Hubungan Unik Petugas Intelijen dan Aktivis Era 1990-an (Pengalaman Waktu Masih Jadi Pengurus DPP SBSI)

Sebagai aktivis lama yang pada era rezim Soeharto 1990-an menjadi salah satu pengurus di DPP SBSI (Serikat Buruh Sejahtera Indonesia), saya punya kenangan tentang interaksi aktivis dengan petugas intel. Waktu itu saya berstatus wartawan/buruh Harian Kompas yang di SBSI menangani buruh Sektor Pers, Penerangan dan Grafika bersama teman saya En Jacob Ereste dan Dhia Prekasha Yoedha.

Ada petugas intel militer, sebut saja namanya L, yang sering datang ke sekretariat DPP SBSI di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Berbeda dengan gambaran petugas intel ala film-film Hollywood, intel Indonesia terang-terangan mengaku intel. Kalau datang ke kantor SBSI, L suka memakai baju safari. Tampaknya dia bukan petugas level bawahan, tetapi juga belum level sangat tinggi.

Kalau kami pengurus SBSI sedang rapat, dia suka nongkrong di beranda kantor SBSI meski tidak terang-terangan menguping (dia tidak mau terlalu norak dalam mencari informasi). Jadi hubungan kami para aktivis dengan intel sudah seperti "tahu sama tahu." Saya tidak bisa mengusirnya, walau tahu tugasnya adalah mengumpulkan informasi tentang aktivitas SBSI.

Sedangkan kami sendiri di SBSI tidak merasa harus menyembunyikan apa-apa, karena bagi kami gerakan buruh adalah gerakan yang terbuka dan sah. SBSI bukan organisasi rahasia. Tidak ada agenda aneh-aneh untuk makar atau menggulingkan kekuasaan, meski benar bahwa massa buruh bisa saja menjadi salah satu basis dukungan politik. Di sisi lain, kehadiran gerakan buruh atau LSM yang dianggap anti-pemerintah, juga menjadi semacam kebutuhan juga bagi petugas intel untuk alasan eksistensinya sendiri.

SBSI pimpinan Dr. Muchtar Pakpahan waktu itu dianggap organisasi "ilegal" karena yang direstui pemerintah hanyalah SPSI (serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Sama dengan di dunia wartawan, organisasi profesi jurnalis yang diakui legal oleh pemerintah Soeharto adalah PWI (Persatuan Wartawan Indonesia), sedangkan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) dianggap ilegal.

Kalau SBSI sedang sepi kegiatan, petugas intel L ini bilang: "Kalian kok nggak bikin apa-apa? Bikin dong aksi apa begitu... Demonstrasi atau apalah..." Singkatnya, kalau SBSI tidak bikin aksi, petugas intel ini juga tidak bisa kasih laporan apa-apa ke atasannya, jadi merasa tidak berguna.

Kadang-kadang dia memberi info, entah akurat atau disinformasi atau bagian dari penggalangan: "Nih, aku kasih tahu info terbaru tentang jenderal...Dia lagi bikin proyek ini....." Uniknya, kalau kami para aktivis sedang kehabisan uang, petugas intel ini tak segan-segan merogoh kantongnya. "Nih uang, buat beli beli gorengan, untuk acara rapat kalian!" katanya.

Entah, di mana petugas intel L ini sekarang. Sejak berhentinya Soeharto 1998 dan masuk era reformasi, saya tidak pernah bertemu dengannya lagi. Mungkin dia sudah naik pangkat di jajaran intelijen, atau sudah pensiun. Entahnya.

Jakarta, 3 September 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)