Tujuh Tahun Lagi "Kiamat Iklim" Melanda Indonesia

Oleh Satrio Arismunandar

Perubahan iklim radikal akan melanda dunia dengan dampak kerusakan yang meluas. Bagi wilayah Indonesia, menurut hasil studi ilmiah, perubahan malah akan terjadi lebih cepat dibandingkan di negara lain: Untuk Jakarta pada 2029 dan Manokwari, Papua, pada 2020.

Walaupun sudah diperingatkan dengan serius, manusia sering menganggap remeh ancaman bencana. Hal ini karena mereka memang tidak bisa melihatnya secara langsung, ketika itu belum terjadi. Sampai akhirnya, semua persiapan sudah terlambat dan bencana hadir di depan mata. Itulah yang menimpa umat Nabi Nuh, dan juga bisa menimpa warga Indonesia jika berleha-leha.

Sebuah studi baru yang diterbitkan di jurnal ilmiah terhormat Nature, Oktober 2013, menyatakan, dunia umumnya akan mengalami perubahan iklim yang radikal sekitar tahun 2047. Dampak kerusakan dan penderitaan manusia akibat perubahan iklim itu belum terbayangkan. Menurut studi Mora –dinamai berdasarkan nama peneliti pertamanya, Dr. Camilo Mora—wilayah Indonesia tidak akan lolos dari dampak perubahan dahsyat tersebut. Dampaknya dimulai dari Manokwari, Papua pada 2020, dan berlanjut sampai ke Jakarta pada 2029.

Studi Mora yang cukup menghebohkan –namun justru kurang bergema di Indonesia-- ini merinci metode baru, dalam memprediksi tanggal spesifik terjadinya perubahan iklim, untuk berbagai kota dan wilayah di planet ini. Implikasi studi ini bagi Indonesia terasa nyata dan sangat dekat waktunya. Tinggal tersisa tujuh tahun lagi bagi Indonesia untuk bersiap menyambutnya.

Perubahan iklim radikal itu akan berupa peristiwa-peristiwa acak, seperti banjir yang meningkat dan kondisi kekeringan yang berkepanjangan. Perubahan iklim seperti ini dari waktu ke waktu telah menimbulkan kerusakan ekonomi dan lingkungan di wilayah Indonesia, serta menimbulkan derita bagi rakyatnya. Karena sudah beberapa kali terjadi, ketidaknormalan itu kini seolah-olah sudah dianggap sebagai hal yang “normal.”

Dampak yang parah dan harus dicermati adalah rusaknya sektor pertanian. Produksi beras akan turun 10 persen, untuk setiap kenaikan satu derajat Celcius pada suhu minimum rata-rata. Dengan kata lain, Indonesia akan segera mengalami perubahan kondisi iklim. Yakni, dari gangguan iklim periodik menjadi perubahan iklim yang permanen dan tak bisa diubah lagi.

Suhu yang meningkat

Studi Mora bagaimanapun hanya menyebut satu indikator: suhu yang meningkat. Studi ini mengakui, faktor-faktor sosial dan ekonomi tambahan dapat menghasilkan tekanan-tekanan lebih jauh yang tak terduga. Hasil studi ini praktis telah mengangkat situasi Indonesia ke tingkat kedaruratan yang lebih tinggi, dalam kaitan persiapan menghadapi perubahan iklim drastis.

Meskipun secara umum dibingkai sebagai isu lingkungan, ancaman perubahan iklim bagi Indonesia harus dipandang sebagai tantangan multidimensi. Hal ini karena ia memberi dampak ekonomi, sosial, dan strategis, yang bersifat segera dan berjangka panjang.
Dalam bidang ekonomi, misalnya, akan ada dampak serius di tingkat lokal, rumah tangga, dan individu. Menurut angka Bank Dunia, pada 2011 ada 43 persen penduduk Indonesia –atau lebih dari 100 juta orang—yang hidup dengan pendapatan kurang dari 2 dollar AS atau Rp 20.000 per hari. Mereka akan menjadi kelompok rentan, yang paling menderita akibat perubahan iklim drastis.

Riset empiris berbasis model menunjukkan, perubahan iklim sudah mempengaruhi pola turunnya hujan di Indonesia, mengurangi lamanya musim hujan di berbagai tempat, dan mengkonsentrasikan curah hujan pada periode waktu yang lebih singkat. Hal ini memberi dampak berlipat ganda, berupa meningkatnya ketidakpastian dalam penentuan musim tanam dan panen. Pada saat yang sama, ia meningkatkan risiko banjir dan gangguan-gangguan terkait cuaca lainnya.

Perubahan iklim juga akan menghantam sektor perikanan dan kelautan di seluruh dunia. Perikanan di Indonesia akan menjadi salah satu yang paling menderita. Sebuah studi lain pada 2010 memperkirakan, hasil tangkapan ikan dapat berkurang sebesar 40 persen di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia. Walau bisnis yang berskala besar pasti akan merugi, perubahan iklim ini akan membebankan penderitaan tertinggi pada rakyat yang paling lemah kapasitasnya dalam menghadapi bencana.

Mereka adalah puluhan juta warga, yang mengandalkan nafkah hidupnya dari laut dan darat. Bukan hanya kapasitas produktif mereka berada dalam bahaya, namun daya beli mereka juga merosot akibat harga-harga yang melonjak. Penurunan daya beli ini mengancam membatalkan langkah-langkah mengesankan, yang telah diambil Indonesia dalam upaya mengentaskan kemiskinan.

Mengandalkan komoditi primer

Di tingkat nasional, ekonomi akan sangat menderita, sebagai akibat dinamika berbagai hal yang sudah disebutkan tadi, Ditambah lagi, ekonomi Indonesia masih mengandalkan pada aktivitas-aktivitas sektor primer. Produk domestik bruto (PDB) akan menurun sedikit akibat kemerosotan sektor pertanian.

Ketidakpastian yang terkait perubahan iklim juga akan mengganggu komoditi primer seperti minyak sawit. Ini justru terjadi ketika Indonesia ingin mendorong pertumbuhan produksinya. Penilaian dampak secara lebih akurat masih sulit dilakukan, karena produksi pertanian adalah hasil interaksi yang rumit dari sistem biologi, fisika, dan kimia. Sistem-sistem ini bereaksi terhadap perubahan iklim dengan cara yang berbeda-beda.

Meningkatnya permukaan air laut adalah hal penting lain yang harus diperhitungkan. Diperkirakan, sampai 25 persen dari PDB kita berasal dari aktivitas-aktivitas yang berlokasi pada atau di dekat garis pantai Indonesia, yang panjangnya mencapai 81.000 km. Perembesan air asin, aktivitas badai yang lebih banyak, dan dampak-dampak lain, akan mengganggu banyak aktivitas dekat pantai.

Yang memprihatinkan, menurut hasil studi tersebut, Indonesia akan mengalami dampak merugikan itu jauh lebih dahulu dibandingkan negara-negara lain, termasuk negara-negara tetangga di Asia Tenggara (ASEAN). Sebagai contoh, studi Mora memperkirakan, ibukota Thailand, Bangkok, baru akan mengalami perubahan iklim pada 2046. Padahal Jakarta sudah mengalaminya pada 2029, atau 17 tahun lebih cepat. Artinya, Negara-negara tetangga dan para pesaing regional akan memiliki “kemewahan” yang tidak akan dinikmati Indonesia. Yaitu, mereka punya cadangan waktu untuk merumuskan strategi, penyesuaian diri, dan langkah tindakan, dalam menghadapi perubahan iklim drastis.

Dengan kata lain, seluruh isu ekonomi yang sudah diuraikan tersebut akan memiliki arti penting strategis, apabila dipertimbangkan dalam konteks geopolitik regional dan global yang lebih luas. Para perencana militer dan intelijen di seluruh dunia sudah lama mengantisipasi bahwa perubahan iklim mungkin akan mempengaruhi keamanan dan stabilitas.

Tampaknya semua mereka sepakat bahwa perubahan iklim akan meningkatkan kemungkinan ketidakstabilan di dalam negeri, dengan terjadinya perubahan akses terhadap berbagai sumber nafkah penghidupan dan sumberdaya ekonomi vital. Ini bisa memicu dan memperburuk ketegangan sosial.

Hal inilah yang menjadi keprihatinan kunci bagi Indonesia, mengingat sebagian wilayahnya akan menjadi yang pertama mengalami perubahan iklim permanen. Itu pun masih ditambah dengan indikator pengembangan ekonomi dan sumberdaya manusia, yang masih tertinggal. Cepatnya kedatangan perubahan iklim ini juga mengancam sumberdaya keanekaragaman hayati, yang secara potensial sebetulnya bisa menjadi aset ekonomi signifikan bagi Indonesia di masa depan. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, November 2013

Kontak Satrio Arismunandar:
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI