Mayoritas Umat Islam Indonesia Mengandalkan Iptek dalam Ritual Ibadah Sehari-hari

Sebetulnya secara implisit, tanpa banyak gembar-gembor, mayoritas umat Islam Indonesia sudah sangat mengandalkan (baca: percaya) pada produk hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam pelaksanaan praktis ibadah sehari-hari. Jadi bukan cuma dalam menentukan kapan saat memulai puasa Ramadhan, menentukan kapan saat Idul Fitri, dsb.

Indikasinya sangat sederhana:
(1) Berapa persen sih umat Islam sekarang yang jika mau sholat merasa perlu melihat dulu ke langit dan memastikan posisi matahari, sebelum menyerukan adzan dan sholat? Bukankah mayoritas mereka tinggal melihat jadwal waktu sholat yang diedarkan MUI, atau yang biasa dimuat di suratkabar Republika atau Pos Kota, atau yang dicantumkan di kalender-kalender Hijriyah?

(2) Berapa persen sih umat Islam sekarang, yang jika mau berbuka puasa harus memastikan adanya berkas cahaya merah terakhir di langit senja sampai terbenam matahari (tanda masuknya waktu maghrib)? Bukankah mayoritas kita tinggal menunggu adzan di depan pesawat TV masing-masing di rumah atau mendengarkan radio. Begitu "dug..dug...dug.." suara bedug dan adzan di TV terdengar, langsung kita bilang "Alhamdulillah..." terus berbuka.

Jadi perdebatan tahunan yang heboh --melibatkan organisasi-organisasi keislaman besar-- soal kapan persisnya mulai masuk bulan Ramadhan, atau kapan harus ber-Idul Fitri, menurut saya sebetulnya hanya perdebatan artifisial. Wong tiap hari kita sudah mengandalkan produk ilmu pengetahuan kok, yang sudah menghitung dan menetapkan jadwal sholat sampai berbulan-bulan ke depan.

Dan memang Allah SWT memberi kita akal bukan buat pajangan, tetapi untuk digunakan demi kemaslahatan umat. Untuk kepentingan ibadah. Niatnya adalah untuk kebaikan.
Mohon maaf, tidak ada maksud saya untuk menyinggung siapapun. Tetapi saya hanya mengutarakan fenomena nyata yang bisa kita lihat sehari-hari...

Jakarta, 9 Juli 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)