Indra Nooyi: Memimpin dengan Visi Kesinambungan

Oleh Satrio Arismunandar

Nooyi sukses memimpin retrukturisasi dan transformasi PepsiCo, sehingga menjadi perusahaan minuman-kudapan nomor dua terbesar di dunia. Visinya tentang kesinambungan dan perspektif jangka panjang semula sempat diragukan, tetapi kemudian terbukti telah mengembangkan pasar perusahaan.

Kelesuan ekonomi bukanlah alasan untuk tidak berekspansi. Ketika ekonomi Amerika sedang melemah, perusahaan minuman dan kudapan Amerika, PepsiCo, justru sedang membuat terobosan. PepsiCo mengembangkan pasar ke Rusia, sebagai gerbang masuk ke bekas republik-republik Uni Soviet. Namun, siapakah sosok di balik semangat juang PepsiCo, yang seolah-olah tak pernah surut ini? Dia adalah Indra Nooyi.

Gagasan dan langkah inovatif Nooyi, yang menjabat CEO PepsiCo sejak 2006, terus memberi semangat dan inspirasi bagi tim eksekutifnya. Meski awalnya sempat diragukan, Nooyi telah berhasil mentransformasi PepsiCo, dari sebuah perusahan berbasis Amerika Utara menjadi sebuah perusahaan global.

Jajaran produk kudapan dan minuman PepsiCo –musuh bebuyutan Coca-Cola ini- malah berkembang meluas, di dunia yang semakin ketat terhadap berbagai kudapan yang dianggap bisa menimbulkan kegemukan. Obesitas sudah dianggap sebagai salah satu problem kesehatan utama saat ini. Nooyi membuat gebrakan dengan produk makanan sehat, yang awalnya dikecam karena dianggap tidak realistis atau tidak cocok dengan selera pasar. Dalam jangka panjang, strategi Nooyi terbukti benar.

Nama Nooyi dan reputasinya memang sudah tak asing lagi bagi kalangan bisnis dunia. Namun, kesuksesan yang diraih Nooyi bukannya tanpa tantangan dan kritik pedas dari kalangan investor, analis Wallstreet, dan media. Pada 2012, Nooyi harus berjuang keras menentang kemauan investor, yang ingin memecah PepsiCo menjadi dua perusahaan: kudapan dan minuman soda. Nooyi berhasil menurunkan biaya, memperbaiki angka penjualan minuman soda di Amerika dengan merebut pasar Coca-Cola, dan meningkatkan profit perusahaan, sehingga mencegah dipecahnya perusahaan.

Namun siapakah sebenarnya Nooyi? Indra Krishnamurthy Nooyi lahir pada 28 Oktober 1955 di Madras (sekarang Chennai), Tamil Nadu, India. Ia adalah warga Amerika keturunan India yang saat ini memimpin PepsiCo, perusahaan kudapan dan minuman nomor dua terbesar sedunia dilihat dari penghasilan neto.

Mengarahkan Strategi Global

Nooyi, yang oleh majalah Forbes terus-menerus dimasukkan dalam daftar 100 Perempuan Paling Berkuasa di Dunia, mendapat pendidikan di SMA Anglo-India Holy Angels, Madras. Ia meraih Sarjana Fisika, Kimia, dan Matematika dari Kolese Kristen Madras pada 1974, lalu memperoleh MBA dari Institut Manajemen India di Calcutta pada 1976.

Nooyi mengawali karirnya di India dengan menjabat manajer produk di Johnson & Johnson dan perusahaan tekstil Mettur Beardsell. Dia diterima di Yale School of Management dan pindah ke Amerika pada 1978, lalu meraih Master dalam Manajemen Publik dan Swasta. Sambil kuliah, ia juga magang di Booz Allen Hamilton. Lulus pada 1980, Nooyi bergabung dengan Boston Consulting Group (BCG), dan lalu memegang jabatan strategis di Motorola dan Asea Brown Boveri.

Nooyi bergabung dengan PepsiCo pada 1994 dan ditunjuk menjadi Chief Financial Officer (CFO) pada 2001. Ia mengarahkan strategi global PepsiCo selama lebih dari satu dasawarsa dan memimpin restrukturisasi PepsiCo. Nooyi juga berperan penting dalam akuisisi Tropicana pada 1998, serta merger dengan Quaker Oats Company, yang juga membawa Gatorade ke PepsiCo. Pada 2006, Nooyi menjadi CEO kelima dalam 44 tahun perjalanan sejarah PepsiCo.

Menurut BusinessWeek, sejak Nooyi menjabat sebagai CFO pada 2000, pendapatan tahunan perusahaan telah meningkat 72 persen. Sedangkan keuntungan bersih melonjak melebihi dua kali lipat, menjadi 5,6 miliar dollar AS pada 2006. Tak heran, oleh majalah Time, Nooyi dimasukkan ke daftar 100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia pada 2007 dan 2008.

Majalah Forbes menjulukinya perempuan nomor tiga paling berkuasa pada 2008. Majalah Fortune menyebutnya perempuan nomor satu paling berkuasa di bidang bisnis pada 2009 dan 2010. Sedangkan pada 2010, Forbes menjulukinya perempuan nomor enam paling berkuasa di dunia. Sebetulnya banyak sekali penghargaan untuk Nooyi dari berbagai organisasi dan media, sehingga sulit disebutkan satu-persatu.

Berkembang Lewat Visi Kesinambungan

Mengapa Nooyi bisa menjadi CEO PepsiCo? Seharusnya tidaklah mengejutkan bahwa PepsiCo menunjuk seorang CEO yang bukan kelahiran Amerika dan bukan laki-laki pula. Hal ini karena faktanya, PepsiCo –meskipun berbasis di Amerika-- memperoleh sekitar 40 persen dari 35,1 miliar dollar AS hasil penjualan minuman, kudapan, dan kue keringnya, dari pasar di luar Amerika.

Sedangkan sebagian besar pertumbuhan perusahaan ini juga justru terjadi di luar kawasan Amerika. Nooyi telah membuktikan keberhasilannya mengembangkan pasar PepsiCo di Cina, Timur Tengah, dan kampung halamannya India. Nooyi sejak awal sudah menyadari, jika PepsiCo cuma mencoba bertahan dengan mengandalkan pasar Amerika, perusahaan akan runtuh karena potensi pertumbuhan di Amerika memang terbatas.

Namun Nooyi harus bergerak cepat, karena pesaing berat seperti Nestle dan Coca-Cola sudah lebih dulu giat menggarap pasar di negara-negara BRIC (Brasil, Rusia, India, dan Cina). Nestle dan Coca-Cola sudah puluhan tahun jadi pemain global. Maka Nooyi membeli perusahaan-perusahaan kudapan dan minuman yang sudah ada di negara-negara yang ekonominya sedang tumbuh di berbagai penjuru dunia, seperti Brasil, Ukraina, India, dan sebagainya.

Puncaknya adalah ketika PepsiCo membeli perusahaan yogurt raksasa asal Rusia, Wimm-Bill-Dann Foods, dan perusahaan jus Lebedyansky. Nilai dua perusahaan Rusia ini adalah 7 miliar dollar AS. Ini adalah akuisisi terbesar yang pernah dilakukan PepsiCo di luar Amerika. Langkah ini bertujuan mengapitalisasi permintaan produk susu global yang jumlahnya terus meningkat. “Saya adalah seorang pemikir global dengan semua yang saya kerjakan,” ujar Nooyi.

Visi Nooyi adalah kinerja yang disertai dengan kejelasan tujuan. Ini berarti bukan cuma menyampaikan produk-produk yang disesuaikan dengan selera lokal, tetapi mempertimbangkan kesinambungan dalam berbagai tingkatan: manusia, keahlian (talent), dan lingkungan. Penggunaan air dan energi yang efisien jelas memberi manfaat balik yang nyata bagi perusahaan. Namun, bagaimana dengan penciptaan komunitas yang lebih baik? “Saya memerlukan konsumen yang sehat di sana. Satu-satunya cara saya bisa melakukan hal itu adalah lewat kesinambungan,” tutur Nooyi.

Nooyi juga punya cara pendekatan personal yang luar biasa dalam memotivasi karyawan. Misalnya, Nooyi menulis surat kepada para orangtua dari seluruh tim eksekutifnya, dan memberitahu para orangtua itu bagaimana mereka seharusnya merasa bangga tentang hasil karya anak-anak mereka. Tindakan Nooyi mengirim surat yang tidak biasa ini menimbulkan curahan emosi dan keterikatan yang lebih mendalam dari para tim eksekutif terhadap misi perusahaan. Hal ini telah menyentuh gairah dan arah tujuan, yang menggarisbawahi tindakan bisnis mereka.

Pelajaran dari Kepemimpinan Nooyi

Tak pelak lagi, banyak pelajaran berharga bisa dipetik dari keberhasilan kepemimpinan Nooyi. Nooyi sendiri bukanlah sosok yang pelit berbagi ilmu. Ia pernah memaparkan lima pelajaran kepemimpinan, yang secara bersama membentuk peta jalan bagi pemimpin-pemimpin global di abad ke-21.

Pertama, buatlah perimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang. Menurut Nooyi, para pemimpin masa kini seringkali tergerak hanya oleh perolehan atau hasil jangka pendek tiga-bulanan, sehingga membuahkan keputusan-keputusan yang kontraproduktif bagi kesehatan organisasi dan masyarakat untuk jangka panjang. Para pemimpin yang efektif harus membuat perimbangan. “Benar, mereka butuh hasil yang baik untuk jangka pendek. Namun keputusan-keputusan mereka juga harus mempertimbangan cakrawala yang lebih jauh ke depan,” jelas Nooyi.

Kedua, mengembangkan pengertian yang mendalam tentang kemitraan publik dan swasta. Nooyi menunjukkan, banyak pemimpin sektor swasta yang memperlakukan sektor publik (lembaga swadaya masyarakat, pemerintah) sebagai musuh –dan sebaliknya. Pendekatan yang formal dan kaku seperti itu, menurut Nooyi, tidak akan berhasil. Sebaliknya, Nooyi menyarankan agar mereka mencoba berkompromi sedikit. Ia percaya, para pemimpin LSM melakukan pekerjaan mereka sebagai “pekerja cinta.” Maka perlakukanlah mereka dengan rasa hormat dan pengertian, karena sikap meremehkan dan merendahkan tidak akan menghasilkan apa-apa.

Ketiga, berpikir secara global dan bertindak secara lokal. Nooyi berargumen, ini bukanlah ungkapan klise yang sudah usang. Sebaliknya, ini justru sebuah saran yang bermakna, yang bisa menghasilkan solusi-solusi inovatif dan belum pernah terpikir sebelumnya (out-of-the box). Nooyi memberi contoh sebuah video komersial 9 menit, yang mengiklankan Pepsi, Lay, dan Tropicana –tiga brand PepsiCo. Tak satupun dari tiga brand itu yang memiliki massa kritis yang cukup untuk membuat kampanye iklan besar-besaran. Namun, dengan menggabungkan semua sumberdaya mereka, hal itu bisa dilakukan.

Iklan video ini menangkap kerinduan para orangtua dalam masyarakat modern Cina, untuk bisa berhubungan kembali dengan anak-anaknya pada Tahun Baru Cina. Ini adalah tradisi lama Cina yang terancam oleh gaya hidup dan karir yang penuh kesibukan. Iklan video itu, yang sudah disaksikan ratusan juta kali di Cina, adalah contoh bagaimana silo-silo korporat bisa diruntuhkan dan adat-istiadat lokal dirangkul. Ini menghasilkan suatu solusi kreatif yang berlaku bagi setiap orang.

Keempat, tetap berpikir terbuka untuk beradaptasi dengan perubahan-perubahan. Nooyi mengutip pembelajaran dari filsuf Yunani, Sokrates, tentang seni mengajukan pertanyaan-pertanyaan menyelidik untuk memfasilitasi dialog dan eksplorasi.

Seringkali para pemimpin menutup pikiran mereka dari suara-suara yang berbeda, serta menyetop banyak perdebatan yang sebetulnya dibutuhkan. “Untuk memimpin di dunia yang selalu berubah, para pemimpin harus beradaptasi dan tetap gesit,” tegas Nooyi.

Kelima, pimpinlah dengan kepala dan hati. Maksud Nooyi, para pemimpin harus mengembangkan kecerdasan emosional yang mendalam dan membawa “keseluruhan dirinya untuk bekerja setiap hari.” Mereka harus terus-menerus mengingatkan dirinya sendiri bahwa setiap orang yang bekerja untuk mereka adalah sosok manusia yang unik, dan berusaha memperkuat koneksi dan ikatan manusiawi ini.

Sukses Berkat Dorongan Sang Ibu

Dengan berbagai pencapaiannya yang spektakuler, wajar jika Nooyi juga mendapat imbalan yang sepadan dari perusahaan. Ketika menjadi CEO PepsiCo pada 2011, Nooyi memperoleh kompensasi total 17 juta dollar AS, yang termasuk gaji pokok 1,6 juta dollar AS, bonus kontan 2,5 juta dollar AS, serta nilai pensiun dan kompensasi tertunda 3 juta dollar AS.

Ketika ditanya soal latar belakang suksesnya, Nooyi tidak membantah bahwa peran sang ibu sangat besar terhadap dirinya sejak ia masih kecil. Waktu itu ayahnya yang bekerja di Bank Negara sering bepergian, sedangkan yang selalu hadir di rumah adalah sang ibu. Ibunya memiliki ambisi besar dan menuntut agar Nooyi mendapat nilai tertinggi untuk mata pelajaran Matematika. Itu bukanlah hal yang unik untuk keluarga Hindu dari kasta Brahmana di India. “Saya pikir, ibu saya secara genetik memang sudah diprogram untuk begitu,” kesan Nooyi.

Sejak masa kecil, seluruh keluarga Nooyi terfokus pada pencapaian prestasi di sekolah. Pada masa itu, ketika para orangtua berkumpul dan mengobrol, mereka terbiasa membandingkan prestasi anak-anaknya. Setiap orang akan berkata kepada yang lain: “Bagaimana prestasi anakmu di sekolah? Dia mendapat ranking nomor berapa di kelas?” Itulah lingkungan yang dihayati, saat Nooyi tumbuh dan dibesarkan pada tahun 1950-an dan 1960-an.

Dalam aspek kehidupan pribadi, Nooyi yang menikah dengan Raj K. Nooyi, kini memiliki dua putri dan bermukim di Greenwich, Connecticut, Amerika. Salah satu putrinya bersekolah di School of Management di Yale, alma mater lama Nooyi. Nooyi kini sudah menjadi pemimpin puncak perusahaan global. Namun ia menyatakan, sesuai dengan nilai yang diajarkan oleh ibunya, prestasi di bidang bisnis adalah satu hal, namun peran sebagai seorang istri tetap tidak boleh diabaikan. (Diolah dari berbagai sumber) ***

Jakarta, Juli 2013

Kontak Satrio Arismunandar:

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)