Media Massa Harus Selektif Memilih Narasumber

Media massa (khususnya TV) seharusnya makin selektif memilih nara sumber... Orang-orang yang jelas "bermasalah", jangan diberi terlalu banyak ruang di media. Masa nggak ada sih narasumber yang cukup bermutu buat ditampilkan.

Orang-orang "bermasalah" bisa eksis karena media juga yang memberi ruang. Memang ada orang-orang (narasumber) yang dengan sadar mau mengeksploitasi media untuk kepentingannya (apapun itu, untuk ketenaran, untuk menyerang lawan politik, untuk mengedepankan agenda kelompoknya, dll).

Mereka tahu, wartawan dan media suka dengan yang sensasional, maka mereka pun memberikan apa yang "didambakan" oleh media. Sensasi. Sensasi tidak harus vulgar, seperti menyiramkan suguhan air minum ke wajah narasumber lain. Tetapi bisa juga dengan pernyataan-pernyataan kasar dan sarkastis. Misalnya, ucapan "panggil si Anu itu ke mari, biar saya gampar mulutnya!" Atau membuat klaim-klaim yang tidak masuk akal, seperti "yang berhak menyadap telepon hanya malaekat."

Ucapan-ucapan konyol itu bertebaran di media kita, seolah-olah tanpa pertimbangan dari pengelola media. Digelontorkan begitu saja.

Sebagai mantan wartawan media cetak dan televisi, saya menulis ini sebagai otokritik kepada rekan-rekan yang masih bekerja di media. Kita tahu, media butuh berita, butuh drama, tetapi jangan lantas memasukkan semua sampah dan sumpah serapah ke berita. Sudah terlalu banyak contohnya.

Jakarta, 28 Juni 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI