Bahasa, Identitas Keindonesiaan, dan Kelangsungan Hidup Bangsa (Kata Pengantar untuk Buku Fredy Wansyah)

Tidak ada yang bisa menyangkal bahwa kita tak bisa hidup tanpa bahasa. Manusia berkomunikasi dengan manusia lain melalui bahasa. Kita berpikir dan merenung dengan bahasa. Kita belajar tentang banyak hal dari generasi-generasi sebelumnya dengan perantaraan bahasa. Bahkan Allah SWT memberi tuntunan kehidupan pada manusia lewat bahasa, yang dituangkan dalam ayat-ayat di kitab suci Al-Quran.

Para filsuf pun berusaha menyebarkan ajaran dan kebijakan lewat bahasa. Tanpa bahasa tertulis, kita mungkin tak akan pernah mengenal pemikiran atau ajaran Socrates, Aristoteles, Plato, Jalaluddin Rumi, Fariduddin Al-Attar, Ibnu Sina, Imam Ghazali, dan seterusnya.

Ironinya, mungkin tidak banyak kalangan muda Indonesia yang menganggap bahasa sebagai isu yang serius. Lebih sedikit lagi kaum muda yang membuat buku non-fiksi dengan tema atau titik tolak dasar tentang bahasa. Fredy Wansyah, alumnus Sastra Indonesia dari Unpad yang kini bekerja sebagai penyunting bahasa di Harian Pelita, termasuk kalangan yang sangat sedikit itu. Itulah sebabnya, buku kumpulan tulisannya ini perlu kita apresiasi.

Artikel-artikel karya Fredy di dalam buku ini mencakup berbagai tema yang meluas, tidak terfokus pada satu aspek kebahasaan saja. Oleh karena itu, saya tidak berpretensi untuk mengulas atau mengomentari artikel-artikel tersebut. Saya hanya ingin menggarisbawahi, sepatutnya kita perlu memberi perhatian yang lebih besar pada topik bahasa ini.

Kembali ke tema bahasa, sering dikatakan bahwa bahasa menunjukkan bangsa. Ungkapan itu benar. Namun, Bahasa Indonesia bukanlah sekadar sarana untuk menunjukkan identitas keindonesiaan, melainkan ia juga berfungsi sebagai perekat dan pemersatu bangsa. Bahkan, tidak berlebihan untuk mengatakan, Bahasa Indonesia memiliki peran strategis dalam mempertahankan kelangsungan hidup (survivability) bangsa Indonesia, sebagai bangsa yang besar di kawasan Asia Tenggara.

Saya pribadi percaya bahwa Bahasa Indonesia memiliki potensi dan bisa berkembang sebagai bahasa ilmu pengetahuan. Faktanya, Bahasa Indonesia sudah menjadi bahasa pengantar dalam dunia pendidikan di seluruh Indonesia. Ia menjadi bahasa pengajaran bagi para siswa kita, mulai dari tingkatan TK, SD, SMP, SMA, sampai perguruan tinggi.

Kita harus percaya diri pada kekayaan budaya kita, di mana bahasa menjadi salah satu unsur pengtingnya. Kita tak perlu segan melihat pada pengalaman bangsa-bangsa Asia Timur, seperti Jepang, China, dan Korea Selatan, yang bisa maju dan berperan di dunia tanpa meninggalkan budayanya, dan dalam hal ini bahasanya.

Hal ini bukan berarti saya mengajarkan patriotisme atau nasionalisme sempit. Tetapi, saya justru mau menunjukkan bahwa kemajuan suatu bangsa itu terjadi justru jika ia berangkat dari penghargaan, apresiasi, dan rasa hormat terhadap kekayaan budayanya sendiri. Tentu, suatu kebudayaan akan maju jika bersikap terbuka terhadap kebudayaan-kebudayaan lain, tidak menutup diri. Namun interaksi dengan kebudayaan lain itu harus berangkat dari jatidirinya sendiri. Jadi, bukan seperti orang yang membuang jauh-jauh kekayaan budayaannya, demi menyerap budaya luar yang dianggapnya “lebih agung” atau “lebih unggul.”

Kebudayaan dunia warisan dari peradaban Yunani kuno pun terselamatkan, karena para ilmuwan Islam menterjemahkan, mempelajari karya pemikiran para filsuf Yunani, membandingkan, mengulas secara kritis, dan memperkaya pemikiran itu dalam cahaya keislaman yang berasal dari Al-Quran dan hadist. Dengan semangat yang sama pula, generasi muda Indonesia perlu belajar bahasa Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, China, dan lain-lain, sebagai bagian dari pengembangan dan pemerkayaan bahasa dan kebudayaan nasional Indonesia.

Akhir kata, saya ucapkan selamat pada Fredy atas penerbitan buku karyanya ini. Saya percaya, ia akan terus menulis. Buku karyanya ini adalah buku pertama dan InsyaAllah tidak akan menjadi buku terakhir yang dihasilkannya.

Jakarta, 21 Agustus 2013

Satrio Arismunandar

*Mantan wartawan Kompas dan Trans TV, dosen Ilmu Komunikasi di Kwik Kian Gie School of Business.



Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI