Resensi Buku: Menjelajah Dunia Dinamis dari Bisnis Media Digital dan Elektronik

Oleh Satrio Arismunandar

Alan B. Albarran. 2013. Management of Electronic and Digital Media. Fifth Edition. USA: Wadsworth, Cengage Learning. Tebal: xxii + 307 hlm. ISBN-13: 978-1-111-83685-6.

Industri media elektronik dan digital terus mengalami perubahan cepat dan evolusi, berkat kombinasi dari kekuatan teknologi, ekonomi, regulasi, global, dan sosial. Para manajer media kontemporer pun menghadapi lingkungan kompetitif yang unik dan terus-menerus berubah. Buku ini memberi wawasan pada pembaca untuk masuk ke dalam profesi yang menantang, bersama dengan keterampilan yang dibutuhkan, untuk persiapan menduduki posisi manajerial.

Industri-industri media terus berkembang, di mana perusahaan-perusahaan media sekarang dipandang sebagai perusahaan multiplatform, yang menawarkan konten pada berbagai platform untuk menarik audiens dan pengiklan. Merger dan akuisisi terus menyebabkan pergantian pemain-pemain kunci dalam bisnis media, yang mengoperasikan jejaring, kelompok stasiun TV atau radio, dan menyediakan multikanal, seperti penyedia layanan kabel, satelit, dan telekomunikasi.

Keberadaan media sosial telah menambah suatu dimensi yang keseluruhannya baru dalam bisnis media komunikasi. Hilangnya penghalang-penghalang regulasi, pertumbuhan aliansi dan kemitraan di antara perusahaan-perusahaan media, dan pasar global bagi hiburan dan informasi, semua ini telah memberi andil bagi perubahan lingkungan manajerial di industri media.

Para manajer tidak lagi mengawasi suatu operasi tunggal. Para manajer media saat ini mungkin bertanggung jawab atas banyak stasiun, hub regional, dan banyak platform. Fleksibilitas, kemampuan yang beragam, dan multitasking sudah menjadi ciri-ciri umum dari para manajer media.

Wahana Promosi yang Kuat

Perubahan-perubahan sosial dan ekonomi telah mempengaruhi komposisi karyawan. Jajaran tenaga kerja di industri media kini lebih langsing, lebih beragam, dan lebih berimbang komposisinya secara gender. Selain itu, kini media makin mengandalkan pada karyawan paruh-waktu (part-time) ketimbang masa sebelumnya.

Buku Albarran ini telah mengalami revisi cukup besar dibandingkan edisi-edisi sebelumnya. Terutama, penambahan kata “digital” pada judul, yang mengisyaratkan pentingnya platform digital dalam industri media saat ini. Bab baru, yang tak ada pada edisi sebelumnya, adalah bab tentang pengaruh media sosial terhadap manajemen.

Sebagai fenomena abad ke-21, media sosial telah mengubah cara individu dan entitas bisnis (seperti perusahaan-perusahaan media) berkomunikasi satu dengan yang lain. Dibahas di sini, pemain-pemain kunci dalam media sosial (Facebook, Twitter, LinkedIn, YouTube, MySpace), bagaimana perusahaan-perusahaan itu mengembangkan suatu kehadiran media sosial, serta aplikasi manajerial dari media sosial.

Media sosial menawarkan cara-cara baru untuk memasarkan produk-produk dan layanan media, baik kepada audiens maupun pengiklan. Upaya pemasaran harus secara strategis direncanakan dan dikoordinasikan untuk mencapai tingkat keefektifan maksimum, guna membangun audiens dan keterlibatan mereka dalam platform-platform media sosial.

Media sosial menawarkan cara membangun aliran penghasilan baru dengan iklan. Para pengiklan dengan cepat melihat kekuatan dari media sosial. Sebagian besar pengiklan kini sudah memiliki kehadiran yang kuat, dengan situs-situs mereka sendiri dan melalui penempatan iklan. Lembaga BIA/Kelsey memperkirakan, iklan di media sosial akan mencapai nilai 8,3 miliar dollar AS pada 2015, yang berarti peningkatan dari sekitar 2 miliar dollar AS pada 2010.

Media sosial adalah juga wahana promosi yang kuat, yang memungkinkan konten dan brand perusahaan mencapai audiens yang sudah ada dan audiens yang baru. Segala sesuatu yang perlu dipromosikan lewat media sosial, dimulai dengan konten. Media sosial adalah wahana yang hebat dalam menyiagakan audiens tentang adanya program baru, perubahan-perubahan dalam konten yang ada, kontes-kontes, peristiwa pemberi penghasilan yang non-tradisional, aplikasi baru, siaran dari lokasi jauh (remote broadcast), dan aktivitas-aktivitas lain.

Mendiskusikan Brand di Media Sosial

Dari sudut pandang manajemen, media sosial adalah alat promosi yang hebat bagi perusahaan-perusahaan media elektronik dan digital, karena ia dapat diinisiasi dan di-update secara cepat dan efisien, serta gratis pula. Kemungkinan-kemungkinannya tidak terbatas dan dapat menciptakan banyak peluang baru, guna menjangkau audiens yang sudah ada dan yang baru.

Media sosial juga dapat digunakan oleh perusahaan media elektronik dan digital untuk mempelajari, bagaimana berbagai brand miliknya didiskusikan dan dinilai di berbagai blog dan melalui platform-platform media sosial. Pemantauan ini dapat membangkitkan umpan balik tambahan, yang dapat digunakan dalam pemasaran, promosi, pengembangan konten, dan riset, untuk sekadar menyebut beberapa kemungkinan.

Dalam setiap lingkungan bisnis, selalu ada konsumen yang punya kecenderungan positif pada brand tertentu, dan ada juga yang tidak menyukainya. Media sosial memungkinkan berbagai perusahaan untuk melihat, bagaimana brand-brand mereka dikupas, topik-topik apa yang “hot” di mata publik, dan apakah ada keprihatinan tertentu yang perlu segera ditangani.

Sebagai contoh, pada 2010, para pengguna Facebook meraih sukses ketika mengajukan petisi ke jaringan televisi NBC, agar membolehkan artis komedi kawakan Betty White menjadi pembawa acara di program Saturday Night Live (SNL). Ribuan pengguna Facebook menanggapi seruan itu, dan siaran itu lalu tercatat sebagai salah satu episode SNL yang paling tinggi rating-nya di musim penyiaran tersebut.

Semua pihak yang terlibat mendapat manfaat dari petisi itu. Audiens bisa menikmati program dengan pembawa acara yang mereka sukai. NBC menunjukkan itikad baik dan menanggapi permintaan publik. Sedangkan, program SNL itu sendiri mendulang sukses, yang menyenangkan pihak NBC karena jumlah penonton yang besar, serta menggembirakan para pengiklan yang memasang iklan di SNL.

Pemantauan situs-situs media sosial menghadirkan tugas lain bagi manajemen, dan ini akan menuntut ketersediaan waktu yang berkelanjutan dari staf bersangkutan, untuk menuntaskan tugas pemantauannya. Data yang diperoleh dari pemantauan terhadap perusahaan Anda lewat media sosial, akan memberi tambahan masukan bagi manajemen, untuk mengetahui bagaimana kondisi pasar, serta apa yang didiskusikan oleh audiens dan para pengiklan.

Bahasan tentang media sosial tersebut hanyalah salah satu bagian, yang menunjukkan, konten buku ini selalu diperbarui, agar tidak ketinggalan oleh perkembangan nyata yang dinamis di bisnis media. Oleh karena itu, buku ini memang layak dibaca oleh para mahasiswa, dosen, dan praktisi media.

Melalui buku ini, kita akan lebih mudah memahami dunia kontemporer yang rumit dari manajemen media elektronik dan digital. Tak terhindarkan, sebagian isi buku ini memang terfokus pada topik-topik manajerial dalam konteks industri media di Amerika. Meski demikian, dalam kontennya juga ada isu-isu global serta berbagai materi lain, yang penting dan relevan bagi para praktisi media di Indonesia. ***

Jakarta, Februari 2014

Biodata Penulis:

* Satrio Arismunandar adalah anggota-pendiri Aliansi Jurnalis Independen atau AJI (1994), Sekjen AJI (1995-97), anggota-pendiri Yayasan Jurnalis Independen (2000), dan menjadi DPP Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) 1993-95. Pernah menjadi jurnalis Harian Pelita (1986-88), Kompas (1988-1995), Majalah D&R (1997-2000), Harian Media Indonesia (2000-Maret 2001), Produser Eksekutif Divisi News Trans TV (Februari 2002-Juli 2012), dan Redaktur Senior Majalah Aktual – www.aktual.co (sejak Juli 2013). Alumnus Program S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI ini sempat jadi pengurus pusat AIPI (Asosiasi Ilmu Politik Indonesia) 2002-2011.

Kontak Satrio Arismunandar:

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)