Rakyat Pendukung Jokowi Dianggap "Tidak Punya Imajinasi"

Saya beberapa kali membaca komentar kritis dari pengamat atau akademisi atau facebooker, yang mengritik fenomena seolah-olah masa depan Indonesia tergantung pada figur atau tokoh tertentu. Entah tokoh itu SBY, Prabowo Subianto, Wiranto, Megawati, Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Pramono Edhie Wibowo, Hatta Rajasa, Dahlan Iskan, dan terakhir yang digadang-gadang sebagai tokoh populer yang elektabilitasnya sangat tinggi adalah Jokowi.

Membanjirnya dukungan kepada Jokowi dari masyarakat awam dinilai sebagai bukti bahwa rakyat Indonesia belum matang, belum dewasa, masih terbawa romantisme ketokohan. Rakyat dianggap "tidak punya imajinasi" politik untuk mampu melihat melampaui fenomena ketokohan tersebut. Popularitas Jokowi disamakan atau diidentikkan dengan popularitas SBY tahun 2004 dan 2009 ketika SBY menang telak, mengalahkan capres-capres lain. Terbukti kepemimpinan SBY mengecewakan dan rakyat sekarang dituding akan mengulangi kesalahan masa lalu, memilih pemimpin hanya berdasarkan popularitas.

Saya di sini tidak akan membuat analisis akademis, tapi berangkat dari pengalaman keseharian sebagai rakyat, yang tiap hari harus naik angkutan umum, tiap hari resah dengan kenaikan harga barang-barang kebutuhan hidup, tagihan likstrik, telepon, PAM, dll. Rakyat kita memang sederhana. Kalau disuruh mencari pemimpin alternatif, disuruh berimajinasi "melampaui fenomena ketokohan," mereka akan bingung.

Bagaimana menemukan "satrio piningit" tersebut, pemimpin yang betul-betul bekerja untuk rakyat. Larinya akan ke mitos Ratu Adil atau Imam Mahdi yang tak tahu kapan datangnya. Rakyat berpikir praktis, akhirnya. Mereka bilang: Setuju, jangan memilih Presiden cuma dari melihat popularitas. Tapi apakah popularitas Jokowi itu tanpa dasar? Tanpa alasan? Tanpa bukti kerja yang sudah dilakukan.

Kalau memang betul ada alternatif lain yang lebih baik dari Jokowi, kami pun akan mendukung. Tetapi di manakah yang lain itu? Tunjukkan orangnya. Siapa?. Karena dari stock yang ada, kalau rakyat tidak memilih Jokowi ya rakyat harus memilih salah satu dari mereka ini: Prabowo, Hatta Rajasa, Wiranto, Aburizal Bakrie, Megawati, Jusuf Kalla,... dll. Dan rekam jejak mereka sudah dibaca oleh rakyat. Di manakah "satrio pingingit" itu bersembunyi, jika dia memang ada sekarang? Ataukah justru jangan-jangan Jokowi itu adalah "satrio piningit" yang selama ini ditunggu-tunggu?

Jakarta, 25 Juli 2013
Satrio "Bukan Piningit" Arismunandar.

Comments

Raine Forest said…
Rakyat juga tahu bahwa mereka TIDAK HIDUP DI ALAM IMAJINASI, mereka melihat, mendengar dan merasakan realita yang ada. Apa yang sudah dilakukan Jokowi sudah mereka dengar, mereka lihat dan mereka rasakan sebagai kenyataan yang ada. Berbeda dengan tokoh lain yang berjanji dan berjanji tapi tidak ada hasil kerja nyatanya.
Anggapan bahwa apa yang dilakukan Jokowi hanya pencitraan tidak masuk akal, justru Jokowi memperoleh citra yang baik adalah akibat dari hasil kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Apa yang dilakukan Jokowi tidak terlepas dari ketegasan dan keberanian dalam menghadapi persoalan yang ada. Bentuk ketegasan Jokowi berbeda dengan tokoh lain. Jokowi tegas dalam menegakkan aturan dan memberikan solusi, jadi tidak asal tindak tanpa ada solusi. KETEGASAN ALA INDONESIA

Artis Olga Lydia mengatakan :
"Beliau (Jokowi) memiliki sifat tegas ala Indonesia, blusukan itu merupakan cermin sifat tegas Jokowi untuk mengetahui akar masalah," ujar Olga (30/5/2014).
"Itu waduk-waduk di Jakarta dapat dibersihkan dan difungsikan seperti sedia kala karena ketegasan, itu pasar Tanah Abang, yang selalu bermasalah dapat dibereskan oleh Jokowi, ya pasti dengan ketegasan," ujar Olga.
"Ketegasan ala Indonesia itu bukan dengan kekerasan, melainkan dengan didengarkan dan dibujuk, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah, contohnya kejadian Mbah Priuk, apabila ketegasan Ala Indonesia seperti yang Jokowi miliki digunakan, kejadian Mbah Priuk tidak akan terjadi," ujar Olga.

Melihat hasil kerjanya, lihatlah bagimana merubah kampung kumuh menjadi kampung deret yang layak huni, sebuah ide brilian yg gak pernah kepikir orang lain,,,atau KJS sebagai bentuk kepedulian kesehatan bagi rakyat miskin,,,atau KJP supaya anak-anak miskin bisa sekolah dengan layak..dan banyak lagi yang lain!

Lalu kenapa HARUS BERIMAJINASI untuk mencari pemimpin…Lihatlah realitanya, tract recordnya…hasil kerjanya..dan rakyat ini tidak perlu berpikir “NJELIMET” seperti anda

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)