Tugas Ujian Akhir Semester (UAS) - Manajemen Industri Media, Juli 2013


Mata Kuliah : Manajemen Industri Media
Dosen : Ir. Satrio Arismunandar, M.Si, MBA
Program studi : Magister Ilmu Komunikasi – Konsentrasi Jurnalistik

Pengantar :


Kita tahu bahwa banyak perusahaan media mempekerjakan tenaga wartawan yang berstatus bukan karyawan tetap. Ini terutama berlaku untuk koresponden/ kontributor di daerah, yang secara rutin mengirim berita ke kantor media di Jakarta dan diupah sesuai jumlah berita yang dimuat/ditayangkan.

Ada yang statusnya kontrak, yang diperbarui tiap tahun. Untuk mensiasati undang-undang ketenagakerjaan, yang melarang kontrak lebih dari dua kali (masa percobaan hanya boleh 2 kali kontrak), perusahaan melakukan taktik akal-akalan. Si wartawan kontrak itu pura-puranya tidak diterima sebagai karyawan, terus disuruh mengirim lamaran baru. Jadi, dia bisa dikontrak berkali-kali tanpa batasan.

Dengan cara ini, perusahaan media tidak diwajibkan memberi fasilitas asuransi kesehatan, bonus, tunjangan ini dan itu, kepada wartawan bersangkutan. Jika ada kebutuhan untuk mengurangi karyawan, wartawan kontrak ini juga bisa diberhentikan tanpa pesangon dan tanpa harus repot minta izin ke Kementerian Tenaga Kerja.

Outsourcing (alih daya) sudah menjadi tren pula bagi perusahaan media. Padahal menurut UU Ketenagakerjaan, outsourcing hanya boleh untuk pelaksanaan pekerjaan yang bersifat penunjang dan tidak berhubungan langsung dengan proses produksi (misalnya: satpam, office boy). Wartawan yang menulis berita (produk utama media) jelas seharusnya tidak boleh berstatus outsourcing.

Dari sudut pandang perusahaan, outsoucing menguntungkan secara finansial dan memberi fleksibilitas. Tetapi bagi wartawan bersangkutan yang berstatus “kontrak abadi” atau outsourcing, hal ini tidak memberi rasa aman dalam bekerja, tidak ada tunjangan kesejahteraan, tidak ada bonus, tidak ada perlindungan kerja, tidak ada pensiun, dll.

Kasus terakhir yang memilukan adalah meninggalnya Jupernalis Samosir (46 tahun), wartawan Majalah Tempo di Riau, yang berstatus kontrak, pada 9 Juni 2013, akibat komplikasi penyakit yang dideritanya selama bertahun-tahun. Ternyata manajemen Tempo, nyaris tidak berbuat apa-apa untuk proses penyembuhan dan pengobatannya selama ini. Padahal, Samosir setidaknya sudah 15 tahun bekerja di lembaga yang sering mengkritik kebijakan pemerintah itu.

Sampai akhir hayatnya, status Samosir adalah Koresponden Kontrak yang tidak mendapat hak-hak seperti layaknya seorang karyawan. Dengan status itu, dia tidak mendapat asuransi kesehatan atau biaya pengobatan dari kantornya. Ketika masuk ke RSUD Arifin Ahmad, keluarga Samosir menggunakan fasilitas Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Samosir dikategorikan sebagai pasien keluarga Miskin. Sungguh tragis, belasan tahun mengabdi di sebuah lembaga pers terkenal, namun matinya dengan mengenaskan.

Tugas :


1.Buatlah sebuah paper/makalah. Temanya: “Tenaga Outsourcing di Perusahaan Media, Kesejahteraan Jurnalis, dan Dampaknya Terhadap Profesionalisme Jurnalis di Indonesia.”
2.Judul bebas, tapi harus sejalan dengan tema di atas. Sebaiknya tulisan Anda juga menawarkan solusi atau langkah yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah.
3.Panjang: Minimal 5 halaman A4, termasuk referensi/ daftar pustaka/ catatan kaki.
4.Bebas mengutip dari sumber manapun (termasuk Internet, atau wawancara pakar), asalkan sumber referensi disebutkan dengan jelas!
5.Yang dinilai dari paper Anda adalah: konten (isi), bahasa, dan struktur/format pembahasan. Selamat bekerja! ***

NB: Foto Almarhum Jupernalis Samosir

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)