Sandhyakala Ning Cikeas

Oleh Satrio Arismunandar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bukanlah tokoh legenda rakyat Jawa, Damarwulan. Namun, masa-masa terakhir pemerintahan SBY mungkin bisa berujung seperti kisah Damarwulan, yang terbagi dalam dua versi berbeda: kejayaan total atau keruntuhan tragis.

Bagi masyarakat Indonesia penggemar sastra, tentunya tak asing dengan nama Sanusi Pane, salah satu sastrawan Pujangga Baru. Sanusi Pane (1905-1968) pernah menulis naskah drama berjudul Sandhyakala Ning Majapahit (Matahari Terbenam di Majapahit). Karya Sanusi Pane ini mengambil inspirasi dari kisah legenda rakyat Jawa yang cukup populer, Serat Damarwulan, yang diduga mulai ditulis pada masa akhir keruntuhan Kerajaan Majapahit.

Lantas apa hubungan tokoh Damarwulan dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono? Secara langsung, tidak ada hubungan apa-apa, kecuali bahwa SBY sering digambarkan sebagai tokoh yang pandai dan ganteng, sama seperti Damarwulan. Sebagai orang Jawa terpelajar, SBY sedikit banyak tentunya tahu kisah Damarwulan. Namun, mungkin menarik membandingkan masa akhir pemerintahan SBY, yang akan usai sesudah terpilihnya Presiden baru RI pada 2014 ini, dengan kisah Damarwulan yang terkait dengan lika-liku dan intrik kekuasaan era Majapahit.

Secara singkat, kisah Damarwulan bermula ketika ia mengabdi sebagai tukang rumput kepada Patih Loh Gender dari Majapahit. Karena kepandaiannya, Damar Wulan dapat menjadi abdi andalan Patih Loh Gender. Anjasmara, putri sang patih, terpikat dan jatuh cinta kepadanya.

Damarwulan lalu mendapat tugas dari raja putri Majapahit, Ratu Kencana Wungu, untuk menyamar dan membantu mengalahkan Menak Jinggo, penguasa Blambangan yang berniat memberontak kepada Majapahit. Damarwulan yang tampan dapat memikat selir-selir Menak Jinggo, yaitu Waeta dan Puyengan.

Berkat bantuan mereka, Damarwulan berhasil memperoleh senjata sakti gada Wesi Kuning milik Menak Jinggo dan menaklukkan penguasa Blambangan itu. Damarwulan pun menjadi pahlawan. Ia memboyong kedua selir itu, dan akhirnya juga mempersunting Ratu Kencana Wungu. Ini adalah akhir kisah yang penuh kejayaan, sesuai versi asli Serat Damarwulan.

Namun, dalam karya dramanya, Sanusi Pane membuat akhir kisah yang menyimpang dari versi asli. Dalam versi Sanusi Pane, nasib Damarwulan berakhir tragis. Meski sudah berjasa besar, karena adanya intrik dari elite kekuasaan, Damarwulan malah dituduh berkhianat. Ia tidak dinikahkan dengan sang raja putri. Damarwulan akhirnya dihukum mati. Setelah itu, Majapahit –yang para elite penguasanya bermental bobrok dan korup-- ditumbangkan oleh pasukan dari Kerajaan Demak Bintara.

Meninggalkan warisan yang konkret

Seperti kisah Damarwulan dalam setting Majapahit, pemerintahan SBY juga menghadapi banyak tantangan berat. Sebagai Presiden, SBY tentunya ingin meninggalkan warisan (legacy) konkret, yang akan selalu dikenang sebagai pencapaian signifikan era pemerintahannya. SBY juga ingin meninggalkan kesan baik pada rakyat pada akhir masa pemerintahannya. Sayangnya, berbagai situasi dan kondisi negara tidak mendukung ke arah penciptaan kesan baik tesebut.

Berbagai bencana alam, mulai dari banjir, tanah longsor, gunung meletus, semua membuat suasana hati rakyat kurang tenteram. Ada saja yang berkomentar, “Kok bisa ya? Di awal pemerintahan SBY ada bencana alam besar, seperti tsunami di Aceh, dan sekarang ketika mau berhenti jadi presiden, juga banyak bencana alam terjadi!” Komentar ini jelas tidak adil karena secara logis, bencana alam tidak bisa diramalkan atau dicegah oleh Presiden RI, siapapun presidennya.

Warisan yang benar-benar “milik eksklusif SBY” adalah Partai Demokrat, yang berkuasa di pemerintahan. Namun partai ini pun terpuruk habis popularitasnya, karena berbagai skandal korupsi yang melibatkan para tokoh senior dan pimpinan partai. Angelina Sondakh, Muhammad Nazaruddin, Andi Alifian Mallarangeng, Anas Urbaningrum, semuanya dituduh terlibat korupsi, bahkan sebagian sudah divonis bersalah dan masuk bui.

Yang lebih gawat, putra bungsu SBY, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), juga dituding terlibat korupsi, meski hingga saat ini belum pernah diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Belum lagi menyebut kasus skandal Bank Century, yang diduga kuat melibatkan peran Wakil Presiden Boediono, dan menyeret-nyeret ke peran SBY. Kasus ini belum mencapai titik final dan berpotensi jadi sumber masalah di masa depan, sesudah SBY tidak lagi menjabat Presiden RI. Mungkin hal-hal ini yang mendorong SBY merasa perlu merekrut pengacara keluarga.

Kondisi ekonomi yang merosot

Di bidang ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi –yang selalu dibangga-banggakan oleh pemerintah SBY—sedang menghadapi masa surut. Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya, Ahmad Erani Yustika, tampaknya kinerja ekonomi makin memburuk dan target ekonomi pemerintah periode 2009-2014 tak akan tercapai.

Hampir seluruh asumsi ekonomi makroekonomi yang dibuat pemerintah –sebagaimana tertuang dalam APBN Perubahan- berantakan. Baik itu dibaca dari data pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar mata uang, angka kemiskinan, angka pengangguran, defisit perdagangan, serta data lainnya.

Liberalisasi ekonomi yang berlangsung masif di bawah SBY memang sangat membesarkan sektor keuangan. Namun ini menyebabkan ketimpangan dengan sektor-sektor lainnya. Segelintir kelompok yang beroperasi di sektor keuangan berhasil meraup keuntungan yang luar biasa, namun banyak kelompok di sektor riil justru terjerembab dalam stagnasi yang panjang. Padahal jusru di sektor riil inilah yang melibatkan sebagian besar pekerja.

Pertumbuhan ekonomi 2013 mencapai 5,78 persen. Namun pertumbuhan tinggi ini disumbang oleh sektor yang tak bisa diperdagangkan (nontradeable), seperti sektor komunikasi (tumbuh 10,19 persen). Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2014 menunjukkan, sektor lain justru sangat rendah pertumbuhannya, seperti sektor pertanian (3,5 persen), industri (5,6 persen), dan pertambangan (1,34 persen). Ketimpangan pendapatan juga malah meningkat. Terasa ironis, jika mengingat bahwa mayoritas rakyat miskin Indonesia tinggal di pedesaan dan hidup dari sektor pertanian.

BPS mencatat, jumlah penduduk miskin di Indonesia pada September 2013 mencapai 28,55 juta orang (11,47 persen) atau meningkat 0,48 juta orang dibandingkan dengan posisi Maret 2013, yang tercatat 28,07 juta orang (11,37 persen). Perinciannya, jumlah penduduk miskin di perkotaan ada 10,63 juta, atau naik sebanyak 0,30 juta orang. Sementara, di daerah pedesaan, jumlah penduduk miskin ada 17,92 juta, atau naik sebanyak 0,18 juta. Kemiskinan dan korupsi adalah dua masalah berat Indonesia, yang masih belum teratasi secara memuaskan.

Indonesia disebut-sebut akan memetik bonus demografi, yaitu kondisi di mana struktur umum penduduk dengan tingkat ketergantungan berada di titik terendah. Atau, setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) menanggung 40-50 orang usia tidak produktif, dan kondisi ini akan mencapai puncaknya pada 2020-2030. Bonus demografi diprediksikan akan menggenjot ekonomi Indonesia, sehingga masuk ke jajaran 10 besar, bahkan lima besar ekonomi dunia. Namun semua ini akan tinggal menjadi mimpi belaka, jika rakyat Indonesia tidak memiliki kualitas pendidikan dan kesehatan yang baik, dua sektor yang juga butuh pembenahan serius di Indonesia. Ditambah lagi, kurangnya ketersediaan lapangan kerja.

Semua paparan di atas adalah sekadar ilustrasi singkat, untuk menggambarkan situasi nyata yang harus dihadapi bangsa ini. Seperti kisah Damarwulan, yang memiliki beberapa versi penutup cerita –dari akhir yang jaya-bahagia ke akhir yang sedih-tragis— SBY juga menghadapi sejumlah pilihan untuk mengakhiri masa pemerintahannya, dengan menunjukkan langkah-langkah berarti untuk mengatasi masalah yang sudah akut.
Sayangnya, mungkin sudah agak terlambat bagi SBY untuk melakukan langkah-langkah perubahan drastis. Langkah manuver yang bisa diambil praktis sudah sangat terbatas, selain tindakan drastis tampaknya juga bukan gaya pribadi SBY.

Sandhyakala Ning Cikeas (matahari terbenam di Cikeas, kediaman resmi Presiden SBY), sebagai metafora berakhirnya masa pemerintahan SBY, kemungkinan juga berlangsung di luar semua skenario ekstrim. Ia akan berakhir biasa-biasa saja, datar, tanpa kejutan, tanpa kesan berarti. Sesuatu yang sangat disayangkan, karena 10 tahun memimpin bangsa besar ini seharusnya bisa berarti sangat banyak. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, 14 Februari 2014

Ditulis untuk dimuat di Majalah AKTUAL dan www.aktual.co

Kontak Satrio Arismunandar:
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI