Repotnya Jadi Penulis Karya Fiksi (Diharapkan Oleh Istri Agar Jadi Suami Romantis)

Sewaktu masih mahasiswa di FTUI jurusan Elektro (1980-1989), aku termasuk penulis cerpen yang lumayan produktif di Majalah Anita Cemerlang, dan juga sejumlah majalah remaja lain. Bisa dibilang, aku membayar uang kuliah dengan honor dari menulis cerpen-cerpen itu.

Terus terang, cerpen-cerpenku yang sudah dimuat itu juga menjadi sarana untuk "pendekatan" pada cewek-cewek manis yang jadi incaran (meski taktik ini sejauh ini kurang memberi hasil nyata untukku). Biasanya cerpen-cerpenku yang kuanggap terbaik aku fotocopy, terus fotocopy-nya kuserahkan ke cewek bersangkutan (sebagai sarana promosi diri. Biasalah!)

Salah satu pembaca cerpenku waktu itu adalah seorang mahasiswi IKIP Jakarta, yang jadi istriku sekarang (beda usia kami hampir 13 tahun). Nah, persoalannya karena tokoh-tokoh cerpenku umumnya romantis, ini menimbulkan ekspektasi atau harapan yang mungkin tidak sesuai dari pihak istri terhadap kondisi real-ku sendiri.

"Kamu kok tidak romantis sih? Tidak seperti tokoh-tokoh dalam cerpen kamu?" tanya istriku, sesudah sekian tahun kami menikah. Jawabku: "Itu kan karya fiksi. Kalau aku yang sekarang di depan kamu ini real, non-fiksi. Pilih mana? Pilih yang romantis tetapi fiksi, atau yang tidak romantis tetapi non-fiksi?"

Jakarta, 6 September 2013
Satrio Arismunandar.

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)