Menyimak "Gerakan Besar" untuk Menghambat Jokowi Jadi Capres 2014

Saya perhatikan, saat ini banyak politisi, "pengamat" atau "peneliti survey" yang bicara seolah-olah penuh pertimbangan rasional dan balanced, seolah-olah obyektif, seolah-olah tidak punya kepentingan atau mewakili kepentingan tertentu, seolah-olah bicara untuk kebaikan Jokowi dan untuk kebaikan rakyat. Mereka bicara soal prospek Jokowi maju sebagai capres 2014.

Ada yang bilang, sebaiknya Jokowi menyelesaikan masa jabatan Gubernur DKI dulu sebelum maju sebagai capres. Ada yang bilang, Jokowi harus jadi ketua partai dulu biar punya pengalaman "berpolitik" dan "berkomunikasi dengan pemimpin-pemimpin parpol." Argumennya ada yang seolah-olah masuk akal, tetapi menurut saya lebih banyak yang terkesan dibuat-buat, artifisial, dan mengada-ada. Ada yang bilang 2014 itu jatah untuk para tokoh senior, sedangkan Jokowi sebagai yang generasi muda sebaiknya maju 2019.

Tetapi ujung-ujungnya semua politisi, "pengamat, "analis survey" itu satu kesimpulan: Jokowi JANGAN maju jadi capres 2014. Kalau mau maju tahun 2019 saja (seolah-olah ada jaminan bahwa tahun 2019 Jokowi pasti bisa maju jadi Capres, dan bukan dijegal lagi oleh para mafia politik agar Jokowi menunggu lagi sampai tahun 2024!).

Terakhir ada pengamat yang bilang, Jokowi sebelum jadi Capres sebaiknya jadi Ketua PDI Perjuangan dulu. Tetapi kemudian lucunya, ucapan itu ia perlemah sendiri dengan mengatakan apakah mungkin Megawati rela menyerahkan jabatan Ketua Umum PDIP pada Jokowi? Sudah jelas, ini hasil pengamatan asbun yang tidak membumi.

Saya mendapat kesan, ada "gerakan besar" (disadari atau tidak) untuk menghambat Jokowi maju jadi capres 2014. Pengertian "gerakan besar" ini tidak harus diartikan adanya persekongkolan besar yang rapi dan terkoordinisir, tetapi lebih merupakan aksi-aksi lepas dan terpisah, yang karena berbagai faktor kepentingan masing-masing, mengesankan ada kesamaan kepentingan untuk menjegal Jokowi sejak awal. Jadi jangan dibaca sebagai "teori konspirasi."

Popularitas Jokowi yang luar biasa, yang tampaknya tidak menurun tapi bahkan makin melejit, membuat banyak pihak yang berambisi jadi presiden ketar-ketir. Mereka siap memberikan apa saja dengan biaya sebesar apapun, agar Jokowi tidak maju capres 2014. Mereka juga mencoba meredam Jokowi dengan masang-masangkan nama Jokowi dengan tokoh-tokoh tertentu. Sikap Jokowi sendiri yang tenang-tenang saja, kalem, merendah, tidak terprovokasi, justru membuat "gerakan besar" ini makin gelisah.

Saya sendiri percaya, rakyat punya logika sendiri. Siapa calon presiden yang paling mereka percayai. Saya, sebagai rakyat berpendapat: Jika Jokowi memang InsyaAllah bisa memberi kebaikan untuk rakyat Indonesia, semoga Allah SWT memudahkan jalan bagi beliau untuk memimpin negeri ini mulai 2014.

Warga DKI Jakarta tidak perlu merasa ditinggalkan (sebagaimana warga Solo juga mendukung bahkan bangga, Walikotanya Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta). Kebaikan untuk rakyat Indonesia artinya kebaikan juga untuk warga DKI Jakarta (selama merasa masih bagian dari Indonesia).

Jakarta, 17 Juli 2013
Satrio Arismunandar.
081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)