Nabi Isa (Yesus) Adalah Tokoh Revolusioner, yang Dihukum Mati Karena Dianggap Melawan Penguasa Romawi (Dari Buku Reza Aslan)

Reza Aslan adalah seorang profesor ahli agama di Amerika. Awalnya ia Muslim, lalu dalam proses pencarian pindah menganut Kristen. Kemudian dalam proses pencarian berikutnya ia kembali ke Islam, agama yang dianut para leluhurnya. Itu urusan pribadi sebetulnya.

Namun ia diserang habis oleh presenter TV Fox, yang mempertanyakan latar belakang Islamnya, ketika Reza menulis buku tentang Nabi Isa (Yesus) yang kini menjadi best seller di Amerika. Buku itu berjudul "Zealot: The Life and Times of Jesus of Nazareth." Presenter Fox seolah-olah menutup mata terhadap fakta bahwa banyak akademisi non-Muslim juga menulis buku tentang Islam atau Nabi Muhammad SAW, dan mereka tidak pernah dipersoalkan.

Di Amerika, akademisi yang diakui tahu banyak tentang Islam adalah John L. Esposito, seorang Katolik. Buku-buku karya Esposito tentang Islam sudah banyak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Belum lama juga datang ke Indonesia Karen Armstrong, juga seorang biarawati Katolik yang menulis buku tentang Nabi Muhammad secara simpatik.

Jadi harus dibedakan antara agama yang dianut seorang akademisi dengan kualifikasi akademis dalam profesinya. Bukan berarti bahwa latar belakang agama sama sekali tidak penting. Background keagamaan bisa ikut memberi passion pada seorang akademisi untuk mencari kebenaran akademis. Dalam menulis bukunya, Reza selama dua dekade menggali berbagai naskah tentang Yesus dari kalangan Nasrani. Ia menguasai bahasa Yunani ketika menganalisis teks-teks kuno tentang Nabi Isa (Yesus). Ia mengaku sejak lama sudah "terobsesi" dengan tokoh Yesus ini.

Terlepas dari background personal itu, banyak kesimpulan yang menarik (dan mungkin kontroversial) dari buku Reza tentang figur historis Yesus. Reza menyimpulkan, Yesus adalah seorang tokoh revolusioner --pembela kaum miskin, papa, marginal-- yang ajaran-ajarannya dianggap mengancam negara Romawi. Hukuman disalib pada masa itu hanya diberlakukan penguasa Romawi untuk para pemberontak atau orang yang dianggap melawan negara.

Jadi Yesus itu statusnya adalah revolusioner yang dianggap membahayakan negara. Dua pencuri yang disalib di samping Yesus sebetulnya bukan pencuri kecil biasa, tetapi orang-orang yang juga dianggap sebagai pemberontak. Nah, berbeda dengan keyakinan banyak orang Islam, Reza berdasarkan kajiannya meyakini bahwa Yesus/Nabi Isa --sekali lagi sebagai figur historis, yang nyata hidup 2.000 tahun lalu-- memang betul-betul disalib. Ajaran-ajaran Yesus sepeninggalnya kemudian mengalami proses tertentu yang melahirkan agama Nasrani.

Saya di sini tidak ingin terlibat dalam perdebatan teologis karena bukan kompetensi saya. Saya juga tidak punya kompetensi cukup untuk mendukung atau membantah hasil kajian Reza. Status FB saya ini sifatnya deskriptif saja, sekadar informasi. Mohon maaf jika ada teman-teman Muslim dan Nasrani yang mungkin merasa terganggu. Untuk tahu lebih lengkap soal buku ini, silahkan Google sendiri. Perdebatan Reza dengan presenter TV Fox juga bertebaran di media online.

Jakarta, 31 Juli 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI