Sambutan Kay Rala Xanana Gusmao, PM Timor Leste di Jakarta International Defence Dialogue (Jakarta, 19 Maret 2014)

Sambutan oleh Yang Mulia Perdana Menteri
Republik Demokratik Timor-Leste Kay Rala Xanana Gusmao
pada Dialog Pertahanan Internasional Jakarta 2014

“Membangun Kolaborasi Maritim untuk Keamanan dan Stabilitas”

Yang Mulia Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. Boediono
Yang Mulia Menteri Pertahanan Republik Indonesia Dr. Purnomo Yusgiantoro
Yang Mulia Para Menteri Pertahanan
Yang Terhormat Para Delegasi
Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian

Pertama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada Pemerintah Indonesia dan panitia penyelenggara Konferensi yang bergengsi ini, karena sekali lagi telah mengundang saya untuk hadir di sini.

Ini akan menjadi momen yang spesial bagi JIDD (Jakarta International Defence Dialogue): Jika hadir, maka bagi Dr. Susilo Bambang Yudhoyono selaku Presiden Republik Indonesia ini akan menjadi terakhir kalinya beliau hadir di forum ini. Bahkan tanpa kehadiran beliau, izinkanlah saya untuk menyampaikan penghargaan kepada seorang Pemimpin, yang telah menjadi tonggak bagi forum penting ini untuk mendiskusikan isu-isu militer regional dan global.

Berkat komitmen Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia telah memainkan peran yang berharga dalam mendorong perdebatan tentang prinsip-prinsip universal, nilai-nilai kemanusiaan, dan tantangan-tantangan pembangunan. Dr. Susilo Bambang Yudhoyono terbukti adalah tokoh dengan rasa toleransi yang besar, seorang diplomat dengan keterampilan tak tertandingi, seorang Indonesia yang berkepribadian luar biasa, dan seorang negarawan yang teguh dengan karakter yang kuat.

Kami berharap bisa terus mengandalkan pada visi besar Dr. Susilo Bambang Yudhoyono, sebagaimana beliau telah memberi kita contoh lewat pendekatan-pendekatan yang baru, positif, dan berkesinambungan dari sudut pandang konseptual, untuk merumuskan kerjasama dan memperkuat hubungan.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,

Di JIDD, apa yang masing-masing coba kita tunjukkan, melalui diskusi-diskusi yang diadakan, adalah sebuah perspektif yang lebih luas dari tantangan-tantangan di zaman kita, dan khususnya tantangan-tantangan di kawasan kita, yang mungkin menuntut perhatian khusus. Subyek tahun ini adalah tentang “Membangun Kolaborasi Maritim untuk Keamanan dan Stabilitas,” yang tentu merupakan masalah penting dan pelik.

Saya harus memuji semangat sejati kerjasama, dengan keterlibatan 26 negara dalam sebuah operasi penyelamatan canggih, dengan memikirkan penderitaan mereka yang prihatin tentang nasib orang-orang yang mereka cintai. Atas nama rakyat Timor, saya ingin menyatakan solidaritas pada pemerintah Malaysia dan simpati kami yang mendalam kepada semua karib kerabat pada saat yang sulit ini.

Bagaimanapun, di sisi lain, dari apa yang telah kami amati di kawasan kita, kita semua sangat prihatin dengan kejadian-kejadian terakhir ini di Laut Cina Selatan.
Kata “maritim” membawa kita ke lautan luas atau ke laut dekat pantai kami dan, jika kita ingin menangani isu “keamanan dan stabilitas,” kita bicara tentang perbatasan bersama, ancaman-ancaman bersama, dan tantangan-tantangan bersama.

Dan ketika kita mendiskusikan semua problem (perbatasan, ancaman, dan tantangan), kita semua mengasumsikan bahwa setiap dari kita diatur oleh hukum internasional. Tanpa adanya hukum internasional itu maka hubungan antara Negara-negara dan Pemerintahan-pemerintahan tidak bisa dijalankan tanpa kerangka aturan-aturan, perangkat, dan diterima oleh semua pihak.

Aturan-aturan ini berusaha membentuk perilaku politik kita dalam kaitan kerjasama. Tanpa pengadaan perangkat prinsip-prinsip ini di mana kita semua tunduk padanya, yang berarti mengatakan bahwa kita semua berjanji untuk menegakkannya, maka bicara tentang keamanan maritim dan stabilitas akan sama seperti bicara tentang isu-isu kebijakan yang sangat samar-samar dan umum.

Sementara, subyek ini berkaitan langsung dengan kepentingan-kepentingan individual dari masing-masing negara. Khususnya negara, yang dengan satu dan lain cara, berpikir atau merasakan bahwa mereka menghadapi tantangan-tantangan di bidang ini.

Dalam banyak kasus yang memecah negara-negara, jelas terlihat bahwa ada praktik “standar ganda.” Ini biasanya dilakukan oleh mereka yang memiliki lebih banyak sarana untuk dibelanjakan bagi propaganda, bagi pengasingan (alienasi), dan bagi pengejaran kepentingan-kepentingan yang melampaui hak-hak mereka dan melanggar kepentingan-kepentingan pihak lain.

Lebih sering ketimbang tidak, demagogi biasanya menutupi usaha-usaha yang melawan nilai-nilai, terhadap mana kita semua secara prinsip sudah berkomitmen. Jika tidak demikian, menyimpang sebentar dari subyek keamanan maritim, kita menjadi bingung ketika tidak bisa menemukan akar-akar penyebab dari semua problem dunia.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,

Pada 2000, ketika kami menjalani proses sulit dalam menciptakan Negara baru dari debu, hal yang kami dengar dan ulang-ulang terhadap diri sendiri --dalam hubungannya dengan bantuan yang kami minta dan sangat kami harapkan-- adalah retorika “apa saja, asal bukan senjata.” Hari ini, ketika kami melihat konflik-konflik bersenjata di begitu banyak negara, pertanyaan yang muncul di benak kami adalah: “Dari mana datangnya senjata-senjata itu?,” “Siapa atau negara mana yang memperoleh keuntungan dari penjualan senjata-senjata itu?”

Kami mengerti bahwa kekuatan-kekuatan besar prihatin dengan senjata-senjata kimia atau senjata-senjata nuklir, dan mereka sibuk mengancam negara lain dengan sanksi-sanksi. Namun tampaknya kita semua telah kehilangan pandangan yang jernih bahwa rakyat di seluruh dunia saling bunuh satu sama lain setiap hari. Hasilnya adalah kita semua hanya menjadi heboh ketika laporan-laporan menunjukkan jutaan pengungsi, menunggu miliaran dollar bantuan internasional dari imbauan organisasi-organisasi internasional.

Jika saya keliru, saya minta Anda memaafkan ketidaktahuan saya. Namun saya tidak pernah mendengar ada perdebatan serius tentang subyek dari mana datangnya senjata-senjata itu, yang ditujukan untuk berbagai faksi di berbagai negara, untuk saling menembak satu sama lain, dan menyebabkan rakyatnya sendiri menderita.

Ada misi khusus yang diciptakan untuk memantau hak asasi manusia dan menilai kekerasan domestik di seluruh dunia, dan untuk mengukur negara terbelakang dan negara sedang berkembang dalam hal ini. Ada pengadilan-pengadilan khusus yang mahal bagi genosida. Namun yang menimbulkan rasa penasaran, tak satu pun mampu mengidentifikasi asal muasal senjata-senjata yang digunakan untuk melakukan pembantaian masal terhadap warga sipil!

Saya percaya bahwa banyak dari kita yang tertarik oleh situasi ini, yang terus menjadi realitas di beberapa tempat di seluruh dunia, dan menyulitkan pencapaian Tujuan-tujuan Pembangunan Milenium.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,

Kembali ke masalah “pembangunan kolaborasi maritim untuk keamanan dan stabilitas,” seperti sudah saya katakan sebelumnya, hanya landasan rasa hormat yang kuat terhadap hukum internasional-lah yang bisa mengatur hubungan kerjasama antara negara-negara bertetangga dan dalam konteks regional. Jika tidak demikian, akan selalu ada lingkungan ketidakpercayaan yang menimbulkan friksi-friksi dan menjurus ke peringatan-peringatan dan tanggapan terhadap peringatan tersebut, yang mungkin mengarah ke konfrontasi.

Situasi ini menyebabkan ketakutan bagi mereka yang hanya memiliki sedikit keterkaitan atau tidak ada hubungan dengan problem-problem itu, mengingat problem ini mungkin menjurus ke dampak politik, sosial, dan ekonomi, yang akan selalu mengganggu negara-negara. Khususnya ketika mereka menghadapi kesulitan-kesulitan dalam proses pembangunannya.

Saat ini, keamanan maritim mencakup aktivitas-aktivitas skala besar dan kecil. Kami memahami bahwa tren di kawasan kita adalah melindungi kepentingan maritim komersial, di tengah peningkatan ketegangan regional dan, menurut para analis pertahanan, pengintaian maritim adalah kebutuhan yang paling mendesak di Asia Timur dan Tenggara.

Menurut pendapat kami, kerjasama maritim akan memiliki makna penangkalan yang lebih besar, jika kita ingin menempatkannya demikian. Timor-Leste telah mendapat manfaat dari kebersediaan negara-negara seperti Amerika Serikat dalam latihan-latihan seperti CARAT, bahkan sekalipun kami masih jauh dari mampu untuk berpartisipasi dengan kapasitas minimum.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,

Timor-Leste adalah sebuah negara pulau (lebih tepat, negara setengah-pulau). Dengan demikian, laut adalah sangat penting ketika mendiskusikan strategi keamanan negeri ini. Timor-Leste kehilangan 50 juta dollar AS tiap tahun akibat penangkapan ikan ilegal.

Pemerintah kami juga prihatin dengan keamanan fasilitas eksplorasi perminyakan masa depan kami di wilayah laut. Maka Timor-Leste ingin memperkuat komponen maritimnya, untuk mengakhiri penangkapan ikan ilegal dan melindungi kepentingan dan investasi yang dimilikinya. Penguatan polisi maritim dan komponen angkatan laut, lewat penyediaan sumberdaya yang memadai untuk mereka, tentunya akan meningkatkan kepastian dan kepercayaan terhadap keamanan maritim negara kami.

Timor-Leste, yang baru menjadi negara merdeka selama 12 tahun terakhir, karena itu memprioritaskan kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari pembangunan kapasitas manusianya sampai konstruksi fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan. Sebagai tambahan terhadap hal ini, jelas bahwa memiliki sarana-sarana yang memadai di dalam zona ekonomi eksklusif kami, akan memungkinkan kami berpartisipasi dalam memerangi lalu-lintas persenjataan dan narkoba, serta perdagangan ilegal.

Timor-Leste saat ini sedang dalam proses bergabung dengan ASEAN. Sebagai negara kecil, kami tidak berkhayal yang muluk-muluk bahwa kami akan memberi kontribusi yang besar bagi keamanan maritim di kawasan ini. Bagaimanapun, kami mengakui adanya kebutuhan kerjasama aktif dengan semua pihak yang dekat dengan perbatasan maritim kami.

Di sini, kami harus mengatakan bahwa kami telah bicara dengan Indonesia dalam hubungan dengan pulau-pulau yang terdekat dengan kami, dan dengan Australia dalam hubungan dengan Northern Territory, dengan maksud untuk merancang sebuah persetujuan bagi rencana pengembangan terpadu.

Untungnya, segala sesuatu mengisyaratkan bahwa ada kehendak baik yang besar dari semua pihak, yang termotivasi oleh perspektif kerjasama yang lebih luas yang menghasilkan keuntungan-keuntungan konkret bagi rakyat. Kami secara tulus percaya bahwa persetujuan trilateral semacam itu akan mencakup keseluruhan potensi pembangunan ekonomi dan mengembangkan hubungan antara rakyat, sehingga setiap orang bisa hidup bahagia di planet ini.

Terbukti, keamanan maritim akan sangat penting di sebuah kawasan, yang boleh kita sebut sub-kawasan ekonomi, sosial, dan budaya. Bagaimanapun, agar kerjasama ini bisa bersifat jujur dan serius, adalah vital bahwa kita menentukan batas-batas maritim antara negara-negara, di bawah hukum internasional, dengan cara yang jelas, tanpa akal-akalan dalam bentuk apapun.

Adalah betul-betul menyakitkan hati, untuk melihat bagaimana beberapa negara, karena mereka besar, makmur, dan memiliki persenjataan kuat, adalah yang selalu bersikap lebih tidak-adil terhadap tetangga-tetangganya. Khususnya, ketika tetangga-tetangganya itu kecil dan miskin.

Hukum internasional selalu dihadirkan, dalam pernyataan yang dibuat dalam hubungannya dengan negara-negara lain. Namun hukum internasional itu disingkirkan begitu saja atau dilupakan, ketika mau memastikan keuntungan-keuntungan ekonomi besar, dengan mengalahkan prinsip kebijakan yang adil dan nilai-nilai universal, tentang hak-hak yang setara dan kewajiban-kewajiban antara rakyat dan bangsa-bangsa.

Sebagai negara baru yang sedang mengkonsolidasikan institusi-institusi negara, dan di mana sebagian besar rakyat tetap menderita kekurangan bagi kondisi minimum untuk menjalani hidup yang sehat, kami hanya bisa mengangkat suara untuk memastikan bahwa harus ada keadilan sejati di dunia, khususnya pada milenium baru ini.

Kami baru menjadi anggota penuh PBB pada September 2002, sementara banyak negara menandatangani Piagam PBB ketika organisasi itu diciptakan dan, dari waktu ke waktu, terjadi bahwa mereka dipanggil untuk menempati posisi-posisi yang relevan, termasuk di Dewan Keamanan.

Dalam satu cara, kami hanya bisa bingung dan tercengang memikirkan, bagaimana hukum internasional mungkin menang ketika pihak-pihak yang tidak menghormatinya justru akan menjadi pihak yang mengambil keputusan di badan-badan dunia yang penting ini. Alasan-alasan rumit “perang dingin” sekarang telah menjurus ke budaya manipulasi dan kecurangan yang canggih, yang berusaha mengasingkan pihak yang tidak sadar dan tidak siap.

Saya harus mengatakan, sekali untuk selamanya, bahwa kami berkomitmen dan akan selalu berkomitmen untuk tegak demi kebenaran, dengan semangat yang sama yang kita miliki di masa lalu, ketika banyak orang percaya bahwa Timor-Leste adalah isu perjuangan yang sia-sia. Kami akan mempertahankan hak-hak kami dengan keyakinan dan tekad yang sama, guna memberi kontribusi bagi keadilan antara bangsa-bangsa dan pengertian yang lebih baik antara rakyat. Dan kami percaya bahwa Konvensi Hukum Laut PBB harus memainkan peran yang efektif dalam memecahkan perbedaan-perbedaan.

Bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian,

Untuk sebuah negara kecil seperti negara kami, bicara tentang keamanan maritim, apakah dalam kerangka latihan-latihan gabungan atau pertukaran informasi, tidak akan pernah memecahkan dan mungkin bahkan secara permanen menghambat isu vital penetapan garis perbatasan maritim. Itu adalah sesuatu yang mendasar bagi kami, terlebih lagi ketika para tetangga merencanakan membeli pesawat drone untuk mengamankan sumberdaya lautan dan melindungi perbatasan mereka.

Kami dengan teguh percaya dengan semboyan “waktu berubah, kehendak berubah.” Semangat milenium baru seharusnya secara proporsional memberi rasa tanggung jawab yang lebih baik ke arah kemanusiaan pada para pemimpin dunia. Lingkungan internasional yang lebih terbuka bagi kesadaran oleh semua negara, apakah besar atau kecil, kuat atau lemah, tentang hak-hak dan kewajiban-kewajiban mereka, memberi kita harapan bahwa para pemimpin di dunia yang terglobalisasi ini ingin mengoreksi kebijakan-kebijakan yang keliru di masa lalu.

Saya ingin mengutip mantan Menteri Pertahanan AS Robert Gates. Ia yang dengan jujur menempatkan hal-hal dengan memperhatikan suatu materi yang berbeda, mengakui “kurangnya kerendah-hatian untuk menerima, bahwa tidak ada prakiraan tentang konsekuensi-konsekuensi negatif,” merupakan hasil dari keputusan-keputusan yang dibuat hanya untuk menunjukkan kesombongan dan kekuasaan.

Globalisasi mengikat negara-negara kecil, dan membuat mereka jadi sandera dari kelemahan-kelemahan mereka sendiri ketika bersaing di pasar global. Bagaimanapun, globalisasi juga menghadirkan peluang-peluang yang berharga, manakala dipertimbangkan secara layak, bagi negara-negara kecil untuk mengecam kurangnya kepercayaan baik oleh negara-negara besar, kurangnya kejujuran oleh negara-negara kuat dan kebijakan manipulasi oleh negara-negara kaya.

Globalisasi dan teknologi canggihnya pada akhirnya adalah pedang bermata dua. Semoga keamanan maritim tidak menjadi meriam berlaras ganda. Semoga usaha dalam memerangi kejahatan-kejahatan transnasional tidak mengizinkan kepentingan-kepentingan lain, khususnya dalam kerangka dominasi ekonomi, membayangi hubungan antara negara-negara dan kerjasama yang seharusnya eksis di antara bangsa-bangsa.

Yang mulia, Wakil Presiden Republik Indonesia Dr. Boediono.

Sesudah masa lalu yang sulit, Indonesia dan Timor-Leste merengkuh, hampir pada waktu yang sama, lintasan proses demokratis. Kami memuji transisi ke demokrasi yang sangat mulus dan damai pada 1997-1998, yang memungkinkan Indonesia menikmati sekali lagi “pesta demokrasi’ yang lain. Kami mengharapkan semua yang terbaik untuk bangsa besar ini dan untuk rakyat Indonesia, dan menyatakan persahabatan kami bagi semua partai politik, dan rasa hormat kami pada para pemimpin mereka.

Terimakasih.
Kay Rala Xanana Gusmao
19 Maret 2014

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)