Tatap Redaksi: Lokasi Makam Nomor 50 dan 51

Oleh Satrio Arismunandar

Dalam kondisi biasa, para peziarah di komplek Taman Makam Pahlawan Kalibata umumnya tidak pernah memperhatikan lokasi makam nomor 50 dan 51. Siapakah tokoh yang dikebumikan di sana? Lokasi nomor 50 dan 51 itu adalah makam Usman bin Ali dan Harun bin Mahdar.

Nama dua pejuang anggota Korps Komando Operasi (KKO) Angkatan Laut Indonesia itu menjadi sumber kontroversi akhir-akhir ini, sesudah dicanangkan untuk menjadi nama salah satu Kapal Perang Indonesia (KRI) jenis light fregat, yang kini sedang dibuat di Inggris. Negara tetangga Singapura memprotes keras rencana pemberian nama KRI Usman Harun pada kapal perang itu.

Sekadar mengingatkan, Usman dan Harun telah dihukum mati oleh pemerintah Singapura atas tindakan mengebom McDonald House di Orchard Road, yang menewaskan tiga orang pada masa konfrontasi dengan Malaysia, tahun 1965. Keduanya dieksekusi di Singapura pada 17 Oktober 1968, meskipun ada imbauan dari pemerintah Presiden Soeharto, agar hukuman keduanya dikurangi menjadi hukuman penjara seumur hidup.

Bagi Indonesia, Usman dan Harun adalah pahlawan perang. Sedangkan bagi Singapura, dua prajurit Indonesia itu adalah penjahat perang. Sah-sah saja jika Singapura mau berpendapat demikian. Tetapi, jika Singapura meminta Indonesia membatalkan pemberian nama Usman Harun bagi kapal perang TNI Angkatan Laut, itu adalah soal lain.

Coba bandingkan, apakah Belanda pernah memprotes, ketika TNI-AL memberikan nama KRI Diponegoro, KRI Cuk Nyak Dien, KRI Fatahillah, KRI Bung Tomo, KRI Sultan Hasanuddin, KRI Pattimura,KRI Imam Bonjol, KRI Teuku Umar, dan KRI Untung Suropati, pada kapal-kapal perangnya? Jelas, nama-nama itu seluruhnya adalah musuh Belanda (VOC) pada masa kolonial ataupun perang kemerdekaan.
\
Membandingkan dengan negara-negara lain, apakah Inggris pernah memprotes Perancis, ketika Perancis memberi nama Jeanne d’Arc (Joan of Arc) untuk kapal induk helikopternya? Joan of Arc adalah perempuan pahlawan Perancis, yang sangat terkenal ketika melawan Inggris pada masa hidupnya. Joan of Arc akhirnya tertangkap dan dihukum mati dengan cara dibakar hidup-hidup oleh Inggris pada 1431. Perancis sampai tiga kali menggunakan nama ini untuk kapal-kapal perangnya.

Saya mengangkat kasus Usman dan Harun ini sekadar untuk mengingatkan kembali tentang nasionalisme dan identitas keindonesiaan kita. Berbagai hal di Tanah Air memang telah mengikis kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia, sehingga ada warga Indonesia di luar negeri yang merasa malu jika mengaku sebagai orang Indonesia. Jika ditanya tentang kewarganegaraannya, mereka lebih merasa nyaman mengaku sebagai “orang Malaysia” ketimbang orang Indonesia.

Pemberitaan media luar tentang korupsi, terorisme, kebobrokan birokrasi, kerusuhan antar-etnis atau antar-agama, pelanggaran hak asasi manusia, dan berbagai hal negatif lain telah membuat kita merasa rendah. Rasa dan identitas keindonesiaan itu baru bangkit lagi dan terekspresikan, ketika kita menonton atlet Indonesia bertarung melawan atlet negara lain di ajang olahraga Olimpiade, Asian Games, SEA Games, Piala Tiger, dan sebagainya.

Atau, ada momen-momen khusus yang membangkitkan lagi rasa nasionalisme, seperti kasus pelanggaran wilayah perairan Indonesia oleh kapal militer Australia, pembebasan “ratu narkoba Australia” Schapelle Corby, atau protes Singapura terhadap penggunaan nama Usman Harun untuk kapal perang RI.

Tahun 2014 ini seharusnya menjadi momen bagi bangsa Indonesia, untuk meraih kembali kebanggaannya. Kita lupakan saja era pemerintahan SBY yang tinggal menunggu waktu untuk berakhir. Semoga pemilihan umum dan pemilihan presiden tahun ini, dengan segala kelemahan dan keterbatasannya, bisa menjadi momen baru untuk kebangkitan nasionalisme dan kebanggaan identitas kita sebagai bangsa Indonesia.

Jakarta, Februari 2014

Ditulis untuk dimuat di Majalah AKTUAL dan www.aktual.co

Kontak Satrio Arismunandar:
E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI