Posts

Showing posts from February, 2014

Sandhyakala Ning Cikeas

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukanlah tokoh legenda rakyat Jawa, Damarwulan. Namun, masa-masa terakhir pemerintahan SBY mungkin bisa berujung seperti kisah Damarwulan, yang terbagi dalam dua versi berbeda: kejayaan total atau keruntuhan tragis.

Bagi masyarakat Indonesia penggemar sastra, tentunya tak asing dengan nama Sanusi Pane, salah satu sastrawan Pujangga Baru. Sanusi Pane (1905-1968) pernah menulis naskah drama berjudul Sandhyakala Ning Majapahit (Matahari Terbenam di Majapahit). Karya Sanusi Pane ini mengambil inspirasi dari kisah legenda rakyat Jawa yang cukup populer, Serat Damarwulan, yang diduga mulai ditulis pada masa akhir keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Lantas apa hubungan tokoh Damarwulan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Secara langsung, tidak ada hubungan apa-apa, kecuali bahwa SBY sering digambarkan sebagai tokoh yang pandai dan ganteng, sama seperti Damarwulan. Sebagai orang Jawa terpelajar, SBY sedikit banyak tentunya tahu kisah…

Tatap Redaksi: Lokasi Makam Nomor 50 dan 51

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Dalam kondisi biasa, para peziarah di komplek Taman Makam Pahlawan Kalibata umumnya tidak pernah memperhatikan lokasi makam nomor 50 dan 51. Siapakah tokoh yang dikebumikan di sana? Lokasi nomor 50 dan 51 itu adalah makam Usman bin Ali dan Harun bin Mahdar.

Nama dua pejuang anggota Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut Indonesia itu menjadi sumber kontroversi akhir-akhir ini, sesudah dicanangkan untuk menjadi nama salah satu Kapal Perang Indonesia (KRI) jenis light fregat, yang kini sedang dibuat di Inggris. Negara tetangga Singapura memprotes keras rencana pemberian nama KRI Usman Harun pada kapal perang itu.

Sekadar mengingatkan, Usman dan Harun telah dihukum mati oleh pemerintah Singapura atas tindakan mengebom McDonald House di Orchard Road, yang menewaskan tiga orang pada masa konfrontasi dengan Malaysia, tahun 1965. Keduanya dieksekusi di Singapura pada 17 Oktober 1968, meskipun ada imbauan dari pemerintah Presiden Soeharto, agar hukuman keduanya dik…

Menolak Militer Sebagai "Centeng" Neoliberalisme

Image
Oleh Satrio Arismunandar

Panglima TNI menyerukan penolakan paham liberalisme di Indonesia, karena neoliberalisme bisa menggerogoti kedaulatan NKRI. Di bawah panji neoliberalisme, TNI memang terancam kehilangan jati diri sebagai Tentara Rakyat, dan militer hanya akan difungsikan sebagai “centeng” kepentingan kapitalis global.

Langit cerah, tidak ada hujan, tidak ada angin, tapi tahu-tahu ada tanah longsor. Analogi ini mungkin tidak sepenuhnya pas untuk menggambarkan pernyataan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko di Kota Pekalongan, 4 Februari 2014. Namun, pernyataan lantang pimpinan senior militer, yang muncul di tahun politik menjelang pemilihan umum legislatif dan pemilihan presiden, itu memang bisa menimbulkan tanda tanya dan beragam penafsiran.

Di hadapan sekitar 2.000 alim ulama, pada acara Silaturahmi TNI, Polri, dan Ulama se-Indonesia dalam Rangka Wawasan Kebangsaan, yang digelar dalam rangkaian Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Moeldoko mengajak para alim ulama untuk menolak …

Permintaan Maaf Kepada Penulis, Majalah Tak Jadi Terbit

Image
Kepada Yth. Para Dosen, Kolumnis, Penulis, yang sudah mengirim naskah tulisan ke saya

Khususnya kepada Syarif Fadilah, Risyana (Ris) Sukarma, Rangga Lesmana, Fitra Ismu, Firdaus Cahyadi, dan Lena Herliana

Pertama, saya ingin menyampaikan permintaan maaf yang sebesar-besarnya. Saya hari Senin lalu,17 Februari 2014, baru diberitahu bahwa Bpk. Rektor Kwik Kian Gie School of Business sudah memutuskan, karena pertimbangan satu dan lain hal, rencana penerbitan majalah ilmiah populer bidang Manajemen, Bisnis dan Akuntansi telah dibatalkan.

Sejalan dengan keputusan Rektor itu, mulai bulan Maret 2014, saya praktis juga tidak lagi menjabat sebagai Koordinator Penerbitan Majalah Ilmiah-Populer. Saya hanya akan jadi dosen honorer biasa.

Keputusan pembatalan itu sepenuhnya di luar wewenang dan kuasa saya. Saya sebenarnya juga menyesalkan, kenapa butuh waktu begitu lama sampai muncul keputusan pembatalan itu. Padahal saya sudah mengumpulkan naskah tulisan dalam jumlah yang cukup untuk penerbitan e…