Penampilan Politisi dan Dua Jenis Pencitraan

Rakyat Indonesia sekarang lebih senang dengan figur-figur politisi yang sederhana, apa adanya dalam penampilan. Tidak dibuat-buat. Tidak artifisial. Itu rasanya lebih pas dengan suasana zaman yang serba susah sekarang. Harga-harga kebutuhan pokok naik. Harga BBM naik. Biaya masuk sekolah dan berobat ke dokter sangat mahal.

Itulah sebabnya figur-figur seperti Jokowi, Dahlan Iskan, Ahmadinejad, Hugo Chavez, Evo Morales, Jose Mujica (Presiden Uruguay,) dan Fernando Lugo (Presiden Paraguay). Bahkan Mujica dan Lugo mendapat julukan presiden termiskin di dunia. Figur-figur semacam ini terasa lebih nyambung dengan suasana batin rakyat.

Mantan Presiden Iran Ahmadinejad yang kalau ngantor suka makan bekal sederhana, yang dimasak istrinya sendiri dari rumah, adalah salah satu contohnya. Rakyat bisa menilai, mana kesederhanaan yang asli dan mana yang dibuat-buat. Ahmadinejad sebelum jadi Presiden dan sesudah jadi Presiden, tampilannya sama sederhana. Artinya itu memang asli dari kepribadian dia. Bukan ber-acting.

Benar, mungkin saja ada aspek pencitraan bagi para politisi. Sampai tahap tertentu, pencitraan dalam kehidupan politik itu sah-sah saja dan diperlukan. Mana ada politik tanpa pencitraan? Tapi harus dibedakan ada 2 macam pencitraan: 1. Pencitraan yang semata-mata mengandalkan pencitraan (dengan dukungan Humas, iklan, dan survey abal-abal) tanpa basis kinerja dan komitmen keberpihakan pada rakyat. 2. Pencitraan yang dilandasi oleh kerja keras nyata untuk kepentingan rakyat.

Maka rakyat Indonesia tidak mempersoalkan jika Bung Karno suka pakai baju rapi, necis, kadang-kadang dilengkapi atribut gagah kemiliteran. Ketika dikritik, kenapa tidak pakai sarung seperti pemimpin partai-partai Islam, misalnya, Bung Karno bilang: "Aku ini pemimpin yang mengerti jalan pikiran rakyatku. Rakyat Indonesia itu ingin pemimpinnya tampil gagah dan hebat, tidak kalah dengan penampilan orang-orang Belanda itu!"

Maka penampilan perlente Bung Karno dipahami dan diterima, karena dilandasi oleh perjuangan dan pengorbanannya yang jelas untuk rakyat dan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana dengan para "pemimpin" yang sekarang? Ah, jawab saja sendiri...

Jakarta, 26 Juli 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI