Sumbangan Perspektif Kristen dan Islam dalam Mengatasi Kekerasan (Terinspirasi Kasus Mesir)

Ini kejadian tahun 1990-an, ketika saya masih jadi wartawan desk luar negeri di Harian Kompas. Saya pernah bertanya kepada rekan saya, seorang wartawan Kompas yang sebelumnya sempat menjadi calon pastur, tetapi akhirnya batal, menikah, dan menjadi wartawan.

Saya bertanya mengenai ungkapan terkenal, yang konon diucapkan Yesus: "Jika pipimu yang kiri ditampar, berikanlah pipimu yang kanan." Ini bukan pertanyaan buat mengetes atau meremehkan, tetapi berangkat dari keingintahuan murni saya sebagai Muslim, yang saya pikir perlu memahami bagaimana pemikiran teman dari pemeluk agama lain tentang konsep kekerasan. Saya merasa, saat itu sulit menerima ungkapan tersebut, karena bagi saya "tidak make sense."

Teman saya dengan serius menjelaskan, tidak membalas tamparan dengan tamparan itu jangan dianggap sebagai sikap pasif, tetapi harus dipahami dalam konteks "menghentikan siklus kekerasan." Kalau tamparan berbalas tamparan, akan terus menerus terjadi tampar-menampar, tidak ada habis-habisnya. Maka dunia menjadi penuh kekerasan, yang berbalas kekerasan.

Nah, saya ingat percakapan ini justru ketika ada momen kekerasan yang sangat berdarah di Mesir belakangan ini. Kali ini mayoritas melibatkan sesama Islam sendiri, baik di kubu yang anti-kudeta militer maupun yang anti-Ikhwanul Muslimin. Bagaimana pandangan Islam tentang kekerasan?

Jawabannya saya ingat dari pembukaan film "the Message" (1977) versi bahasa Inggris karya sutradara asal Suriah, Moustapha Akkad, yang memang dibuat untuk publik Barat. Film ini dibintangi oleh Anthony Quinn, yang berperan sebagai Hamzah, paman Nabi Muhammad SAW, dan menceritakan sejarah dan kehidupan Nabi Muhammad SAW serta kisah awal lahirnya Islam di tanah Arab.

Konsep Islam tentang kekerasan menurut versi film itu adalah "jangan menindas, dan jangan biarkan dirimu ditindas." Atau kalau mau menggunakan analogi soal tamparan adalah: "jangan menampar, dan jangan biarkan dirimu ditampar."

Tulisan ini tidak bermaksud mengatakan konsep Islam terhadap kekerasan adalah lebih baik, atau konsep Kristen yang lebih baik. Saya cuma memaparkan beberapa pandangan, sekadar untuk memperkuat saling pemahaman. Bukan tidak mungkin, konsep Kristen dan konsep Islam tentang kekerasan itu bersifat komplementer, atau dua sisi dari esensi yang sama. Entahlah, saya pikir banyak ulama atau rohaniwan yang bisa menelaahnya lebih jauh.

Yang penting bagi kita adalah aspek praktisnya, yakni bagaimana berbagai perspektif tentang kekerasan ini bisa dimanfaatkan untuk menghentikan siklus kekerasan di Mesir (dan di mana saja, termasuk di Indonesia tentunya).

Jakarta, 19 Agustus 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)