Posts

Showing posts from January 24, 2013

Uji Kompetensi Jurnalis AJI di Malang, 26-27 Januari 2013

Image
InsyaAllah, Jumat siang (25 Januari 2013) saya akan berangkat ke Malang, untuk menjalankan tugas dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), yakni menjadi penguji dalam UKJ (Uji Kompetensi Jurnalis. Ini adalah UKJ kelima yang diselenggarakan AJI dan yang pertama diadakan pada 2013. Sekitar 36 jurnalis dari berbagai media (semuanya sudah jadi anggota AJI) akan mengikuti UKJ ini.

Yang menarik, juga akan ada kehadiran beberapa teman dari IJTI (Ikatan Jurnalis Televisi indonesia). Mereka hadir sebagai observer, jadi tidak ikut menguji dan juga tidak diuji. Bedanya IJTI dengan AJI: Kalau IJTI, jelas anggotanya hanya jurnalis media siar (TV). Sedangkan anggota AJI mencakup semua jenis media: cetak, elektronik (TV dan radio), online. Artinya, modul yang disiapkan jadi lebih kompleks.

Semoga UKJ Malang ini berjalan lancar. UKJ adalah salah satu program AJI untuk meningkatkan profesionalisme jurnalis Indonesia.

Satrio Arismunandar
081286299061

Serikat Pekerja Media, Kekerasan Simbolik, dan Prospek Masa Depan

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Perkembangan industri media dan teknologi informasi di Indonesia saat ini sangat pesat. Industri media kita sudah memasuki era konvergensi media dan digitalisasi. Meski demikian, tetaplah bahwa unsur terpenting dalam industri media adalah manusia, yaitu pekerja medianya. Pekerja di industri media dituntut memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi terhadap lingkungan, yang dinamis dan selalu berubah cepat.

Jika pekerja media mengabaikan atau tidak tanggap dengan tuntutan lingkungan, dinamika perubahan ini akan menggilas mereka. Agar pekerja media bisa bertahan menghadapi berbagai tantangan lingkungan, mereka harus kompak dan bersatu. Untuk itu, mereka membutuhkan wadah perjuangan bersama, yakni serikat pekerja media, atau untuk lebih spesifik lagi: serikat jurnalis.

Serikat jurnalis bukanlah sesuatu yang bersifat eksternal bagi kerja jurnalis, tetapi justru menjadi bagian penting dari kerja jurnalis itu sendiri. Serikat (union) secara sederhana bermakna “bers…

Ingin Jadi Presenter TV, Harus Mau Meliput Banjir

Image
Banyak gadis cantik ingin jadi presenter di TV, tetapi bayangan mereka tentang presenter adalah tampil cantik dan modis di acara talkshow, chit chat dengan selebritis, atau ngomongin gosip ringan.

Kalau ditanya, siapa presenter top yang dia sukai, biasanya yang disebut adalah presenter acara entertainment atau semacam itu. Mereka tidak menyebut, misalnya, Christiane Amanpour, yang meliput perang Bosnia untuk CNN.

Mereka juga tidak begitu siap, ketika dibilang bahwa sebelum tampil sebagai presenter di layar, mereka harus menjalani tugas lapangan sebagai reporter, meliput daerah kumuh, banjir, bencana alam, dsb. kerja-kerja "kasar" yang "tidak glamour."

Problem baru muncul, ketika presenter yang direkrut (yang bersedia merintis dari peran reporter "tidak glamour") muncul di layar. Sejumlah pimpinan media berkomentar ke redaksi: "Kok presenter di TV kita kurang cantik dibandingkan di TV-TV kompetitor? Cari dong yang lebih cantik. Pilih saja dari para…

Roy Suryo Jadi Menteri Berkat Jasa Wartawan

Image
Banyak wartawan dan media melecehkan Roy Suryo, yang dianggap tidak punya kompetensi jadi Menpora. Tetapi sebenarnya media dan wartawan lah yang membesarkan Roy. Jika bukan karena pemberitaan media yang mempopulerkannya, Roy tidak bakal jadi anggota DPR, dan akhirnya jadi menteri.

Dalam arti positif, Roy adalah orang yang pintar "menjual diri." (Oh, jangan alergi dengan istilah "menjual diri," karena bukankah kita kalau melamar pekerjaan juga membuat CV, yang memuji prestasi diri sendiri, agar diterima bekerja di kantor bersangkutan? Itu kan strategi marketing pribadi atau semacam "menjual diri?").

Roy Suryo sangat mudah diakses wartawan, selalu terbuka (dia pernah memberikan 5 nomor HP sekaligus ke wartawan, sehingga selalu bisa dikontak. Tidak ada ceritanya wartawan gagal minta komentar Roy. Coba cari, ada tidak politisi yang begitu membuka akses seperti Roy?).

Ada kalangan IT yang komplain, kenapa sih media selalu mewawancarai Roy sebagai "pak…