UKM Mart: Geliat Koperasi dan UKM di Tengah Gilasan Ritel Modern

Oleh Satrio Arismunandar

Pemerintah memfasilitasi berdirinya ritel-ritel modern berbasis koperasi, untuk mengangkat derajat UKM serta mendukung pemasaran komoditas lokal. Ada potensi besar untuk berkembang. Tetapi masih butuh pembuktian untuk bertahan dalam jangka panjang.

Meskipun sering disebut bahwa perekonomian Indonesia disusun berdasarkan asas kekeluargaan, nyatanya pelaku koperasi dan usaha kecil dan menengah (UKM) di negeri ini terkesan cuma menjadi “anak tiri.” Sektor ini selalu berada di pinggiran. Koperasi dan UKM tidak pernah menjadi pemain utama dalam perekonomian Indonesia.

Ritel tradisional yang hampir seluruhnya dimotori pelaku koperasi dan UKM lebih diposisikan sebagai obyek penderita dari kehadiran ritel modem. Daya saing ritel tradisional yang rendah semakin tergilas oleh peritel modern masa kini yang dibekali dengan modal besar dan cara kerja efisien. Berbagai cara sudah dilakukan pemerintah untuk membina mereka, namun belum menunjukkan hasil berarti.

Itulah sebabnya, dua tahun terakhir ini, pemerintah mencoba membuat gebrakan baru dengan meluncurkan UKM Mart. UKM Mart adalah toko ritel modern berbasis koperasi. UKM Mart ini dijadikan semacam perangsang bagi gerakan koperasi untuk lebih mampu menata kemampuan manajemennya. Kementerian Koperasi dan UKM pada 2013 memproyeksikan jumlah gerai UKM Mart mendekati 260 unit di seluruh Indonesia, dan sebagian besar penyebarannya ada di Jawa.

UKM Mart sebelumnya dikenal sebagai warung serba ada (Waserda) yang dikelola koperasi bersama anggotanya. Kemenkop lalu meningkatkan kapasitas dan kemampuan pengelolaannya, dengan menaikkan statusnya menjadi toko ritel modern. Fasilitasi yang diberikan antara lain penguatan kelembagaan, bersamaan dengan penataan sarana usaha, pelatihan, dan pendampingan. Sebagai bentuk pengembangan Waserda, standar luas gerai memiliki aturan tertentu, minimal 6 x12 meter. Struktur bangunan toko juga harus tahan sampai 5 tahun.

Mengatasi Berbagai Keterbatasan

Memang, mayoritas toko ritel milik koperasi di seluruh Indonesia memiliki keterbatasan dari aspek luas toko, varian barang, manajemen usaha, kompetensi SDM, maupun kapasitas secara kelembagaan. Pemerintah berusaha meningkatkan kemampuan mereka agar lebih mampu bersaing dalam melayani konsumennya, tidak hanya bagi anggota koperasi, tetapi juga melayani seluruh masyarakat secara umum.

Singkatnya, Waserda difasilitasi dengan dana bantuan agar menjadi minimarket modern berskala UKM. Keberadaan UKM Mart berpotensi membangun jaringan bisnis antargerai UKM Mart dan UKM dengan pemasok. Peningkatan kapasitas usaha Waserda menjadi UKM Mart dengan tagline Koperasi Kita, merupakan respons sekaligus sebagai upaya sistematis, untuk menghadapi dan menanggapi fenomena permasalahan bisnis ritel di Indonesia yang terus berkembang.

Program ini dicangkok dari toko-toko ritel modern yang telah eksis di Indonesia, tetapi model yang dikembangkan lebih menonjolkan pemberdayaan kepada lembaga koperasi. UKM Mart membuka diri secara luas terhadap pasokan komoditas lokal dari koperasi dan UKM. Meski demikian, UKM Mart itu tetap diminta mengikuti pola kemandirian, tanpa melupakan aspek profesionalisme dan identitas khas toko ritel koperasi.

Pada setiap pendirian UKM Mart, Kemenkop memberikan bantuan stimulus antara Rp 51 juta sampai Rp 65 juta kepada setiap pengelola UKM Mart. Dana tersebut dialokasikan untuk memperbaiki infrastruktur dan sarana usaha. Perbaikan yang dimaksud mencakup desain toko agar menyerupai toko ritel modern, yang dilengkapi pendingin ruangan. Juga, pengadaan produk dalam wadah rak, dan dukungan teknologi informasi untuk memperlancar transaksi.

Sedangkan pelatihan manajemen yang diberikan kepada pengelola diharapkan bisa memberikan layanan standar toko modern. Sistem pelayanan ritel modern berbasis koperasi diharapkan bisa bersaing dengan toko modern yang lebih dulu eksis. Penampilan toko UKM Mart juga dipulas agar lebih menarik. Sisi keamanan produk juga dijaga, seperti keharusan melengkapi produk dengan keterangan tanggal kadaluwarsa.

Menurut Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM, Neddy Rafinaldy Halim, sejumlah toko ritel koperasi yang telah ditata dan dinaikkan kelasnya itu ternyata mampu menunjukkan kenaikan kualitas. Indikasinya adalah jumlah konsumen atau pelanggan yang terus meningkat.

Jumlah pelanggan per toko koperasi yang semula rata-rata 50 menjadi 200 pelanggan per hari. Dengan meningkatnya jumlah pelanggan, otomatis omset meningkat dari Rp 1 juta - Rp 2,5 juta menjadi Rp 5 juta - Rp 7 juta per hari. Sementara jumlah item barang yang semula hanya dijual 1.000 item meningkat menjadi 2.500 item. Koperasi juga semakin mampu menyerap tenaga kerja sebagai pengelola toko, rata-rata ada tambahan dua orang per koperasi.

Sejumlah UKM Mart mencatat kenaikan omset sebesar 30 persen. Potensi peningkatan omset ini cukup nyata karena toserba berbasis koperasi kini memiliki budaya kerja dan infrastruktur yang sudah modern. UKM Mart yang ada di Nusa Tenggara Barat, misalnya, ada yang mampu meraup omset hingga Rp 25 juta per hari, karena jam operasi toko sudah lebih panjang. Dengan manajemen dan infrastruktur toko yang lebih baik, UKM Mart bisa menarik 50 persen lebih banyak pengunjung, sehingga jam operasi toko diminta menjadi lebih panjang.

Cokelat Dodol, Sambal, dan Rendang

Sebetulnya upaya untuk mensinergikan antara UKM dan koperasi dengan toko ritel modern bukanlah hal baru. Dalam pola kerjasama lama, UKM diharapkan bisa memperluas pasar dengan memasok produknya ke toko ritel modern. Peritel modern yang saat ini banyak menerima produk UKM adalah supermarket Carrefour Indonesia.

Ditjen Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan terus mencoba mengembangkan UKM-UKM yang memiliki potensi, untuk bisa digenjot ke pasar ritel modern. Pemerintah menjembatani para UKM lewat pameran-pameran. Ini bisa menggali UKM mana yang sudah pantas difasilitasi secara selektif, tentunya dengan pembinaan.

Misalnya, di Pontianak ada 90 UKM dan sekitar 30 persen di antaranya sudah memenuhi syarat untuk menjadi pemasok pasar modern. Terdapat 15 UKM yang bisa masuk ke pasar ritel modern seperti Carrefour. Artinya, UKM itu bisa masuk ke semua jaringan Carrefour dan pasar ritel modern lainnya juga. Beberapa produk UKM sudah berhasil masuk pasar ritel modern. Misalnya, Cokelat Dodol dari Garut, yang bahkan sudah diekspor ke Swiss, lalu Sambal Megasari Tangerang, Sambal Pohon Cabe, Rendang Carisa, dan Terosela.

Namun usaha UKM memperluas pasar dengan cara ini sulit dilakukan. Baru sedikit UKM yang berhasil menjadi pemasok untuk kebutuhan ritel modern. Menurut Sri Agustina, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, jumlah UKM yang difasilitasi Kemendag ada 4.725 pelaku. Dari angka itu sampai Mei 2013, baru 18 persen atau 850 UKM yang berhasil jadi pemasok ke ritel modern. Dari jumlah itu, sektor UKM pangan adalah yang dominan.

Banyak UKM tak bisa menjadi pemasok ke ritel modern karena berbagai alasan. Salah satunya adalah syarat yang ditetapkan oleh pihak ritelnya. Misalnya, kemampuan produksi UKM pemasok tidak mampu memenuhi order dari peritel modern, yang menjadi anggota Asosiasi Perusahaan Ritel Indonesia (Aprindo). Sebab, UKM tidak memiliki modal usaha untuk memenuhi order dalam kapasitas besar. UKM bisa memproduksi, namun ketika ritel modern meminta pasokan lebih, ternyata tidak bisa dilayani hanya karena kurang permodalan.

Melanjutkan Warisan Smesco Mart

Pendirian UKM Mart bisa dibilang merupakan modifikasi dari program lama yang dinilai gagal mengangkat derajat UKM. Warisan program lama itu adalah jaringan Smesco Mart berbasis koperasi. Smesco Mart adalah program toko ritel koperasi dan UKM yang bekerjasama dengan peritel modern, seperti PT Sumber Alfaria Tirijaya (Alfamart). Jaringan minimarket Smesco Mart berbasis koperasi hingga saat ini telah beroperasi sebanyak 93 gerai dan tersebar di pulau Jawa.

Tujuh tahun lalu, ketika menggulirkan program Smesco Mart, pemerintah telah membayar biaya franchise kepada peritel untuk digunakan oleh koperasi. Biaya franchise dari peritel modern pada saat itu adalah Rp 250 juta/toko, agar sebuah koperasi dapat menggunakan label Smesco Mart selama masa kontrak 5 tahun.

Namun sayangnya, ketika sudah habis masa berlaku kontraknya, banyak koperasi tidak mampu memperpanjang biaya franchise-nya. Keuntungan yang diperoleh pelaku koperasi dan UKM ternyata tidak cukup untuk memperpanjang masa berlaku dan membayar biaya franchise tersebut. Belum lagi, program ini terbukti tidak menguntungkan pelaku koperasi dan UKM, karena banyak produk UKM tidak bisa masuk ke toko ritel Smesco Mart tersebut.

Dibandingkan Smesco Mart, ada beberapa keuntungan dari pendirian UKM Mart, terutama bagi produsen berbagai komoditas lokal. Kebijakan yang ditetapkan Kemenkop adalah seluruh produk koperasi dan UKM bisa dipasarkan melalui UKM Mart. Persyaratan standar terhadap komoditas yang dipasarkan memang ada, tetapi disesuaikan oleh koperasi pengelola UKM Mart. Yang jelas, persyaratannya tidak sesulit ketika produk UKM hendak dipasarkan melalui pasar modern.

Jaringan usaha UKM Mart yang akan dikembangkan juga berdasarkan potensi produk lokal. Artinya, seluruh produk usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) maupun koperasi bisa dipasarkan melalui jaringan warung modern itu. Ini bisa menjadi jaminan pasokan komoditas yang dijual. Dengan konsep itu, diharapkan produk lokal atau daerah akan berkembang secara sistematis, sebab umumnya sesuai dengan permintaan pasar dari masyarakat setempat.

Bukan Sekadar “Angin Surga”

Kemenkop merencanakan, di setiap provinsi ada sekitar 30 sampai 50 unit UKM Mart. Selanjutnya, setiap daerah berkepentingan mengembangkan kelembagaan untuk melakukan penataan administrasi. Dalam hal ini, adalah Dinas Koperasi dan UKM serta Pemda setempat.

Jumlah koperasi di Indonesia saat ini mencapai 186.907 unit. Bila 10 persen dari total jumlah itu memiliki Waserda, dan bisa dikembangkan menjadi gerai modern, maka koperasi sebenarnya merupakan sebuah aset dan potensi yang besar. Maka ia tentu juga memerlukan penanganan yang lebih serius.

Kegagalan program Smesco Mart dengan berbagai kendalanya harus dijadikan pembelajaran untuk program UKM Mart ke depan. Perlu pertimbangan lebih cermat dalam menghitung prospek keuntungan ke depan bagi koperasi dan UKM, agar tidak mengulangi kegagalan Smesco Mart. Dengan kucuran dana yang lebih kecil dari program sebelumnya, yaitu hanya Rp 65 juta/gerai, untuk pelatihan manajemen hingga peralatan yang dibutuhkan agar memenuhi standar UKM Mart, mungkin sebaiknya kita jangan optimistis secara berlebihan.

UKM Mart sebagai program terbaru Kemenkop dan UKM, seharusnya tidak perlu terjebak hanya pada modernisasi koperasi, tapi harus lebih jauh dari itu. Yaitu, harus mampu mempertemukan para produsen dan konsumen produk-produk UKM, agar mudah berinteraksi. Interaksi inilah yang sebenarnya diperlukan dari program UKM Mart, karena bisa memicu pertumbuhan lebih lanjut. Bukan sekedar iming-iming keuntungan di masa depan, yang boleh jadi baru berupa “angin surga.” (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, Juli 2013


Kontak Satrio Arismunandar:

E-mail: satrioarismunandar@yahoo.com; arismunandar.satrio@gmail.com
Blog pribadi: http://satrioarismunandar6.blogspot.com
Mobile: 081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)