.

Sartre memberi contoh kecemasan ini dengan ilustrasi tentang orang yang berdiri di bibir jurang yang sangat dalam. Dia bisa memilih untuk meloncat, terjun ke dalam jurang itu. Tetapi dia juga bisa memilih untuk mundur dengan hati-hati, agar tidak jatuh ke dalam jurang. Tidak ada yang memaksa dia untuk menyelamatkan hidup, tetapi juga tidak ada yang akan menghalangi jika dia mau terjun ke jurang. Apa yang akan dilakukan orang itu sepenuhnya tergantung pada dirinya.

Kecemasan itu muncul, karena dua hal. Pertama, kita harus membuat pilihan-pilihan dan mengetahui konsekuensi-konsekuensinya akan memberi dampak besar pada yang lain. Seperti jenderal yang memutuskan pengiriman ribuan pasukan ke medan perang. Kedua, dalam memilih untuk diri kita sendiri, kita sebenarnya juga memilih untuk seluruh kemanusiaan.

Sartre membedakan kecemasan dengan ketakutan (fear). Ketakutan memiliki salah satu obyek, yaitu benda-benda dalam dunia. Seperti, takut pada harimau, takut pada atasan yang galak, takut berada di tempat yang gelap. Sedangkan kecemasan menyangkut diri sendiri, dengan menyatakan bahwa eksistensi kita seluruhnya tergantung pada diri kita.

Bad Faith dan Mengingkari Kebebasan

Meskipun manusia itu bebas, yang berimplikasi pada ia harus bertanggung jawab terhadap semua pilihan dan tindakannya, manusia bisa saja mencoba mengingkari kebebasan dan lari dari tanggung jawab. Ada dua cara untuk mengingkari kebebasan. Pertama, dengan bersikukuh pada pemikiran bahwa seseorang tidak lebih dari faktisitasnya, sebagai bagian dari dunia material, terkungkung dan terhambat, dengan karakteristik yang dimiliki seseorang dan rentang tindakan yang sudah dibatasi sendiri olehnya.

Bad faith merupakan konsep yang digunakan Sartre untuk menjelaskan fenomena di mana manusia yang berada di bawah tekanan dari kekuatan-kekuatan kemasyarakatan mengadopsi nilai-nilai yang palsu, dan mengingkari kebebasan yang sudah melekat dalam dirinya untuk bertindak otentik.

Misalnya, seorang pegawai kecil di kantor pemerintahan mungkin beranggapan bahwa dia harus ikut melakukan korupsi, karena atasannya dan lingkungan teman-teman sekantornya juga melakukan korupsi. Ia mengingkari bahwa ia sebenarnya bebas dari keharusan mengikuti keadaan lingkungan apapun.

Bad faith berarti bersalah karena menganggap diri bukan sebagai Ada yang bebas, tetapi sebagai obyek. Dalam bad faith, saya menyembunyikan kebenaran dari diri sendiri atau menipu diri sendiri. Seseorang bisa hidup dalam bad faith yang berimplikasi pada gaya tertentu yang konstan dari orang tersebut dalam kehidupan. Dia akan berdalih dengan mengatakan, "Apa boleh buat, sifat saya memang begitu."

Cara kedua untuk menolak kebebasan adalah dengan menganggap diri sendiri terikat oleh suatu kewajiban, tujuan atau maksud tertentu, yang sudah ditetapkan bagi dirinya. Misalnya, orang yang menganggap dirinya mendapat "wangsit" atau perintah dari Tuhan untuk menjalankan tugas tertentu. Maka ia merasa harus bertindak dan berperilaku sesuai dengan perintah Tuhan tersebut.

Jakarta, Juli 2013

Satrio Arismunandar
Filsafat FIB UI

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI