Celana Melorot di Kereta Commuter Bogor - Jakarta

Seusai libur dan cuti bersama Idul Fitri, kereta Commuter Line Bogor-Jakarta sudah penuh sesak kembali dengan penumpang. Setiap pagi, kapasitas kereta Commuter yang tersedia memang tampaknya pas-pasan, sehingga berjejalannya penumpang tak terhindarkan. Ada berbagai pengalaman lucu yang kualami ketika naik kereta ini.

Pernah suatu saat, dalam perjalanan dari stasiun Depok Baru ke Cawang, di dalam gerbong yang penuh sesak itu ada suara laki-laki (tampaknya seorang bapak): “Wah, celana saya melorot!” Ucapan itu cukup keras, tetapi aku tidak melihat siapa yang bicara karena situasi gerbong yang padat. Entah, apa maksud ucapan itu. Apakah sekadar spontanitas tak sadar, atau mau minta tolong penumpang lain di kiri-kanannya untuk membantu memegangi celana yang melorot itu, atau entah apa lagi.

Dalam pengalaman lain, aku pernah juga mendengar ada suara perempuan yang cukup keras: “Aduh, pantat saya!” Juga tidak jelas, apa yang terjadi dengan bokong itu. Apakah bokongnya terhimpit di kursi, atau ada penumpang “nakal” yang mencolek, menggerayangi, atau apa lagi. Ucapan perempuan yang tak jelas identitasnya itu mungkin spontan, karena hal-hal semacam ini ‘kan menurutku cukup membikin jengah.

Kasus lain, ada laki-laki yang menerima panggilan telepon dan lalu berbicara keras lewat ponsel, sehingga terdengar oleh semua penumpang dalam gerbong. Dia marah-marah pada teman bicaranya di ponsel: “Aaah, kenapa sih tender cuma Rp 15 juta saja kok sampai menuntut mau melihat kantor kita segala! Kita kan udah biasa main omzet sampai Rp 25 juta. Norak banget sih! Bilang sama dia begitu…”

Saya melihat beberapa penumpang lain di dalam gerbong senyum-senyum mendengar pembicaraan itu. Saya juga tak tahan ikut senyum. Baru ikut tender Rp 15 juta saja sudah bicara teriak-teriak di dalam gerbong. Gimana coba kalau dia ikut tender Rp 15 miliar? Jangan-jangan dia akan teriak pakai speaker, biar terdengar oleh orang-orang di luar gerbong. Ada-ada saja. He..he..he….

Jakarta, 22 Agustus 2013

Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)