Makna Simbolis, Jokowi Salat Ashar di Ruangan Mbah Mun

Oleh Satrio Arismunandar

Bagi sebagian besar orang, kunjungan bakal calon presiden PDI Perjuangan (PDIP) Joko Widodo (Jokowi), yang bersilaturahmi ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Anwar, Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, pada 4 Mei 2014 mungkin biasa saja. Di musim kampanye, menjelang pemilihan presiden, sudah jamak jika para kandidat berkunjung ke ponpes-ponpes untuk mengharap restu dan dukungan.

Namun, yang istimewa adalah ketika sedang berkunjung dan mendekati waktu salat Ashar, Jokowi mendapatkan perlakuan khusus dari Kyai Maimun Zubair (Mbah Mun), pemimpin Ponpes Al-Anwar. Mbah Mun adalah juga sesepuh Nahdlatul Ulama (NU) dan Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Menurut liputan merdeka.com, sebelumnya Jokowi dan Kyai Maimun tampak duduk bersandingan dan berbicara. Dalam pertemuan tertutup itu, mereka makan bersama. Setelah makan, Mbah Mun mempersilakan Jokowi masuk ke sebuah ruangan untuk menunaikan ibadah salat Ashar.

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marwan Ja'far mengatakan, ketika Jokowi minta izin untuk salat, Mbah Mun mempersilakan menggunakan kamarnya. Sedangkan Marwan dan Ketua DPP Nasional Demokrat (NasDem), Effendi Choiri juga minta izin salat, tapi dipersilakan salat di ruangan lain. "Iya benar, hanya Jokowi yang dipersilakan menggunakan ruangan Mbah Mun," kata Marwan.

Meski berpenampilan sederhana, Kyai Maimun Zubair bukanlah orang sembarangan. Ia memiliki wibawa tersendiri. Terbukti, ia juga yang mampu mengakhiri konflik yang terjadi sebelumnya di tubuh PPP. Konflik itu pecah akibat dukungan Ketua Umum PPP Suryadarma Ali kepada capres Prabowo Subianto, yang dilakukan tanpa persetujuan partai dan tidak menggunakan mekanisme organisasi yang selayaknya.

Dalam pertemuan dengan Jokowi, banyak hal yang disampaikan Mbah Mun kepada Jokowi. "Secara khusus Kyai Haji Muamin Zubair mengingatkan, jika Allah SWT menghendaki beliau memimpin republik ini, nasionalisme dan Islam harus bersinergi dengan baik," kata Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah, usai pertemuan di Ponpes Al-Anwar.

Dalam pertemuan itu, ada peristiwa “sepele” tapi mungkin mengandung makna yang besar. Tidak sembarang orang diperbolehkan untuk salat di kamar Mbah Mun. Keistimewaan yang diberikan Mbah Mun kepada Jokowi ini tampaknya punya makna simbolis tertentu. Apakah ini merupakan isyarat bahwa restu dari sesepuh NU dan tokoh PPP itu diberikan pada Jokowi? Apakah peluang koalisi PPP dan PDIP bakal segera terwujud? Banyak dugaan dan spekulasi bisa muncul.

Tanpa bermaksud melebih-lebihkan, perlakuan Mbah Mun itu menunjukkan penghormatan tertentu terhadap figur Jokowi. Paling tidak, oleh Mbah Mun ditegaskan pada publik Indonesia –yang masih perlu diyakinkan lewat simbol-simbol—bahwa Jokowi itu jelas sekali keislamannya. Mbah Mun secara tidak langsung telah membantu Jokowi, untuk menegaskan status keislaman ini. Hal ini perlu karena berbagai kampanye hitam yang ditujukan pada Jokowi seringkali menyasar ke isu-isu keislaman ini. Kadang-kadang tuduhannya absurd, tetapi bisa berpengaruh pada warga yang tak punya akses informasi luas.

Benar, bahwa demokrasi sebagai bagian dari unsur masyarakat madani (civil society) seharusnya berangkat dari pemahaman rasional, di mana setiap warganegara mampu berpikir logis, mencerna semua informasi dengan cermat, dan membuat keputusan berdasarkan nalar. Namun, dalam masyarakat Indonesia seperti wujudnya yang sekarang ini, hal-hal ideal seperti itu belum bisa selalu diandalkan. Masyarakat masih mudah dibikin bingung dengan isu-isu yang sarat emosi dan sentimen primordial.

Oleh karena itulah, Mbah Mun melakukan langkah-langkah simbolis terhadap Jokowi. Mungkin, perlakuan Mbah Mun tidak serta merta harus diartikan sebagai dukungan personal kepada figur Jokowi untuk menjadi Presiden RI. Namun, Mbah Mun ingin memberi pengajaran pada masyarakat Indonesia, tentang bagaimana seharusnya memandang dan mengapresiasi figur Jokowi.

Singkat kata, Mbah Mun ingin berkata: “Saya tidak memaksa Anda harus mendukung Jokowi. Tetapi, minimal nilailah dan berilah apresiasi pada Jokowi secara obyektif dan apa adanya. Dengan demikian, Anda bisa membuat pilihan pada 9 Juli 2014 nanti dengan selayaknya.” ***

Jakarta, 6 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).


Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI