Kekhalifahan ISIS dan Meruyaknya Krisis Irak

Oleh: Satrio Arismunandar

Gerak maju kelompok militan ISIS, yang didukung kelompok Sunni, telah menggoyahkan konstelasi politik dan militer di Irak. ISIS pun mendeklarasikan berdirinya Kekhalifahan Islam, sementara posisi Perdana Menteri Nouri Maliki semakin terdesak.

Debu bercampur asap membubung tinggi akibat serangan udara. Gempuran dahsyat terhadap posisi gerilyawan militan ISIS (Negara Islam di Irak dan Suriah) dan kubu Sunni dilakukan oleh pesawat-pesawat tempur Sukhoi Su-25 pemerintah Irak di penghujung Juni 2014. Namun, gempuran itu belum mampu menghadang gerak maju pasukan ISIS, yang kemudian malah mendeklarasikan Kekhalifahan Islam di wilayah Irak dan Suriah.

Ini adalah dinamika baru dari konflik berdarah yang terus berkepanjangan di negeri seribu satu malam tersebut. Untuk meredam manuver militer ISIS, pemerintah Irak di bawah Perdana Menteri Nouri Maliki menggunakan pesawat-pesawat Sukhoi bekas yang dibeli dari Rusia. Maliki, yang berasal dari kalangan Syiah atau etnis terbesar di Irak, kini memimpin pemerintahan yang selalu diricuhi oleh berbagai masalah.

Kekuasaan Maliki agak goyah setelah pasukan ISIS melakukan langkah ofensif militer yang cepat. Gerak maju yang mengejutkan dari pasukan ISIS, yang didukung milisi Sunni Irak, berhasil menguasai sejumlah kota dan menggoyang kekuasaan Maliki, yang memang sudah rapuh. Manuver militer ISIS menandai babak baru konflik kekerasan di Irak, yang melibatkan tiga kelompok etnis terbesar: warga Sunni, Syiah, dan Kurdi.

Sebelum serangan udara yang menggunakan pesawat Sukhoi, dikabarkan pesawat tempur Suriah juga sudah ikut campur lebih dulu untuk membantu Maliki. Pesawat jet tempur Suriah menyerang posisi-posisi gerilyawan ISIS yang sedang bergerak maju.

"Ya, jet Suriah menyerang wilayah Qaim dari perbatasan Suriah. Tidak ada koordinasi. Namun kami sambut tindakan itu. Kami menyambut serangan apa pun oleh Suriah terhadap ISIS. Namun kami tidak meminta kepada Suriah. Mereka melakukan serangan dan kami melakukan langkah kami dan pemenangnya adalah dua negara ini," ujar Maliki.

Keterlibatan Suriah dan Iran


Maliki mengatakan, ia mendukung serangan udara terhadap kelompok militan di perbatasan antara Irak dan Suriah. Irak juga mendapat bantuan militer secara diam-diam dari Iran, yang memiliki hubungan dekat dengan para pemimpin Syiah di Baghdad. Dari sudut pandang tertentu, konflik militer ini mungkin bisa dianggap semacam pertarungan antara kubu Sunni versus Syiah, karena Iran dan Suriah yang membantu Maliki dipimpin oleh kalangan Syiah.

Bagi Damascus, karena militan ISIS juga “bermain” di wilayah Suriah, maka ISIS adalah musuh bersama pemerintah Irak dan Suriah. Sedangkan bagi Iran, mendukung pemerintahan Syiah di Bagdad sudah menjadi kewajiban, sama seperti dukungan yang mereka berikan kepada rezim Suriah dan kelompok Hizbullah di Libanon. Teheran tentu punya kepentingan politis untuk mempertahankan poros Syiah, yang terdiri dari Hizbullah, Suriah, Irak, dan Iran.

Meskipun digempur sengit lewat udara, toh ISIS dan kelompok Sunni pendukungnya sudah lebih dulu berada di atas angin. Lewat rekaman yang diunggah ke internet, juru bicara ISIS Abu Mohamed al-Adnani pada 29 Juni 2014 atau awal bulan Ramadhan bahkan menyatakan, ISIS telah membentuk “kekhalifahan” yang menjangkau wilayah Irak dan Suriah.

Majelis Syura ISIS telah berembuk dan sepakat menunjuk pemimpin mereka Abu Bakr el-Baghdadi sebagai khalifah dengan julukan Khalifah Ibrahim. ISIS menyatakan, Kekhalifahan Islam –sebagai pengganti nama ISIS-- akan berdiri dari wilayah Alepo di Suriah utara hingga provinsi Diyala di Irak timur.

“Wajib bagi seluruh Muslim menyatakan kepatuhan (kepadanya) dan mendukungnya. Keabsahan semua keemiran, kelompok, negara, dan organisasi batal oleh ekspansi otoritas khalifah dan masuknya tentara di area mereka,” demikian pernyataan ISIS.

Pemimpin Baru yang Kuat

Akar keberadaan ISIS bisa dirunut ke kelompok Al-Qaeda Irak yang didirikan Abu Musab al-Zarqawi, yang tewas dibunuh oleh agen intelijen AS dan Irak. Sepeninggal Zarqawi, posisinya digantikan oleh Abu Ayyoub al-Masri yang berasal dari Mesir. Masri kemudian juga dibunuh oleh tentara AS dan Irak. Maka kini giliran Abu Bakr el-Baghdadi tampil memimpin ISIS.

Baghdadi, yang pernah menghabiskan waktu di penjara militer Amerika di Irak, disebut-sebut di dalam ISIS sebagai seorang ahli taktik perang. Ia kini semakin dilihat sebagai sosok yang lebih kuat dibanding pemimpin Al-Qaeda Ayman al-Zawahiri. Sejumlah pengamat mengatakan, pengumuman mengenai pembentukan kekhalifahan itu bisa membuka sebuah era baru jihad dengan seorang pemimpin baru yang kuat.

“Kekhalifahan itu adalah perkembangan terbesar dalam jihad dunia sejak 11 September. Ini bisa menandai lahirnya era baru jihadisme internasional,“ kata Charles Lister dari Brookings Institution di Doha. Ditambahkan oleh Lister, dengan keanggotaan ISIL yang tersebar di banyak negara, hal ini menjadikan mereka sebagai kelompok jihad yang paling kaya.
ISIS dan sekutu Sunni-nya telah menguasai sejumlah besar wilayah Irak pada Juni 2014. Serangan yang dipimpin ISIS dilakukan atas lima provinsi Irak, setelah sebelumnya merebut provinsi Deir Ezzor di Suriah yang berdekatan dengan Irak, serta Raqa di bagian utara yang merupakan bagian dari provinsi Aleppo.

ISIS merebut sejumlah kota penting di barat dan utara Irak, seperti Mosul, Tikrit, Baquba, Baiji, Kirkuk dan Samarra. ISIS lalu mengincar ibukota Irak, Baghdad. Pemerintah Irak di bawah Maliki mengalami kesulitan dalam menahan serangan kelompok militan, yang bergerak dari wilayah utara dan barat. Krisis Irak ini kini meluber ke mana-mana.

Kelompok Kurdi di Irak Utara semakin kuat dan sekarang juga berperang melawan ISIS. Padahal, kelompok Kurdi juga ditakuti oleh pemerintah Turki, yang sedang berusaha menstabilkan situasi di perbatasan ke Suriah. Krisis di Suriah juga menjadi tantangan berat bagi Yordania yang harus menampung begitu banyak pengungsi. Tidak ada yang tahu, berapa lama rezim di Yordania mampu menghadapi situasi ini tanpa terseret dalam konflik bersenjata.

Sehari setelah deklarasi Kekhalifahan Islam, pertempuran antara pasukan Irak dan ISIS berlangsung memperebutkan kota Tikrit, kota kelahiran mantan Presiden Irak Saddam Hussein. Kota itu masih dikuasai pasukan Sunni yang dipimpin ISIS.

Penasihat Militer Amerika


Amerika Serikat --yang selama ini mendukung pemerintah Maliki-- juga seperti kebakaran jenggot dengan perkembangan situasi yang sangat dinamis di Irak. Perkembangannya sudah memburuk sedemikian rupa sehingga mengancam posisi pemerintah Irak. Guna mengontrol situasi, AS pun menerbangkan pesawat-pesawat tanpa awak (drone) bersenjata ke Irak untuk melindungi personel AS di sana. Sekitar 300 penasihat militer AS juga telah dikerahkan ke Irak untuk mendukung pemerintah.

Presiden AS Barack Obama berjanji akan mengambil aksi militer “yang tepat,” jika dibutuhkan untuk mengimbangi kekuatan kelompok militan Sunni di Irak. Namun Obama menegaskan, AS tidak akan kembali tergelincir ke dalam lumpur perang. Ia memperingatkan PM Nouri Maliki dan Iran yang dianggap ikut mengobarkan sentimen sektarian, bahwa hal itu akan menimbulkan bencana di kawasan.

Namun, di sisi lain AS sendiri tampaknya mulai tidak sabar melihat gaya kepemimpinan Maliki yang eksklusif, sehingga tidak populer di Irak. Maliki dianggap gagal menyatukan berbagai kelompok kepentingan yang kini bertikai sengit di Irak. Maka figur Maliki kini sudah dianggap sebagai beban dan bagian dari masalah, sehingga ada desakan agar Maliki sebaiknya mundur saja.

Untuk meredam krisis, Maliki berupaya membentuk pemerintahan baru, namun ia menolak seruan untuk membentuk koalisi darurat yang mencakup semua kelompok agama dan etnik. “Permintaan tersebut merupakan sebuah kudeta terhadap konstitusi dan usaha mengakhiri demokrasi,” ujarnya.

Maliki juga tidak menjanjikan jumlah wakil yang lebih besar di dalam pemerintahan bagi masyarakat minoritas Arab Sunni. Sebaliknya, Maliki meminta semua kekuatan politik untuk berdamai dalam menghadapi serangan sengit kaum “teroris.”

Seruan Ayatollah Ali al-Sistani

Seruan serupa dikeluarkan oleh ulama terkenal Syiah, Ayatollah Ali al-Sistani, bulan Juni 2014. Ia mengatakan, para jihadis ISIS dan Sunni yang kini menguasai wilayah yang semakin meluas di Irak, harus diusir sebelum terlambat. “Jika mereka tidak diperangi dan diusir dari Irak, semua orang akan menyesal besok, ketika penyesalan tak lagi berarti,” kata juru bicara Sistani di kota suci kaum Syiah, Karbala.

Juru bicara itu mengatakan, warga Irak dari semua wilayah dan komunitas harus bersatu untuk memerangi para militan, yang dipimpin oleh ISIS dan terdiri dari sejumlah kelompok lain, termasuk para loyalis bekas diktator Saddam Hussein. Dia menambahkan, seruan sebelumnya dari Sistani kepada warga Irak untuk bergabung dengan pasukan keamanan ”adalah bagi seluruh warga, tanpa memandang keyakinan,“ sebuah pesan yang jelas ditujukan bagi kelompok lintas-sektarian.

Menurut penasihat rekonsiliasi nasional untuk PM Irak, Amr Khuzaie, krisis Irak saat ini lebih berbahaya daripada kekerasan brutal antara Sunni melawan Syiah pada tahun 2006-2007, yang menewaskan ribuan orang. Di waktu itu, keberadaan kelompok-kelompok militan menimbulkan perang antarkelompok. Namun, di waktu sekarang perang itu lebih terorganisasi dengan kemampuan kaum militan yang lebih besar.

Sekitar 1.075 orang, sebagian besar warga sipil, tewas di Irak selama bulan Juni 2014, menurut pengawas PBB. Tim hak asasi PBB di Irak melaporkan, paling tidak 757 warga sipil tewas di provinsi Nineveh, Diyala, dan Salahuddin antara tanggal 5 dan 22 Juni 2014. Sedangkan sekitar 318 orang lainnya tewas pada periode yang sama di Baghdad dan kawasan di Irak selatan. Juru bicara PBB Rupert Colville mengatakan, data itu harus dianggap sebagai jumlah minimum. Jumlah itu termasuk sejumlah kasus pembunuhan yang telah diverifikasi, serta polisi dan tentara yang tidak lagi ikut perang.

Keterlibatan Militan Indonesia

Yang cukup menarik adalah keterlibatan kaum militan dari Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengaku, militan dari Indonesia ada yang bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak, tetapi tidak dapat memastikan berapa banyak jumlah militan Indonesia yang bergabung.

Kepala BNPT Ansyaad Mbai mengatakan kepada BBC, terdapat indikasi ISIS melakukan perekrutan di Indonesia ataupun ada orang yang akan berangkat ke Irak atau Suriah. "Dari penangkapan-penangkapan akhir-akhir ini, sudah ada indikasi mereka itu sedang berusaha untuk berangkat ke sana,” kata Ansyaad Mbai.

Ansyaad mengatakan, dalam demonstrasi yang dikuti sekitar 15 orang, di Nusa Tenggara Barat pada bulan Mei lalu, tampak bendera ISIS dikibarkan. Mereka yang terkait dengan ISIS masih terkait dengan jaringan lama, Jemaah Islamiah. Indonesia memiliki pendekatan hukum yang berbeda dengan negara tetangga dalam memberantas terorisme. Pemerintah Malaysia telah menangkap sedikitnya 12 orang yang berencana pergi ke Suriah, untuk terlibat dalam pertempuran melawan pemerintahan Bashar al-Assad.

Sementara itu, Institute for Policy Analysis of Conflict (IPAC) yang berbasis di Jakarta, dalam sebuah laporannya Januari 2014, mengatakan, krisis Suriah telah menginspirasi para ekstrimis Indonesia ke tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Khususnya karena ajaran bahwa ”perang terakhir“ akan mengambil tempat di wilayah Suriah yang lebih besar.

Ideologi jihad yang dikobarkan ISIS kini dipandang telah mengancam stabilitas seluruh kawasan. Tidak hanya Lebanon, Suriah, dan Irak, melainkan juga Yordania dan Arab Saudi. Perang saudara di Irak bisa meluas menjadi perang sektarian yang buas dan berkepanjangan, dengan jumlah korban-korban yang tak terbayangkan. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, 5 Agustus 2014

E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com
HP:081286299061

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI