Berbagai Teori tentang Penembakan Polisi di Depan Gedung KPK

90 Persen uraian di bawah dicopas dari status rekan wartawan Hanibal Wijayanta:

Mari Menyusun Puzzle:
Fakta di Lapangan


- Selasa malam, pukul 22.15 WIB.
- Jalan HR Rasuna Said, di depan Kantor Komisi Pemberantasan Korupsi
- Saksi mata melihat seorang polisi –belakangan diketahui bernama Sukardi, pangkat Brigadir Kepala, bertugas sebagai Provost Polairud— mengendarai Honda Supra 125 R warna hitam bergaris merah bernomor polisi B 6671 TXL melintas di jalur lambat Jalan HR Rasuna Said, tepat di depan Gedung KPK.
- Saksi mata melihat Sukardi mengendarai motornya di depan iring-iringan enam kontainer pengangkut kayu dan besi komponen lift di jalur lambat arah Mampang Prapatan.
- Saksi mata melihat, dari sisi kanan jalur lambat, satu motor Honda Supra dengan seorang pengendara berbaju merah melintas dan kemudian berhenti di depan Gedung KPK.
- Saksi mata melihat, dari belakang iring-iringan truk, dua motor bebek lagi menyalip. Satu motor berboncengan, satu lainnya dikendarai seorang diri.
- Kemudian, saksi mata juga melihat, ketika motor bebek yang berboncengan itu menyalip, si pembonceng menembakkan peluru ke arah Sukardi dua kali.
- Saksi mata melihat Sukardi terjatuh, tapi masih bernapas dan menggerakkan anggota tubuhnya, dengan posisi telentang, darah mengucur dari tengah dada dan perutnya.
- Saksi mata melihat, enam mobil kontainer langsung berhenti. Para pengemudi kontainer tak berani turun dan melihat keadaan Sukardi.
- Saksi mata melihat, pengendara motor pertama yang berhenti di depan Gedung KPK dan memakai baju merah turun dari motor dengan santai, kemudian menghampiri Sukardi dan menembakkan senjatanya ke dadanya dari jarak dekat.
- Saksi mata melihat pengendara motor ini lalu mengambil pistol Sukardi, kembali ke motor dan kemudian mengendarai motornya meninggalkan lokasi bersama dua motor lainnya menuju arah Mampang.
- Belakangan polisi menjelaskan bahwa saat itu Sukardi sedang mengawal enam container berisi komponen lift.

Pertanyaan:
- Mengapa polisi itu mengawal rombongan truk itu sendirian?
- Mengapa kali ini provost yang mengawal? Bukankah biasanya Brimob, atau Angkatan Laut?
- Mengapa orang yang diduga pelaku berani turun dengan sikap tidak tergesa, dan mengambil pistol polisi itu?

Analisis:
- Kadiv Humas Polri Irjen Ronie Sompie menduga penembakan ini terkait penembakan sebelumnya
- Kepala BNPT Ansyaad Mbai langsung menuding pelakunya teroris.
- Kriminolog Universitas Indonesia Mulyana W Kusumah meminta polisi menganalisis dan mengevaluasi secara lebih terbuka pada semua kemungkinan, tidak terfokus secara kaku pada kelompok-kelompok dalam jaringan terorisme.
- Wakapolri Komjen Oegroseno meminta jangan langsung menduga-duga dan memastikan pelakunya sebelum penyelidikan tuntas.
- Anggota Indonesian Police Watch Neta S Pane menduga polisi itu ditembak karena persaingan bisnis pengawalan.
- Seorang perwira tinggi polisi membenarkan, bahwa penembakan ini diduga terkait dengan persaingan bisnis pengawalan.
- Ada dugaan lain?

Apa komentar anda?
============================

Teori saya sendiri yang belum tentu benar(Satrio):


Apakah penembakan dengan pemilihan lokasi di depan Gedung KPK itu "kebetulan", atau memang sudah dirancang dengan sengaja untuk MEMBERI PESAN TERTENTU PADA KPK? Saya kok kurang percaya dengan teori "kebetulan."

Langkah KPK akhir-akhir ini yang mulai merambah korupsi di sektor migas, melibatkan uang trilyunan, mulai mengganggu kepentingan pihak-pihak tertentu, yang selama ini menikmati trilyunan uang minyak! Apakah penembakan ini memang tidak ada kaitannya?

Memang yang ditembak mati bukan staf KPK, karena kalau staf KPK kan terlalu jelas target motifnya. Bisa counter-produktif, rakyat akan berbondong-bondong membela KPK untuk membuka korupsi besar-besaran di sektor migas)

Jakarta, September 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI