Megatrends 2030: Indonesia akan Jadi Pemain Penting di Asia

Oleh Satrio Arismunandar

Dunia akan mengalami perubahan radikal dan berpengaruh besar pada bisnis global. Mulai dari kelangkaan sumber pangan, air, dan energi, urbanisasi yang masif, pertumbuhan kelas menengah dunia, sampai kebangkitan Asia sebagai motor ekonomi dunia. Kekuatan ekonomi Asia akan melampaui gabungan Amerika Utara dan Eropa.

Apa hubungan antara bisnis dan intelijen? Banyak sekali. Laporan atau prakiraan intelijen bisa berpengaruh besar pada strategi, langkah-langkah, dan pencapaian kinerja bisnis. Dalam konteks itulah, laporan tren global yang dikeluarkan oleh Dewan Intelijen Nasional atau NIC (National Intelligence Council) di Amerika, punya arti signifikan bagi para pengambil kebijakan di tingkatan pemerintahan ataupun korporasi.

Setiap empat tahun, NIC mengeluarkan laporan Global Trends, tentang berbagai kecenderungan strategis yang terjadi dalam skala internasional. Nah, pada 10 Desember 2012, bertepatan dengan awal masa jabatan kedua Presiden Barack Obama, NIC mengeluarkan laporan Megatrends 2030, yang memaparkan sejumlah transformasi besar yang terjadi di dunia. Laporan setebal 160 halaman itu diharapkan bisa menjadi landasan bagi berbagai pemikiran strategis.

Megatrends 2030 dimaksudkan untuk merangsang pemikiran tentang berbagai perubahan geopolitik yang cepat dan besar, yang menjadi ciri dunia saat ini, serta berbagai kemungkinan arah global selama 15-20 tahun mendatang. Seperti halnya dengan laporan-laporan NIC sebelumnya, kita jangan melihat paparan ini sebagai “ramalan masa depan,” yang jelas bersifat musykil. Namun, sebaiknya ia diperlakukan sebagai kerangka pemikiran tentang kemungkinan-kemungkinan masa depan dengan berbagai implikasinya.

Dunia 2030 secara radikal akan berbeda dengan dunia kita sekarang. Pada 2030, tidak ada satu pun negara – baik Amerika, China, India, Rusia, atau negara besar lain mana pun—yang akan menjadi kekuatan hegemonik.

Pemberdayaan individu dan penyebaran kekuatan (diffusion of power) di antara negara-negara, serta dari negara-negara ke jejaring-jejaring informal, akan memberi dampak yang dramatis. Yaitu, akan terjadi penjungkirbalikan peningkatan posisi historis Barat yang sudah berlangsung sejak 1750, memulihkan kembali bobot Asia dalam ekonomi global, dan mendorong era baru “demokratisasi” di tingkatan internasional dan dalam negeri.

Titik Persimpangan Kritis

Megatrends lain yang akan membentuk dunia kita pada 2030 adalah: pola-pola demografis (khususnya penuaan yang cepat), dan tuntutan kebutuhan atas sumberdaya yang terus tumbuh –dalam hal ini sumberdaya pangan dan air-- yang mungkin akan menjurus ke kondisi kelangkaan. Kecenderungan tersebut, yang tampaknya cukup pasti, sebetulnya sudah terjadi sekarang.

Namun, dalam 15-20 tahun mendatang, kecenderungan itu akan memperoleh momentum yang jauh lebih besar. Yang menopang megatrends itu adalah sejumlah pergeseran tektonik, yakni perubahan-perubahan kritis terhadap fitur-fitur kunci dari lingkungan global kita, yang akan mempengaruhi bagaimana dunia “bekerja.”

Ekstrapolasi dari megatrends ini saja sudah akan menjurus ke dunia yang berubah pada 2030. Namun, dunia dapat ditransformasikan dengan cara-cara yang berbeda secara radikal. Ada enam variabel pengubah-permainan kunci (key game-changers), yakni masalah-masalah yang menyangkut ekonomi global, tata kelola (governance), konflik, ketidakstabilan regional, teknologi, dan peran Amerika Serikat. Keenam hal ini sebagian besar akan menentukan, menjadi seperti apa, dunia yang akan kita diami pada 2030.

Harus dibedakan antara megatrends dan variabel pengubah-permainan. Megatrends adalah faktor-faktor yang tampaknya akan terjadi, di bawah skenario yang mana pun. Sedangkan pengubah-permainan adalah variabel-variabel kritis, yang trayektori atau alur pergerakannya tidak bisa dipastikan. Karena keanekaragaman dan kompleksitas dari berbagai faktor itu, maka oleh NIC disusunlah beberapa skenario yang mungkin terjadi.

Kita kini berada dalam titik persimpangan kritis dalam sejarah manusia, yang bisa menjurus ke berbagai alternatif masa depan yang sangat kontras. Namun, masa depan bukanlah sesuatu yang kaku dan tak bisa dibentuk. Masa depan adalah hasil dari pertautan dinamis antara megatrends, pengubah-permainan, dan di atas semuanya, adalah faktor manusia itu sendiri yang menentukan.

Ada beberapa peristiwa terpisah yang akan menyebabkan kekacauan berskala besar. Semua peristiwa tersebut –kecuali dua hal ini: China yang berubah jadi demokratis dan Iran yang mengalami reformasi—akan memberi gaung negatif. Berdasarkan apa yang diketahui NIC tentang megatrends dan kemungkinan interaksi antara megatrends dengan sejumlah pengubah-permainan, NIC telah merumuskan empat pola dasar masa depan (archetypal futures), yang mewakili jalur-jalur berbeda bagi dunia tahun 2030.

Tak satu pun dari dunia-dunia alternatif ini yang tidak terhindarkan. Dalam kenyataannya, masa depan mungkin akan terdiri dari unsur-unsur dari seluruh skenario tersebut. Berikut ini adalah berbagai megatrends dan pergeseran tektonik, yang terkait dengan tren-tren global tersebut:

Megatrend 1: Pemberdayaan Individu

Pemberdayaan individu akan meningkat pesat secara substansial selama 15-20 tahun mendatang. Hal itu terjadi berkat berkurangnya kemiskinan, pertumbuhan yang sangat besar dari kelas menengah global, pencapaian pendidikan yang lebih besar, serta perawatan kesehatan yang lebih baik.

Pertumbuhan kelas menengah global membentuk sebuah pergeseran tektonik. Yakni, untuk pertama kalinya, mayoritas populasi dunia tidak berada dalam kemelaratan. Sedangkan, kelas-kelas menengah akan menjadi sektor sosial dan ekonomi yang paling penting di mayoritas negara-negara di seluruh dunia.

Pemberdayaan individu adalah megatrend terpenting karena ia menjadi penyebab sekaligus akibat dari sebagian besar tren-tren lain. Termasuk, pengembangan ekonomi global, pertumbuhan yang cepat dari negara-negara berkembang, dan eksploitasi yang meluas atas teknologi komunikasi dan manufaktur baru.

Di satu sisi, kita melihat potensi bagi prakarsa individu yang lebih besar, sebagai kunci untuk mengatasi tantangan-tantangan global yang menggunung dalam 15-20 tahun mendatang. Namun, di sisi lain, dalam sebuah pergeseran tektonik, individu dan kelompok-kelompok kecil juga akan memiliki akses yang lebih besar terhadap teknologi yang berpotensi menimbulkan kekacauan dan mematikan (khususnya kemampuan serang-presisi, instrumen cyber, dan persenjataan bioteror). Akses yang lebih besar itu memungkinkan mereka untuk melakukan kekerasan berskala besar –sebuah kemampuan yang sebelumnya menjadi monopoli negara.

Megatrend 2: Penyebaran Kekuatan

Penyebaran kekuatan di antara negara-negara akan berdampak dramatis pada 2030. Asia akan melampaui gabungan Amerika Utara dan Eropa dalam hal kekuatan global, berdasarkan pada produk domestik bruto (GDP), jumlah penduduk, pembelanjaan militer, dan investasi teknologi. China sendiri mungkin akan memiliki ekonomi terbesar, mengalahkan Amerika pada beberapa tahun sebelum 2030. Posisi Amerika sebagai poros tunggal (unipolar) dunia sudah berlalu. Pax Americana –era kenaikan posisi Amerika dalam politik internasional, yang dimulai sejak berakhirnya Perang Dunia II pada 1945—praktis merosot dengan cepat.

Dalam sebuah pergeseran tektonik, kesehatan ekonomi global akan semakin terkait dengan seberapa baik langkah yang dilakukan negara-negara berkembang. Dampak tindakan mereka akan lebih dirasakan daripada yang biasanya dilakukan negara Barat. Sebagai tambahan terhadap China, India, dan Brazil, pemain regional seperti Kolombia, Indonesia, Nigeria, Afrika Selatan, dan Turki, akan menjadi pemain penting khususnya bagi ekonomi global.

Sementara itu, ekonomi Eropa, Jepang, dan Rusia tampaknya akan terus mengalami kemerosotan yang relatif lambat (slow relative declines). Pergeseran dalam kekuatan nasional mungkin akan dibayangi oleh pergeseran yang bahkan lebih mendasar dalam hal hakikat kekuatan (nature of power).

Berkat teknologi komunikasi, kekuatan akan bergeser ke arah jejaring yang beraneka-segi dan nirbangun (multifaceted and amorphous networks) yang akan mewujud, untuk mempengaruhi langkah-langkah negara dan dunia. Negara-negara itu dengan fundamental yang kuat -- GDP, jumlah penduduk, dan sebagainya—tidak akan sanggup mendayagunakan kekuatannya, kecuali mereka juga belajar tentang bagaimana mengoperasikan jejaring-jejaring dan koalisi-koalisi, dalam dunia yang memiliki banyak poros (multipolar world).

Megatrend 3: Pola-pola Demografis

Populasi dunia di tahun 2030 akan mendekati angka 8,3 miliar, jadi meningkat dari 7,1 miliar di tahun 2012. Pada saat itu, NIC meyakini, akan ada empat tren demografis yang secara fundamental akan membentuk (walau tidak berarti harus menentukan) kondisi ekonomi dan politik sebagian besar negara, serta hubungan di antara negara-negara tersebut.

Tren tersebut adalah: Pertama, penuaan (ageing). Ini adalah pergeseran tektonik bagi negara Barat dan bagi semakin banyak negara berkembang. Kedua, masyarakat dan negara usia-muda (youthful societies and states) yang jumlahnya menyusut, namun tetap signifikan. Ketiga, migrasi, yang akan makin menjadi isu lintas-perbatasan. Keempat, peningkatan urbanisasi --sebuah pergeseran tektonik lain, yang akan mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi dapat menimbulkan tekanan pada sumberdaya pangan dan air. Enam dari 10 orang akan tinggal di perkotaan pada 2030.

Negara-negara yang populasinya menua (ageing countries) akan menghadapi perjuangan berat, dalam usaha mempertahankan standar kehidupan. Permintaan terhadap tenaga kerja terampil dan tidak-terampil akan mendorong migrasi global. Karena urbanisasi yang cepat di negara berkembang, volume konstruksi perumahan di perkotaan, ruang kantor, dan layanan transportasi dalam 40 tahun ke depan, secara kasar akan setara dengan seluruh volume kontruksi perumahan yang pernah dilakukan dalam sejarah dunia sampai saat ini.

Megatrend 4: Tumbuhnya Pertalian antara Pangan, Air, dan Energi

Permintaan atas pangan, air, dan energi akan melonjak, berturut-turut sebesar 35, 40, dan 50 persen. Ini terjadi akibat peningkatan populasi dunia dan pola konsumsi kelas menengah yang jumlahnya mengembang. Perubahan iklim akan memperburuk gambaran tentang ketersediaan sumber-sumber yang kritis tersebut.

Analisis perubahan iklim mengisyaratkan, keparahan pola-pola cuaca yang berlangsung sekarang akan semakin meningkat pada 2030, di mana wilayah basah akan semakin basah, sedangkan wilayah kering dan gersang juga akan semakin kering dan gersang. Sebagian besar kemerosotan curah hujan akan terjadi di Timur Tengah dan Afrika bagian utara, serta Asia Tengah bagian barat, Eropa bagian selatan, Afrika bagian selatan, dan Amerika Baratdaya.

Dunia kita tidak harus mengarah menjadi dunia yang penuh kelangkaan. Namun, para pembuat kebijakan serta mitra sektor swasta mereka perlu bersikap proaktif, untuk menghindari masa depan semacam itu. Banyak negara mungkin tidak akan memiliki sarana atau dana yang diperlukan untuk menghindari kekurangan pangan dan air, tanpa bantuan besar-besaran dari luar.

Penanganan problem-problem yang bersinggungan dengan satu komoditi tidak akan mungkin terlaksana tanpa mempengaruhi pasokan dan permintaan terhadap komoditi-komoditi lain. Pertanian sangat tergantung pada aksesibilitas terhadap sumber air yang memadai, serta pupuk yang kaya akan unsur hara.

Pertanian dan industri yang terkait pertanian akan berada dalam posisi rawan, karena menyerap 70 persen dari sumberdaya air yang digunakan. Soal ancaman kelangkaan air, sebenarnya hal ini juga sudah diperingatkan oleh Forum Ekonomi Dunia atau WEF (World Economic Forum), sebagai salah satu dari lima risiko utama yang dihadapi dunia.

Hampir separuh dari populasi dunia akan tinggal di kawasan yang langka air pada 2030.
Tenaga air (hydropower) adalah sumber energi yang signifikan bagi beberapa kawasan. Sementara sumber-sumber energi baru –seperti bahan bakar nabati (biofuels)—menimbulkan ancaman berupa semakin parahnya potensi kekurangan pangan. Hal ini karena lahan yang seharusnya bisa ditanami tumbuhan penghasil pangan, justru ditanami tumbuhan untuk diolah jadi bahan bakar. Terdapat peluang yang sama besarnya, antara cakupan potensial untuk terjadinya tradeoff negatif dengan potensi bagi terjadinya sinergi positif.

Produktivitas pertanian di Afrika, khususnya, akan mensyaratkan perubahan yang besar untuk menghindari kekurangan pangan. Tidak seperti Asia dan Amerika Selatan, yang sudah mencapai pengembangan signifikan dalam produksi pertanian per kapita, Afrika baru akhir-akhir ini kembali ke tingkatan produksi tahun 1970-an.

Peluang dan Tantangan

Berbagai tren global yang sudah dipaparkan dalam Megatrends 2030 itu jelas akan sangat berpengaruh pada kebijakan strategis, bagi para pelaku bisnis mana pun yang ingin bisnisnya bertahan melampaui 2030. Terlihat ada peluang besar, terutama bagi pelaku bisnis di Asia dan Indonesia, dengan adanya pertumbuhan kelas menengah yang tinggi. Kelas menengah ini tentu menjadi pasar yang kuat, dan akan mendorong konsumsi dan produksi.

Berdasarkan data dan proyeksi PBB, Indonesia juga akan memperoleh “bonus demografis” pada 2020-2030, karena saat itu mayoritas populasi adalah pada usia produktif. Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan, pada 2020-2030, tidak kurang dari 44–45 persen penduduk Indonesia akan tetap bekerja dalam bidang pertanian di pedesaan. Lebih dari 50–60 persen penduduk Indonesia akan tinggal di daerah urban.

Dalam konteks kependudukan, “bonus demografis” baru akan punya arti, jika sumberdaya manusia (SDM) kita memiliki pekerjaan dan memiliki kualitas pendidikan yang cukup. Maka sektor pendidikan juga akan menghadapi tantangan, bagaimana mempersiapkan SDM Indonesia yang cerdas, terampil, kompetitif, kreatif, ulet, dan tangguh, untuk menghadapi situasi global dan domestik 2030.

Juga, ada tantangan lain yang harus diwaspadai sejak awal. Kelangkaan sumberdaya air bagi pertanian, pangan bagi 250 juta penduduk Indonesia (yang akan meningkat pada 2030), dan pasokan energi bagi sektor industri kita, akan menjadi masalah krusial. Sekarang pun, sebetulnya indikasi ke arah kelangkaan itu sudah terlihat jelas. Perubahan iklim, pola cuaca, dan kerusakan lingkungan juga akan besar pengaruhnya pada Indonesia, jika tidak diantisipasi sejak dini. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, Februari 2014

Ditulis untuk Majalah AKTUAL dan www.aktual.co

Biodata Penulis:

* Satrio Arismunandar adalah anggota-pendiri Aliansi Jurnalis Independen atau AJI (1994), Sekjen AJI (1995-97), anggota-pendiri Yayasan Jurnalis Independen (2000), dan menjadi DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1993-95. Pernah menjadi jurnalis Harian Pelita (1986-88), Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-Maret 2001), Produser Eksekutif Divisi News Trans TV (Februari 2002-Juli 2012), dan Redaktur Senior Majalah Aktual – www.aktual.co (sejak Juli 2013). Alumnus Program S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI ini sempat jadi pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia) 2002-2011.

Kontak Satrio Arismunandar:

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)