Joke Wartawan - "Ekonomi Kata" Menurut Jurnalis Kompas, Tempo, detik.com, dan TVOne

Dalam menulis naskah berita, para jurnalis selalu ditekankan untuk menerapkan prinsip “ekonomi kata,” karena keterbatasan ruang di media cetak dan keterbatasan durasi di media elektronik. Pengertian “ekonomi kata” adalah bahasa jurnalistik itu harus komunikatif, sederhana, dan mudah dipahami. Untuk itu, bahasa jurnalistik lebih disukai bersifat lugas, langsung, padat, tidak bertele-tele. Ini adalah kisah empat jurnalis yang menerapkan prinsip “ekonomi kata” tersebut.

Alkisah ada seorang nelayan sedang berjualan ikan di sebuah pasar di Marunda, Jakarta Utara. Lapak ikannya kecil saja, dan di atas lapak itu ada papan dengan tulisan besar berbunyi: IKAN SEGAR DIJUAL DI SINI.

Saat itu kebetulan lewat seorang jurnalis dari Harian Kompas. Melihat tulisan di papan itu, dia menghampiri si penjual ikan. Dia menegur dengan sopan: “Pak, dari segi bahasa jurnalistik, tulisan di papan itu terlalu bertele-tele. Buat apa bapak tulis ikan SEGAR. Sudah jelas dong, tidak mungkin bapak menjual ikan busuk? Jadi usul saya, hapus saja kata SEGAR itu!”

Sadar bahwa yang mengusulkan itu adalah wartawan top dari koran terkemuka yang berpengaruh di tingkat nasional, si penjual ikan menurut saja. Kata SEGAR dia hapus, sehingga sekarang tulisan di papan itu berbunyi: IKAN DIJUAL DI SINI.

Kali ini lewat jurnalis dari Majalah Tempo. Melihat tulisan di papan itu, dia pun menghampiri si penjual ikan. Dia berkomentar: “Pak, dari segi kaidah bahasa, tulisan di papan itu bisa dibikin lebih ringkas. Buat apa bapak tulis dijual DI SINI? Kan semua orang juga tahu, lapak bapak ini lokasinya ya di DI SINI. Bukan di Surabaya atau di Makassar kan? Jadi sebaiknya, hapus saja kata DI SINI itu!”

Si penjual sadar, yang memberi usulan ini adalah wartawan dari majalah berita mingguan nasional, yang gaya bahasanya renyah dan enak dibaca a’la jurnalisme sastrawi. Usulan si wartawan pasti benar. Maka dengan patuh, si penjual ikan menghapus kata DI SINI, sehingga tulisan di papan menjadi berbunyi: IKAN DIJUAL.

Kali ini giliran jurnalis dari media online detik.com yang lewat di situ. Melihat tulisan di papan itu, dia pun mendatangi si penjual ikan. Dia berkata: “Pak, secara prinsip ekonomi kata, tulisan di papan itu berlebihan. Buat apa bapak menulis ikan DIJUAL. Kan semua orang tahu, bapak ini pedagang. Jelas ikan-ikan itu DIJUAL dong, bukan dibagikan gratis. Kalau semua dibagikan gratis, nafkah buat keluarga bapak dapat dari mana? Jadi coret saja kata DIJUAL itu!”

Tahu bahwa dirinya berhadapan dengan wartawan dari media online ternama, si penjual ikan tidak berani membantah. Usulan si wartawan itu dianggapnya masuk akal. Maka si penjual menghapus kata DIJUAL, sehingga tulisan di papan menjadi berbunyi: IKAN.

Terakhir, datanglah jurnalis dari TVONE yang sering meliput kasus terorisme. Wartawan ini konon punya naluri dan penciuman yang tajam, sehingga berkat nalurinya dan daya ciumnya itu dia bisa menganalisis, apakah ada teroris bersembunyi di daerah tertentu atau tidak.

Melihat tulisan di papan itu, dia bergegas mendatangi si penjual ikan. Dia berkata tanpa banyak basa-basi: “Pak, buat apa bapak menulis kata IKAN di papan itu? Dari jarak seratus meter saja, saya belum melihat apa yang bapak jual, tapi saya sudah bisa mencium bau amis ikan. Sambil menutup mata saja, saya sudah tahu bapak ini berjualan ikan. Jadi menurut saya, hapus saja tulisan IKAN itu!” ***

Jakarta, 16 September 2013

Satrio Arismunandar.

(Joke ini diilhami dari buku Block, Mervin. 1987. Writing Broadcast News - Shorter, Sharper, Stronger. Chicago: Bonus Books, Inc.)

Comments

Haha . . akhirnya jadi ga pake papan iklan

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)