Kenangan Saya tentang Prof. Dr. Juwono Sudarsono

Sebagai wartawan, saya punya kenangan unik dengan pakar politik internasional dan mantan Menteri Pertahanan Prof. Dr. Juwono Sudarsono. Saya adalah lulusan Elektro FTUI pada 1989, yang lalu menjadi wartawan politik luar negeri Harian Kompas (saya bekerja di Harian Kompas pada 1988-1995, dan sebelum lulus dari FTUI tahun 1989 sudah jadi wartawan di Harian Pelita pada 1986-1988).

Waktu itu (tahun 1990-an), sebagai wartawan Kompas saya banyak meliput konflik di Timur Tengah (Palestina, Israel, Irak, Iran, Mesir, Yordania, dsb). Nah, berkat sering meliput kawasan Timur Tengah itulah, saya pernah diminta jadi dosen tamu di Jurusan Hubungan Internasional FISIP UI, yang waktu itu kalau tak salah Prof. Dr. Juwono Sudarsono menjadi Dekan FISIP UI (Kepala Jurusan HI seingat saya adalah Hero U. Kuntjoro-Jakti).

Ketika saya sedang mengajar di kelas (saya merasa excited, kok insinyur elektro bisa mengajar di jurusan Hubungan Internasional FISIP UI), Pak Juwono hadir di kelas dan mengamati saya mengajar. Dia tidak berkomentar apa-apa, cuma senyum-senyum saja.

Waktu pulang ke kantor Kompas sehabis mengajar, saya ditanyai oleh boss saya langsung, Budiarto Shambazy, yang juga dosen FISIP UI dan saat itu Redaktur Desk Luar Negeri Kompas. Saya bercerita soal Pak Juwono yang hadir di kelas dan cuma senyum saja, tidak berkomentar tentang cara atau materi yang saya sampaikan di kelas.

"Wah, itu pertanda yang lumayan baik. Karena beliau itu kan orangnya kritis. Beliau pasti tidak mau mahasiswa HI FISIP dikasih materi yang nggak jelas juntrungannya," ujar Budiarto Shambazy. Itulah kira-kira komentarnya.

Sampai saat ini, kejadian mengajar di HI dengan "diawasi" Prof. Juwono itu selalu saya ingat. Malah saya masih menyimpan Surat Pernyataan Terima Kasih dari Jurusan HI FISIP UI atas kesediaan saya menjadi dosen tamu.

Prof. Juwono, sebagai pakar politik internasional, mantan Dubes RI di London, mantan Menteri Pertahanan, Mantan Mendikbud, dan mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup, selalu saya ingat sebagai nara sumber yang paling enak diwawancarai oleh wartawan. Kenapa?

Pertama, karena dia sangat sabar menjelaskan hal-hal yang tidak dipahami oleh wartawan yunior. Ia menerangkan seperti dosen mengajarkan ilmu pada mahasiswanya. Wartawan yunior tidak perlu merasa diperlakukan sebagai tolol di depan Juwono dan tidak perlu juga berlagak sok tahu di depannya.

Kedua, nah ini yang istimewa, penjelasan Juwono sebagai narasumber sangat teratur dan runtun. Struktur uraiannya sangat cocok dan pas dengan alur penulisan naskah berita sehingga bisa dibilang, wartawan tidak perlu repot memikirkan alur beritanya. Kutip saja uraian Juwono sesuai aslinya, dan sudah bagus formatnya untuk naskah berita!

Saya selama hampir 25 tahun menjadi wartawan, belum pernah bertemu nara sumber lain yang begitu pas alur penuturannya dengan format berita seperti Juwono Sudarsono. Semoga beliau selalu dalam keadaan sehat sejahtera!

Jakarta, 17 Sept 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)