Presiden SBY Pasti Pusing Gara-gara "Kafe Nazi" di Bandung

Ketika kasus The Soldatenkaffee (Kafe Prajurit) yang banyak memasang atribut Nazi Jerman jadi pemberitaan dunia, dan muncul kecaman dari organisasi-organisasi Yahudi/Zionis, Presiden SBY pasti pusing tujuh keliling. Baru saja dapat penghargaan dari lembaga Yahudi di Amerika, yang diserahkan langsung oleh tokohnya Henry Kissinger, sekarang sudah ketiban masalah.

Sebenarnya kafe yang berlokasi di Jl. Pasir Kaliki, Bandung ini sudah berdiri dua tahun sejak 2011 dan tak pernah ada problem berarti. Gara-gara diberitakan di The Jakarta Globe yang berbahasa Inggris (artinya, akhirnya keberadaan kafe unik itu dibaca di situs, dan mudah diakses oleh khalayak pembaca di luar negeri), kasusnya jadi besar. Berbagai protes dilancarkan dari dalam dan luar negeri, termasuk oleh lembaga Yahudi di Amerika. Pemilik kafe malah sempat mendapat ancaman-ancaman fisik.

Karena trauma warisan Perang Dunia II, yang dipicu oleh serangan dan pendudukan oleh Nazi Jerman di bawah komando Adolf Hitler, penggunaan atribut-atribut Nazi memang dilarang di Eropa, dan ada undang-undangnya. Tetapi di Indonesia tidak ada undang-undang yang melarang penggunaan atribut Nazi. Partai Nazi juga tidak tercatat sebagai partai terlarang di Indonesia

Pemilik kafe tampaknya juga lebih melihat atribut Nazi sebagai bagian dari ornamen estetik dan demi keperluan bisnis kapitalistik semata. Saya tidak yakin ia menganut "ideologi fasis atau Nazi." Tidak sampai sejauh itu.

Situasi yang dihadapi The Soldatenkaffee mungkin kira-kira pas analoginya, jika semisal di China ada berdiri "Kafe PKI." PKI adalah partai terlarang di Indonesia, tetapi tidak dilarang di China. Sehingga mendirikan "Kafe PKI" di Beijing, misalnya, mungkin dianggap biasa-biasa saja. PKI yang komunis dianggap bukan masalah di China, yang memang salah satu "embahnya komunis."

Apakah "Kafe PKI" di China akan ditutup karena protes orang-orang di Indonesia, yang menganggap PKI sebagai partai terlarang? Saya rasa, tidak. Tapi pemerintah SBY kan paling sensitif kalau ada protes dari yang namanya luar negeri, apalagi ini menyangkut "sensitifitas Yahudi".

Dalam konteks pendidikan, warga Indonesia umumnya saya rasa juga tidak begitu perhatian pada aspek sensitifitas ini. Pelajaran sejarah (baca: sejarah Eropa dan "Holocaust" terhadap warga Yahudi) tidak pernah menjadi "mata pelajaran favorit" di Indonesia, kecuali mungkin sejarah yang terkait dengan kepentingan elite penguasa.

Jadi bicara tentang "tidak adanya kepekaan warga Indonesia terhadap perasaan warga Yahudi" rasanya jauuuhhh sekali! Reaksinya mungkin malah "so what gitu lhoh" (soalnya bagi orang Indonesia, warga Yahudi dan kaum Zionis juga dianggap abai terhadap penderitaan rakyat Palestina, yang dirampas tanahnya dan dijajah sampai sekarang).

Media-media Eropa juga tidak sensitif ketika --dengan dalih "hak kebebasan berekspresi"-- memasang karikatur Nabi Muhammad SAW dengan tampilan yang melecehkan. Padahal membuat gambar Rasullah SAW sangat terlarang di kalangan penganut Islam.

Jakarta, 22 Juli 2013

Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)