Kapal Islam Sedang Tenggelam di Timur Tengah, tetapi Penumpang Sesama Muslim Malah Sibuk Bunuh-bunuhan

Saya prihatin dengan debat-debat soal politik Timur Tengah di forum facebook ini. Banyak betul kalangan yang berapi-api dalam membela dan mendukung kubu yang didukungnya. Umumnya pandangan mereka terjebak pada kepentingan terbatas dalam lingkup aliran, madzhab, sekte, kubu politik tertentu, sehingga tidak melihat peta besarnya.

Ini terlihat ketika membahas konflik di Mesir, Suriah, Libya, Palestina, dan sebagainya. Miris melihat bagaimana orang yang sama-sama mengaku Islam, sama-sama mengaku Tuhannya Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW, sama-sama mengaku berpegang pada al-Quran dan hadist, gontok-gontokan, saling hujat, dan siap membunuh satu sama lain!

Cobalah belajar menempatkan diri sebagai orang luar, orang di luar konflik, dan Anda akan melihat betapa runyamnya dunia Islam sekarang. Banyak umat Islam di berbagai belahan dunia masih bodoh, miskin, terbelakang, kelaparan. Benahi hal-hal seperti itu jika Anda sebagai umat Islam ingin dihormati umat lain.

Saya malah melihat umat Islam di Timur Tengah seperti orang di atas kapal yang sedang tenggelam. Yang ironis, ketika kapal sedang tenggelam, penumpang yang Sunni sibuk perang lawan Syiah dan sebaliknya. Padahal kalau kapal sudah betul-betul nyungsep ke dasar laut, siapapun penumpangnya akan sama-sama mati.

Saya justru mencoba melihat dari sekoci di luar kapal, dan tidak ingin konyol terjebak dalam kapal yang mau karam tersebut. Lebih baik saya cari pulau bersama penumpang-penumpang lain yang "masih waras" untuk hidup bersama, memulai dari awal lagi, dan meluruskan perbedaan-perbedaan yang seharusnya bisa dibicarakan secara damai.

Jangan berpikir untuk menyeragamkan umat Islam, karena sampai kiamat akan selalu ada perbedaan pandangan antara satu orang dengan orang lain. Sudah takdirnya manusia itu begitu (ini bukan cuma terjadi di kalangan umat Islam, tetapi juga di kalangan Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, Konghucu, Yahudi, bahkan yang atheis sekalipun). Yang penting, bagaimana mengatasi perbedaan ini sedapat mungkin tanpa kekerasan yang tak perlu.

Tetapi kalau Anda lebih senang bunuh-bunuhan di atas kapal yang mau karam, silahkan saja. Saya tidak mau ikut-ikutan konyol.

Jakarta, 27 Agustus 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)