Manual Perang Gerilya Kota Beredar di Internet (Aksi Disinformasi?)

Berita dari media online: Sebuah buku elektronik berjudul "Panduan Pelaksanaan Perang Gerilya di Perkotaan" beredar di Internet sejak dua tahun lalu. Pada Selasa, 17 September 2013, sudah lebih dari 1.000 orang mengunduh dokumen itu. Dokumen itu sendiri diunggah oleh seseorang dengan akun Syarif Ramzan Saluev pada 11 April 2011. Tebalnya lebih dari 100 halaman.

Isi buku elektronik yang setiap halamannya bertuliskan kata-kata "Forum Islam al-Busyro" ini penuh dengan anjuran untuk melakukan serangan terhadap obyek vital pemerintah di perkotaan. Selain itu, ada banyak dalil dan ayat Al-Quran yang dikutip untuk memberikan pembenaran pada rencana dan aksi teror mereka.

Tak lupa diselipkan berbagai tips praktis dan strategi untuk menghindari pengejaran polisi. Pada satu bagian misalnya, para teroris diminta membuat safe house atau rumah persembunyian di tengah kota untuk memudahkan mereka menghilangkan jejak. Di bagian akhir buku itu, dilampirkan bagan teknik pembuatan bom. Bahan apa saja yang dibutuhkan dan petunjuk teknis perakitannya digambarkan dengan mendetail.

Modus operandi teror gerilya kota ini diduga ada di balik penyerangan terhadap sejumlah petugas polisi, dua bulan belakangan ini. Pekan lalu, Bripka Sukardi, anggota polisi dari Provost Mabes Polri, ditembak mati di depan gedung KPK, Kuningan. Juru bicara Mabes Polri belum bisa dimintai konfirmasi soal peredaran dan isi buku manual teror dalam kota ini.

Komentar saya:

Betulkah ini manual yang disebarkan oleh "teroris Islam" terkait dengan penembakan anggota polisi di depan gedung KPK beberapa hari lalu? Saya kok melihatnya sebagai sebentuk disinformasi dan pengalihan perhatian, karena orang sekarang tidak mudah menelan teori, bahwa segala sesuatu itu terkait dengan "terorisme."

Saya sejak awal merasa, pelaku penembakan ini sangat profesional dan terlatih menggunakan senjata. Bukan tipe "teroris kacangan" yang baru belajar bikin "bom murah-meriah" seperti Amrozi.

Kedua, pemilihan lokasi penembakan di depan gedung KPK itu terkesan adalah by design, bukan kebetulan. Tujuannya adalah warning pada KPK, yang sekarang mulai merambah kasus-kasus korupsi trilyunan rupiah yang sudah lama terjadi sektor migas, dan ini juga banyak terkait dengan kepentingan para elite penguasa.

Manual "perang gerilya kota" ini muncul di internet, seolah-olah untuk menegaskan bahwa pelaku penembakan terhadap polisi akhir-akhir ini adalah "teroris Islam," sasaran yang paling gampang dituding karena tak bisa membela diri.

Jakarta, 18 September 2013
Satrio Arismunandar

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)