Mengapa Konvensi Capres Partai Demokrat Tidak Bergaung dan Tidak Punya Gereget?

Konvensi untuk memilih calon presiden yang akan digelar Partai Demokrat terkesan tidak bergaung, tidak punya gereget, bahkan terkesan "tidak penting" di mata publik. Konvensi ini akan makin terasa tak bermakna jika calon-calon yang tampil tidak punya popularitas selevel Prabowo Subianto, Dahlan Iskan, dan Jokowi.

Satu-satunya yang membuat konvensi ini layak diliput (jika tidak ada keikutsertaan calon-calon populer tersebut) hanyalah bahwa karena jumlah kursinya di DPR yang mayoritas, maka Demokrat bisa memainkan kartu untuk mengajukan capres sendiri. Itu saja.

Ini beberapa faktor yang membuat konvensi itu kurang gereget:
1. Partai Demokrat sendiri sedang banyak dirundung masalah, tersangkut kasus korupsi yang menimpa kader-kadernya (Nazaruddin, Andi Mallarangeng, Anas Urbaningrum, Angelina Sondakh, dll). Jadi seumpama mau bikin pesta, tetapi karena gedung tempat pestanya kotor penuh sampah, jadi terkesan tidak menarik bagi publik.

2. Partai Demokrat sendiri tidak punya kader yang layak ditampilkan. SBY tidak bisa maju lagi. Mantan Ketua Umum Anas jadi tersangka KPK. Sekjen Ibas masih terlalu yunior. Jangan lagi disebut "tokoh" semacam Marzuki Alie, Ruhut Sitompul, Sutan Bhatoegana, dll.

Maka tokoh-tokoh yang non-Demokrat pun digadang-gadang agar terlibat konvensi, tapi tidak ada tokoh yang kuat. Gita Wirjawan dan Sri Mulyani tidak punya akar dan basis massa yang kuat. Sri Mulyani malah ada kasus Century Gate. Jenderal-jenderal yang coba ditampilkan juga tidak dikenal di level masyarakat bawah dan tidak kelihatan rekam jejak prestasinya.

Konvensi ini akan lumayan "terselamatkan" jika tokoh seperti Prabowo atau Dahlan Iskan ikut konvensi. Tetapi mengharapkan Jokowi untuk ikut dan memeriahkan konvensi adalah mimpi di siang bolong.

Jokowi tidak butuh konvensi Demokrat, karena sudah jelas bahwa dia akan di-back up PDI Perjuangan. Bagi Jokowi yang dikenal sejauh ini sebagai "tokoh bersih," ikut konvensi Demokrat justru bunuh diri. Ini seperti baju putih dicemplungkan di comberan, justru akan merusak citra Jokowi di mata rakyat. Inilah analisis warung kopi saya!

Jakarta, 12 Juli 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)