Posts

Showing posts from June 4, 2013

Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 5)

Image
TRANSISI

Anda sedang menulis feature dengan catatan panjang yang mencakup macam-macam fakta tentang pokok persoalan yang akan Anda tulis. Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabung dengan batu bata lain agar terbentuk bangunan cerita. Di antara sejumlah "batu bata" ada transisi -- "adukan semen" yang merekatkan batu bata-batu bata itu menjadi keseluruhan cerita.

Transisi bisa berwujud satu kata, rangkaian kata, kalimat, atau mungkin paragrap. Ia punya dua tugas.
1. Ia memberi tahu pembaca bahwa Anda pindah ke materi yang lain.
2. Ia meletakkan materi yang lain itu pada perspektif yang selayaknya.

Dalam penulisan berita, transisi mudah dilihat. Penulis memadu fakta-fakta menjadi pemaparan pendek-pendek yang satu sama lain direkatkan menjadi satu cerita.

Contohnya:
Para penjahat bertopeng yang mengacungkan senjata merampok bank 400 ribu dolar pagi ini.
Para bandit masuk pintu depan jam 09.15, memerintahkan langganan dan pegawai bank…

Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 4)

Image
MENULIS LEAD

Sekali reporter memilih lead dan memilih pendekatan dasarnya, ia menghadapi problem memilih kombinasi kata-kata.
Bagaimanapun imajinatif dan menariknya gagasannya untuk satu lead yang bagus, ia masih bisa tergelincir dalam merenggut perhatian pembaca bila kombinasi kata-katanya payah.

Misalnya:
* Setiap pagi, sekitar pukul 07.30, ketika matahari masih bersinar merah di Percut, sebuah kota pantai 22 kilometer dari Medan, Hotman Sinaga, 32 tahun, memulai pekerjaannya sebagai penyadap tuak. Ia kayuh sepedanya menuju kebun kelapa....(TEMPO, 11 Juni 1994, "Ketika Minuman Keras Melekat Bersama Tradisi").

Lead tersebut terlalu panjang, tapi untunglah susunan kata-katanya bagus. Ide yang sama bisa ditulis lebih jelek oleh reporter yang kurang mampu:
Pagi-pagi, lebih kurang pukul 07.30. pagi, ketika matahari terlihat bersinar merah di Percut, yakni sebuah kota pantai yang terletak lebih kurang 22 kilometer dari Medan, seorang penyadap tuak bernama Hotman Sinaga, 32 tahun,…

Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 3)

Image
Lead deskriptif.

Lead deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang suatu tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.
Lead yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya, dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.

Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya "hidup", seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.
Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.

* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar samasekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (TEMPO, 28 Agustus 1993, "Perompak yang Halus dan Ramah").
Untuk kebanyakan p…

Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 2)

Image
PENGEJAAN DAN PEMAKAIAN KATA

"Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila kau tidak bisa mengeja dengan tepat atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, kau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar."
Teguran ini dikatakan seorang editor yang marah karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran itu dan, sejak saat itu, memakai kamus secara serius.

Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah satu keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.
Tak banyak reporter yang bisa gampang ingat ejaan, memang. Tapi kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika diuber deadline.

Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan pada naskah-naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa…

Teknik Menulis Feature a'la Majalah Tempo (Bagian 1)

Image
(Pengantar:Artikel panjang ini ditulis oleh Redaktur Majalah Berita Mingguan Tempo. Saya tidak ingat persis, bagaimana file tulisan ini bisa ada di koleksi saya. Tetapi mungkin ini berasal dari ketika saya bekerja sebagai Redaktur Pelaksana di Majalah D&R, sekitar tahun 1998-1999. Waktu itu banyak wartawan eks-Tempo pasca pembreidelan 1994 yang bekerja di sana. Artikel Teknik Penulisan Feature ini saya muat di blog sebagai bahan belajar, dan sumbangsih buat dunia jurnalisme Indonesia. Karena tulisannya panjang, akan dibagi dalam beberapa bagian. Semoga para jurnalis senior Tempo yang menyusun tulisan ini juga mendapat pahala, karena berbagi ilmu penulisan. Amiiinnn…. Satrio Arismunandar)

****

Dalam menulis berita di surat kabar yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta, tapi dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature: "mengisahkan sebuah cerita".
Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan …

Harga Daging Sapi Mahal, Seharusnya Galakkan Makan Ikan

Image
Ketika harga daging sapi melangit, sampai Rp 90.000 - Rp 100.000 per kg (yang sebagian besar harus impor dari Australia atau Amerika), seharusnya pemerintah menggalakkan makan ikan. Kita kan ngakunya negara kelautan, tapi kok dukungan pada sektor kelautan sangat minim.

Nelayan susah melaut karena harga solar mahal (dan langka), dan tak punya perahu yang cukup besar untuk melawan kapal-kapal nelayan asing yang dengan leluasa mencuri ikan-ikan di perairan kita. Kenapa tidak mencontoh Jepang, yang masyarakatnya banyak mengkonsumsi produk kelautan, mulai dari ikan, udang, cumi-cumi, kerang, dan lain-lain.

Jakarta, 4 Juni 2013
Satrio Arismunandar

Penerapan Kartu Commet KRL Bikin Antrian Panjang di Stasiun Depok Baru

Image
Pagiku hari ini dimulai dengan sesuatu yang menjengkelkan. Ketika berangkat ke kantor dari Depok II, mau naik KRL Commuter dari Stasiun Depok Baru, ternyata di loket antriannya panjaaaang banget. Mungkin panjang antriannya lebih dari 60 meter!

Karena penggunaan kartu Commet yang elektrik itu (baru mulai dioperasikan awal Juni 2013), penanganan tiket elektrik untuk tiap calon penumpang lebih lama dari tiket kertas biasa. Calon penumpang pagi ini jumlahnya ada ratusan, sedangkan jumlah loket cuma 5 (total untuk yang kelas ekonomi dan commuter). Mana semua orang buru-buru mengejar waktu, maka situasi antri ini bikin hati kesal.

Aku sendiri dari stasiun Depok Baru harus turun di Stasiun Cawang, dan dari situ naik bus Patas 89 jurusan Blok M- Tanjung Priok. Jumlah bus P 89 ini cuma dua. Jadi, jika sampai Stasiun Cawang sudah pukul 7.30, aku bakal kehabisan bus dan harus cari kendaran pribadi omprengan (tarif Rp 5.000 - Rp 6.000).

Tapi ini bikin stres karena belum tentu mobil omprengan …

Perdebatan Pro-Kontra Jokowi Jadi Capres 2014

Image
Kontra: Saya nggak setuju Jokowi jadi Capres. Nanti nggak fokus. Selesaikan dulu masa jabatan sebagai Gubernur DKI Jakarta!
Pro: Berapa sih jumlah penduduk DKI Jakarta?
Kontra: Entah, berapa ya? 9 juta mungkin, atau 12 juta?

Pro: Tapi pasti di bawah 15 juta kan?
Kontra: Iya.. Saya rasa masih sekitar itulah...

Pro: Nah, berapa jumlah penduduk Indonesia?
Kontra: Sekitar 250 juta...

Pro: Mana yang lebih prioritas? Kepentingan 250 juta, atau kepentingan 15 juta orang?
Kontra: Kepentingan 250 juta orang dong...

Pro: Nah, kalau begitu jelas dong. Maslahat untuk 250 juta (di mana di dalamnya termasuk penduduk DKI yang 15 juta) harus didahulukan... Artinya, jika bangsa ini meminta, ya Jokowi harus memenuhi panggilan sejarah, menjadi capres 2014... Setuju?
Kontra: Eehh..gimana ya? Iya deh setuju saja...

Kiriman Aliansi Hacker Marhaen (AHM)

Jakarta, 4 Juni 2013
Satrio Arismunandar

Percakapan Tiga Anggota Intel tentang Jokowi (Hasil Sadapan CIA)

Image
Alkisah terjadi pertemuan antara tiga orang anggota intel RI di suatu tempat di Jakarta. Mereka adalah anggota Intel TNI, Intel Polri, dan Intel BIN. Pertemuan koordinasi bulanan semacam ini adalah hal rutin, dan yang jadi koordinator dan tuan rumah biasanya intel BIN.

Percakapan mereka ternyata disadap oleh intel CIA di Jakarta, namun hasil sadapan ini ketika dikirim ke Langley, Virginia (lokasi CIA Headquarter) bocor oleh seorang peretas (hacker) yang kebetulan anggota komunitas Facebook AHM (Aliansi Hacker Marhaen). Demi kepentingan nasional, hasil bocoran itu di-share di sini. Rupanya pembicaraan para intel ini adalah menyangkut prospek Jokowi menjadi Capres pada 2014. Berikut hasil sadapannya:

Intel BIN: Berbagai survey menunjukkan, popularitas Jokowi meningkat dan paling tinggi di antara para tokoh lain, jika maju untuk pilpres 2014. Gimana pendapat TNI? Nggak masalah Negara dipimpin sipil?
Intel TNI: Yah, jika itu sudah jadi kehendak rakyat. Zaman sudah berubah. Sekarang TNI…