Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Social Media – Kasus Fatin Hamama

Oleh Satrio Arismunandar

Kasus yang menimpa Fatin Hamama, perempuan penyair dan ibu rumah tangga, bermula dari polemik di antara sejumlah kalangan, khususnya pegiat sastra, sesudah terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (TSIPB). Pro-kontra atau polemik terhadap sebuah buku sastra sebenarnya adalah hal yang biasa. Persoalan menjadi serius ketika salah satu pihak yang mengecam dan menolak terbitnya buku itu justru menjadikan Fatin, yang sebenarnya tidak terlibat dalam proses penerbitan buku itu, sebagai sasaran serangan-serangan di media sosial.

Fatin sama sekali bukan penggagas, penyusun, penyunting, ataupun pendana bagi terbitnya buku TSIPB. Namun fakta ini tidak digubris oleh para penyerangnya. Bahkan kalau toh Fatin betul menjadi bagian dari penerbitan buku TSIPB, serangan-serangan vulgar terhadap pribadi Fatin, seperti akan dipaparkan kemudian, tidaklah bisa diterima atau dibenarkan.

Hal itu karena serangan-serangan terhadap Fatin tersebut bukan lagi sekadar ungkapan protes biasa, namun sudah menjadi bentuk kekerasan personal terhadap perempuan, penistaan, atau fitnah. Karena tindakan kekerasan yang berlangsung cukup intens itu sudah mengganggu kehidupan Fatin dan keluarganya, Fatin pun tidak bisa lagi berdiam diri. Fatin sebagai korban kekerasan telah melaporkan dua tokoh utama di balik tindakan kekerasan itu, yakni pegiat sastra Iwan Soekri dan Saut Situmorang ke polisi.

Patut digarisbawahi di sini, tindakan Fatin menuntut atau melaporkan Iwan Soekri dan Saut ke polisi bukanlah disebabkan karena kedua orang itu mengecam atau menolak penerbitan buku TSIPB. Sama sekali, tidak. Fatin sangat paham bahwa di negara demokrasi yang menganut kebebasan berekspresi ini, Iwan Soekri dan Saut, serta siapapun lainnya, sepenuhnya berhak mengritik, memprotes, menolak, bahkan berkampanye agar orang lain tidak membeli buku TSIPB.

Namun, yang tidak dapat ditolerir adalah bahwa Iwan dan Saut telah melakukan kekerasan terhadap perempuan, muslimah, ibu rumah tangga baik-baik, dengan berlindung di balik kemasan “berjuang membela sastra Indonesia.” Fatin dalam hal ini adalah korban tindak kekerasan terhadap perempuan, yang berhak sepenuhnya melaporkan para pelaku kekerasan tersebut, demi mempertahankan nama baik, martabat, dan ketenteraman kehidupan pribadi dan keluarganya.

Menurut Deklarasi PBB tentang anti kekerasan terhadap perempuan pasal 1 tahun 1983, yang dimaksud dengan kekerasan terhadap perempuan adalah: “Segala bentuk kekerasan berbasis jender yang berakibat atau mungkin berakibat, menyakiti secara fisik, seksual, mental atau penderitaan terhadap perempuan; termasuk ancaman dari tindakan tersebut, pemaksaan atau perampasan sewenang-wenang kebebasan, baik yang terjadi di lingkungan masyarakat maupun dalam kehidupan pribadi.”

Dalam hal ini, tindakan Iwan Soekri dan Saut terhadap Fatin jelas sudah masuk dalam kategori kekerasan terhadap perempuan, karena telah berakibat menyakiti (secara mental) atau berakibat penderitaan pada Fatin (plus keluarganya, terutama anaknya). Yang lebih buruk lagi, tindakan kekerasan itu tidak dilakukan secara tertutup, tetapi terang-terangan di group FB sehingga bicara dibaca oleh ribuan orang lain atau lebih. Dengan demikian, dampak negatif tindakan kekerasannya jadi berlipat terhadap korban.

Marilah kita lihat, seperti apa tindakan kekerasan yang dilakukan Iwan Soekri dan Saut. Dalam group Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh di Facebook, pada 6-8 April 2014, Iwan Soekri mengumbar julukan “mucikari” pada Fatin, seorang perempuan, muslimah, dan ibu rumah tangga baik-baik. “Mucikari” adalah julukan yang sangat menghina dan merendahkan Fatin.

Tulisan Iwan Soekri pada 7 April 2014 pukul 5:07 pagi menyatakan: “Ada lagi yang bilang, neneknya Fatin itu Perempuan yang punya nama dan tercatat dalam sejarah. Aku balik bertanya pada orang itu: kok dia nggak malu mengaku cucunya pahlawan minangkabau itu? MEMANG DASAR MUCIKARI!!!!!!” (Huruf kapital dan 6 tanda seru dari Iwan Soekri sendiri). Selama tiga hari (6-8 April 2014), sedikitnya Iwan sudah 9 (sembilan) kali menyebut kata “mucikari” atau “mucikari sastra” dalam komentarnya di group FB, dan semua itu adalah julukan terhadap Fatin.

Dalam salah satu komentarnya, Iwan Soekri sempat menyinggung jilbab yang selalu dikenakan Fatin. Jilbab diyakini Fatin bukan sekadar sebagai identitas seorang muslimah yang ingin menjaga martabat dirinya, tetapi bagian dari suatu keyakinan keagamaan. Namun pada 8 April pukul 6:56 pagi, Iwan menulis: “.....jangan mata kita tersaput oleh jilbabnya, oleh tutur manis katanya, namun perilakunya berbisa!..”

Saut Situmorang di group FB yang sama malah menjuluki Fatin dengan julukan yang lebih kasar lagi. Pada komentarnya tanggal 18 Maret 2014 pukul 9:38 malam, Saut menantang untuk diajukan ke pengadilan, sekaligus ia juga menista Fatin. Saut menulis: “Tolong bilang ke Fatin Hamama kalok si Saut Situmorang pengen banget ke pengadilan sama dia! Tolong birahi si Saut ini dia wujudkan yaaa! Kalok gak berani, jangan ngancam-ngancam orang kayak lonte tua yang gak laku!”

Bayangkan, seorang perempuan muslimah baik-baik, yang sudah bersuami dan punya beberapa anak, disamakan dengan “lonte tua yang gak laku.” Selain terang-terangan bertentangan dengan fakta, julukan “lonte tua yang gak laku” itu adalah bentuk kekerasan verbal yang sangat vulgar. Tetapi Saut tampak enteng saja dan tidak merasa bersalah melontarkan kata-kata tidak senonoh terhadap perempuan dan ibu rumah tangga baik-baik itu, dengan berlindung di balik kemasan “sedang berjuang untuk membela sastra Indonesia.”

Saut memang tampaknya sangat “kreatif” dalam menciptakan julukan-julukan yang melecehkan Fatin. Selain julukan “bajingan” yang sering ia lontarkan terhadap Fatin, Saut pada 18 Maret 2014 pukul 9:52 malam menulis: “Gak perlu khawatir apalagi sampek takut dengan Tukang Jual Koyok yang belagak ngancam-ngancam pakek pengacara! ....”

Saut juga menantang untuk diperkarakan secara hukum, pada tulisannya di group FB, 5 April 2014 pukul 5:52 sore: “Gendis Danerek, si Fatin itu cumak berani gertak doang! Aku udah maki-maki dia dari dulu tapi kok sampek sekarang gak ada somasi dari pengacaranya yaa! Dasar sampah dia itu! Semoga dia dan para cecunguknya baca ini!” Dengan kalimat “aku udah maki-maki dia dari dulu,” Saut sendiri mengakui bahwa dia sudah sering sekali dan secara berkelanjutan memaki-maki dan merendahkan pribadi Fatin.

Dalam kasus Iwan Soekri, pernah terjadi upaya perdamaian antara Iwan Soekri dan Fatin pada Mei 2014, di mana keduanya sempat bertemu di anjungan Sumatera Barat, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), dengan dihadiri beberapa pegiat sastra lain. Iwan Soekri menyatakan mau “minta maaf,” namun belum jelas bagaimana wujud konkret “permintaan maaf” Iwan itu.

Upaya damai itu belum tuntas, dan hal itu dinyatakan oleh Iwan di group FB. Menanggapi situasi itu, Saut tidak mendukung jalan perdamaian. Sebaliknya, ia justru mengatakan di group FB pada 25 Juni 2014 pukul 10:41 pagi: “Kalok menurut aku sih: tak ada damai dengan bajingan! Perang!”

Jadi, Saut memprovokasi Iwan untuk terus memerangi Fatin sambil sekaligus menista Fatin. Seruan Saut bersambut dengan jawaban Iwan pada 25 Juni pukul 1:33 siang: “Saut Dan Katrin: Siap, bro!”

Kalau mau diperpanjang masih ada contoh-contoh lain. Namun, beberapa contoh di atas cukuplah untuk menggambarkan bagaimana bentuk kekerasan yang dilakukan Iwan Soekri dan Saut terhadap Fatin. Semua record dari contoh kekerasan oleh Iwan dan Saut disimpan oleh pengacara Fatin. Namun, jika publik mencoba mengakses semua itu di group Anti Pembodohan Buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh di Facebook mungkin semua itu sudah hilang, dan bisa jadi sudah di-delete oleh yang bersangkutan untuk “menghapus jejak” perbuatan kekerasannya.

Di bawah ini, saya akan mencoba menunjukkan berdasarkan pasal-pasal dari undang-undang yang berlaku, bahwa apa yang dilakukan Iwan Soekri dan Saut di media sosial sebetulnya secara hukum sudah termasuk perbuatan terlarang.

Pasal 27 ayat (3) UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) menyatakan, salah satu perbuatan yang dilarang adalah: “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.” Informasi yang disebarkan di group FB oleh Iwan Soekri dan Saut Situmorang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik terhadap Fatin, dan dengan demikian masuk kategori ini.

Ada ancaman hukuman untuk perbuatan terlarang itu. Pasal 45 ayat 1 UU ITE menyatakan ketentuan pidana bahwa: “Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Ronny, M.Kom, M.H (Ronny Wuisan), seorang LawBlogger atau Praktisi Hukum Telematika di Indonesia menjelaskan dalam sebuah situs online, bahwa keberlakuan dan tafsir atas Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak dapat dipisahkan dari norma hukum pokok dalam Pasal 310 dan Pasal 311 KUHP.

Demikian salah satu pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam putusan perkara No. 50/PUU-VI/2008 atas judicial review pasal 27 ayat (3) UU ITE terhadap UUD 1945. Mahkamah Konstitusi menyimpulkan bahwa nama baik dan kehormatan seseorang patut dilindungi oleh hukum yang berlaku, sehingga Pasal 27 ayat (3) UU ITE tidak melanggar nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, dan prinsip-prinsip negara hukum. Pasal 27 ayat (3) UU ITE adalah Konstitusional.

Bila dicermati isi Pasal 27 ayat (3) jo Pasal 45 ayat (1) UU ITE tampak sederhana bila dibandingkan dengan pasal-pasal penghinaan dalam KUHP yang lebih rinci. Oleh karena itu, penafsiran Pasal 27 ayat (3) UU ITE harus merujuk pada pasal-pasal penghinaan dalam KUHP. Misalnya, dalam UU ITE tidak terdapat pengertian tentang pencemaran nama baik. Dengan merujuk Pasal 310 ayat (1) KUHP, pencemaran nama baik diartikan sebagai perbuatan menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum.

Pasal 310 ayat (1) KUHP menyatakan: “Barang siapa sengaja menyerang kehormatan atau nama baik seseorang dengan menuduhkan sesuatu hal, yang maksudnya terang supaya hal itu diketahui umum, diancam karena pencemaran dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.”

Sedangkan Pasal 310 ayat (2) KUHP menyatakan: “Kalau hal ini dilakukan dengan tulisan atau gambar yang disiarkan, dipertunjukkan pada umum atau ditempelkan, maka yang berbuat itu dihukum karena menista dengan tulisan dengan hukuman penjara selama-lamanya satu tahun empat bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 4.500,-.” Penggunaan media sosial oleh Iwan Soekri dan Saut dalam menyerang nama baik dan melakukan kekerasan terhadap Fatin bisa masuk kategori “disiarkan” atau “dipertunjukkan pada umum.”

Masih ada pasal lain dalam UU ITE yang terkait dengan pencemaran nama baik dan memiliki sanksi pidana dan denda yang lebih berat lagi. Perhatikan pasal 36 UU ITE tentang perbuatan yang dilarang. Pasal itu menyatakan: "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak atau melawan hukum melakukan perbuatan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 27 sampai Pasal 34 yang mengakibatkan kerugian bagi orang lain."

Tindakan Iwan dan Saut jelas telah menimbulkan kerugian, gangguan, dan ketidaknyamanan pada Fatin dan keluarganya. Salah satu anak Fatin bahkan pernah dipanggil oleh gurunya di sekolah dan ditanyai tentang berbagai hal yang berkaitan dengan posting-posting dan serangan di media sosial terhadap Fatin. Hal ini membuat anak Fatin tertekan.

Melanjutkan penjelasan tentang pasal 36 UU ITE itu, ada ancaman hukumannya. Misalnya, seseorang yang menyebarluaskan informasi elektronik yang bermuatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik dan mengakibatkan kerugian bagi orang lain akan dikenakan sanksi pidana penjara maksimum 12 tahun dan/atau denda maksimum Rp 12 miliar (dinyatakan dalam Pasal 51 ayat 2).

Sedangkan Pasal 311 ayat (1) KUHP menyatakan: “Barangsiapa melakukan kejahatan menista atau menista dengan tulisan, dalam hal ia diizinkan untuk membuktikan dan jika tuduhan itu dilakukannya sedang diketahuinya tidak benar, dihukum karena salah memfitnah dengan hukuman penjara selama-lamanya empat tahun.”

Mengenai pasal ini, R. Soesilo (1991) dalam bukunya yang berjudul Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal, mengatakan bahwa kejahatan pada pasal ini dinamakan memfitnah. Atas pasal ini, R. Soesilo merujuk kepada catatannya pada Pasal 310 KUHP no. 3 yang menjelaskan tentang apa itu menista. Dalam penjelasan Pasal 310 no. 3, R. Soesilo mengatakan antara lain bahwa untuk dikatakan sebagai menista, penghinaan itu harus dilakukan dengan cara “menuduh seseorang telah melakukan perbuatan yang tertentu” dengan maksud tuduhan itu akan tersiar (diketahui orang banyak).

Perbuatan yang dituduhkan tidak perlu suatu perbuatan yang boleh dihukum seperti mencuri, menggelapkan, berzinah, dan sebagainya. Perbuatan tersebut cukup perbuatan biasa, yang sudah tentu merupakan perbuatan yang memalukan, misalnya menuduh bahwa seseorang telah berselingkuh. Dalam hal ini bukan perbuatan yang boleh dihukum, akan tetapi cukup memalukan bagi yang berkepentingan bila diumumkan. Tuduhan tersebut harus dilakukan dengan lisan, apabila dilakukan dengan tulisan (surat) atau gambar, maka penghinaan itu dinamakan “menista/menghina dengan surat (secara tertulis)”, dan dapat dikenakan Pasal 310 ayat (2) KUHP.

Demikianlah beberapa uraian tentang landasan hukum yang digunakan Fatin untuk melaporkan Iwan Soekri dan Saut Situmorang ke polisi. Pelaporan ini perlu dilakukan Fatin, bukan karena sikap oposisi Iwan dan Saut terhadap buku TSIPB seperti klaim keduanya, tetapi semata-mata karena tindakan kekerasan mereka yang telah melampaui batas terhadap Fatin. Fatin sebagai seorang perempuan, muslimah, dan ibu rumah tangga, yang memiliki suami dan anak-anak, sepenuhnya berhak mempertahankan nama baik, martabat, dan ketenteraman hidup diri dan keluarganya.

Tujuan kedua, kasus yang menimpa Fatin Hamama ini bisa menjadi pembelajaran publik bahwa seseorang tidak boleh melakukan kekerasan terhadap perempuan, apalagi kekerasan itu dilakukan secara berkelanjutan, melalui media sosial yang bisa diakses banyak orang. Akibatnya, kekerasan itu berdampak meluas dan melipatgandakan efek negatifnya terhadap perempuan yang menjadi korban, serta keluarga korban (terutama anak-anak). Pelaku kekerasan semacam ini tidak bisa dan tidak layak berlindung dari tuntutan hukum atas perbuatan yang dilakukannya, meski kekerasan itu dilakukan dengan dibalut kemasan indah atau slogan yang digambarkan begitu luhur, seperti “membela sastra Indonesia.” ***

Depok, 25 Oktober 2014

*Penulis adalah mantan aktivis mahasiswa, penulis puisi amatiran, dan penulis cerpen populer remaja tahun 1980-an. Karya-karyanya pernah dimuat di Majalah Gadis, Anita Cemerlang, Tabloid Mutiara, dan lain-lain.

Comments

Mohon dukungan melawan kekerasan terhadap perempuan!
Dwi Wahyudi said…
Siap mendukung Bang!!! Kalau kasusnya seperti ini memang HARUS DIBERI PELAJARAN.
Anonymous said…
Karni ilyas @karniilyas · 16 Okt
ILC; Tersinggung atau diserang kebebasan berbicara, tidak bisa dianggap justifikasi utk tindak kekerasan. (Alan M Dershowitz, Lawyer USA).
Saut Situmorang said…
Hidup Satrio Arismunandar yang telah ikut membelokkan Kasus Penipuan Sejarah Sastra menjadi Isu Gender! Apa memang yang bisa diharapkan dari seorang "penulis puisi amatiran, dan penulis cerpen populer remaja tahun 1980-an"! Hei, Satrio, kalok gitu mulailah kau bilang ke si Fatin Hamama itu bahwa kalok lain kali ngomong bela diri di media massa, JANGAN LAGI IDENTIFIKASI DIRINYA SEBAGAI PENYAIR YANG NON-GENDER ITU TAPI SELALU SEBAGAI (SAYA KUTIP KAU) "seorang perempuan muslimah baik-baik, yang sudah bersuami dan punya beberapa anak"! Terimakasih infonya bahwa seseorang yang selalu mengklaim dirinya di media massa sebagai "Fatin Hamama yang Penyair" ternyata sudah bermetamorfosis jadi "seorang perempuan muslimah baik-baik, yang sudah bersuami dan punya beberapa anak"! Dan kerna dia si Fatin Hamama itu udah mulai pakek Identitas Baru ini, Kami para musuhnya ini pun harus dia identifikasi dengan identitas yang sama jugak ya kerna di antara Kami pun ada yang muslim baik-baik, sudah beristri dan punya anak! Membelokkan isu dengan cara tidak jujur dan jelas dalam menceritakan kronologi sebuah Peristiwa adalah memang perbuatan BAJINGAN!
wahmuji said…
@Satrio Arismundandar: Makian Saut dan Iwan Soekri itu konteksnya jelas, yakni peran Fatin Hamama sebagai perantara Denny JA dan para penyair yang diminta untuk menulis puisi esai (lih. http://www.merdeka.com/peristiwa/sastrawan-mengaku-melacurkan-diri-ke-denny-ja-demi-rp-10-juta.html). Justru fakta dan konteks itu yang kamu abaikan demi mengkriminalkan makian. Memangnya kenapa kalau Fatin Hamama itu seorang perempuan?! Kalau yang dimaki Saut Situmorang dan Iwan Soekri itu laki-laki, apakah bisa disebut kekerasan terhadap laki-laki?! Ini bukan masalah gender atau kekerasan terhadap perempuan, tetapi pembelokan sejarah Sastra yang dilakukan Denny JA dengan Fatin Hamama sebagai perantaranya. Bukankah kamu juga mengaku sebagai 'penulis puisi' meski cuma amatiran? Apa kamu rela sejarah sastra dipelintir oleh seorang ahli pencitraan politik?
Anonymous said…
Hal itu karena serangan-serangan terhadap Fatin tersebut bukan lagi sekadar ungkapan protes biasa, namun sudah menjadi bentuk kekerasan personal terhadap perempuan, penistaan, atau fitnah. (Satrio Arismunandar) --> Editor senior? Kalau editor senior, maka seharusnya tahu bahwa pernyataan semacam itu HARUS DIIKUTI BUKTI, jika tidak maka pernyataan itu MENJADI FITNAH ATAU PENYESATAN PUBLIK, DAN INI BISA DITUNTUT DENGAN UU ITE. Berhati-hati Satrio Arismunandar. CEK DAN RICEK FAKTA.
Anonymous said…
Untuk menggunakan isu gender, dirimu juga harus berhati-hati Satrio, karena penggunaan isu ini dalam tulisanmu JUSTRU MEMPERLEMAH PEREMPUAN dan MENEMPATKAN PEREMPUAN SEBAGAI MAKHLUK INFERIOR, LEMAH, YANG HARUS DILINDUNGI. Jika tak memahami dengan baik feminisme, janganlah coba-coba memainkan isu ini. Pelajari setidaknya GENDER TROUBLE dan EXCITABLE SPEECH Judith Butler.
Anonymous said…
Jika mau pakai isu agama dengan penyebutan muslimah, coba diklarifikasi dulu, misalnya ke Gus Mus.
Anonymous said…
Denny JA juga bisa nuntut pake pasal kekerasan pada laki2 nih Bung! Nama baek 1 keluarga besar loh ntuh... Kesian pan anak orang~

Btw, definisi operasional nama baek (berkait dengan PERNYATAAN perempuan baek2 tadi ntuh) apa yah? Pan Ane pengen juga ngarti biar bisa ikut2an mbelain gituuuh...

Hayoh Bung Satrio, nyang cemungudh yak!
Lanjothkeun!!! :D


Saut Situmorang said…
Kalok kelakuan Goenawan Mohamad, si Pendiri AJI itu, dulu di New York dengan seorang aktivis Perempuan itu apa termasuk Kekerasan Terhadap Perempuan ya, Satrio Arismunandar? Kok kau gak pernah ramaikan atau nulis di blogmu ini tentang hal itu padahal blog kau ini kan berpretensii Membela Perempuan Yang Dilecehkan?! Pembelaan Selektif nih yeeeee! LOL
Anonymous said…
Satrio Bego! Kau tau apa? :p
Saut Situmorang said…
Satrio Arismunandar ini termasuk salah satu pencipta kondisi seperti yang disebutkan dalam berita di bawah ini tapi dengan pretensi pseudo-feminis Membela Perempuan Yang Ditindas. Selamat ya, Satrio! :p

Ini Dampak Implementasi UU ITE: Indonesia Bergelar Negara Setengah Merdeka
http://news.detik.com/read/2014/10/16/165107/2720936/10/ini-dampak-implementasi-uu-ite-indonesia-bergelar-negara-setengah-merdeka

Saut Situmorang said…
Oiya, Satrio, cobak kau belajar menulis artikel biar sedikit enak pembacamu membacanya, walo pembacamu itu lawanmu sendiri. Mosok udah nulis sejak tahun 1980an, tulisan masih kayak laporan jurnalis AJI pemula gitu! Ckckck! Nih aku kasih contoh kau gimana cara menulis yang intelektual tapi enak dibaca. Kau tirulah biar sedikit berkembang kemampuan menulismu yaa! Mosok kau mau amatiran selamanya, ckckck:

Menyelamatkan Indonesia: Mempolisikan Saut Situmorang
http://hipster-notes.blogspot.com/2014/10/menyelamatkan-indonesia-mempolisikan.html?m=1
Saut Situmorang said…
Mereka yang memakek taktik "alihkan isu" dalam sebuah perang wacana sebenarnya udah mengakui Kemenangan Lawannya! Tapi kerna Gengsi (arogansi megalomaniak) yang begitu tinggi untuk menerima Kekalahan tersebut maka dipakeklah taktik "alihkan isu" itu untuk menutupi rasa malu yang lebih dalam dibanding Samudera Pasifik dan lebih besar ketimbang Galaksi Bima Sakti! #bajingan
Imron Tohari said…
Bpk. Satrio Aris Munandar yang baik. Kita semua, termasuk saya dan bapak Satrio memang bukan pahlawan seperti para pejuang langsung angkat senjata melawan penjajah. TAPI jika bapak SATRIO ARIS MUNANDAR benar-benar mencintai Negeri ini (INDONESIA) seperti halnya para pejuang bangsa, maka tolong bapak renungkan tulisan sederhana di bawah ini. Subhanallah, Maha suci Allah dengan segala Kebenarn-Nya. Aamiin.

RENUNGAN SECANGKIR KOPI:

"Jika ingin mendapati kebudayaan suatu Negeri hancur, maka bengkokkan sejarah sastra negeri tersebut" (lifespirit)

salam lifespirit!
Imron Tohari said…
Dengan bapak membelokkan dengan isu gender dan SARA! bapak justru kian memperbodoh Publik dengan Fakta yang sebenarnya terkait munculnya kasus ini di ranah sastra INDONESIA.

Saya tidak kenal Saut Situ Morang, tidak kenal Fatin Hamama, juga tidak kenal Iwan Soekri secara langsung dan tatap wajah, apalagi dengan Deney JA. DAN saya juga punya istri yang tentu saja perempuan, ibu yang pasti perempuan, juga kami sekeluarga alhamdullillah keluarga muslim, JADI TOLONG JANGAN Bengkokkan isu dengan hal GENDER dan SARA! itu jika masih punya NURANI, sebab dampaknya akan besar untuk perpecahan, dan jika itu terjadi, ANDALAH YANG IKUT MENYEBABKANNYA. SUBHANAALLAH. Aamiin.

salam lifespirit!
Anonymous said…
Wah, istilah "sastra lendir" ala penyair Taufik Ismail lebih cocok.
Sastra Hati said…
wak wak wak ini orang kayaknya baru bangun tidur.
Jojo Rahardjo said…
Ada yg kebakaran jenggot gara-gara tulisan Satrio ini....
Saut Situmorang said…
Yang kebakaran jenggot itu siapa sampek makek Feminisme dan Agama segala cumak untuk ngalihkan isu dari Penipuan Sejarah Sastra Indonesia?! Begitulah kalok sekelompok "sastrawan amatiran" gak tau malu seenaknya masuk ke dunia Sastra Kami cumak bermodal duit untuk nyogok para sastrawan tak bermoral dan tak punya integritas! Sakit ya ditolak Sastrawan Indonesia?! LOL :p
Anonymous said…
Duo SS: Saut Situmorang dan Sitok Srengenge akan Reuni di Penjara, cipooookan ya kleaan... makan tuh klean penjara, makanya hati2 sama perempuan
Anonymous said…
Ini akun saut jg ya, liat bahasa dan gayanya, panik kalee kau ut hahahahahahaha
Anonymous said…
Kasian judith butler dipake unt membenarkan makian pd perempuan, btw di hlm brp di buku dia ya? Sotooooy lo ut hahahaaha
Anonymous said…
Ut elu ngecam2 sitok srengehek yg lakukan kekerasan pd perempuan, tapi elu juga pelaku kekerasan pd perempuan hahahahaha ngehek jg elu ut. Salam buat sitok di penjara ya, ngehek ngehek aja klean berdua hahahaha
Anonymous said…
UU Bajingan buat jerat Bajingan macam kaau Ut hahahahaha
Anonymous said…
"Tulisan intelektual dan enak dibaca" disebut gitu krn bela kau ya Ut hahahaha narsis kali kau Ut Saut Kecil, itu kebohongan hahaha badan macam babi malas kau, tapi mulut kau lebih besar hahahaha
Anonymous said…
Komenmu kacau balau Ut, lagi mabok atau panik? Ut, kalau bayar bir jangan lupa bayar ya, jangan mo mabok gratisan mulu..
Anonymous said…
Sekarang maki2 kau pake anonymous ya Ut hahaha takut ya? Hahaha
Anonymous said…
Saut dicari security di Asmara, mau digebukin lagiii gara2 minum, mabok kagak bayar hahahahahaha
Saut Situmorang said…
Anonymous?! Aku?! Yaelaaa!!! Dasar banci lu! Lu sendiri yang banci ber-anonymous ria di sini ngumbar kebejatan warisan keluarga lu malah orang lain yang lu fitnah anonymous! Cumak menunjukkan mutu lu dan kelompok banci yang sucking Denny JA's megalomaniac cock! Pakek nama asli dan foto lu, baru lu bisa dapat respek dari taik anjing di trotoar depan rumah lu! Kaciaaan...
Saut Situmorang said…
Yaelaaa sampah macam kau pun masih merasa punya muka ngasih komentar di sini?! Udah anonymous kerna takut ketahuan Saut identitasnya dan ditabok congor bancinya, eh masih pakek fitnah lagi! Ciri-khas manusia rendah yang hidupnya cumak menjilat pantat manusia rendah lainnya! LOL Huahaha!!! Mimpi apa dulu ibumu waktu mengandung sampah macam kau?! Ckckck!
Saut Situmorang said…
Security di Asmara?! Gak pernah ke Asmara nih yeee, huahaha!!! Makin kaciaan gua liat lu! Kalok gaya sih khas para penjilat yaitu sok tahu, tapi ketahuan betapa sok tahunya cumak sok tahu doang! LOL

Eh, mimik susu sana! Tuh ibu lu udah nglaporin anaknya hilang ke Komnas Perempuan tuh! Huahaha!!! LOL :p

Saut Situmorang said…
Yaelaaa bacaan lu cumak Annie Arrow doang tapi lagak lu sok tau Judith Butler segala! Prihatin, prihatiiiiin... Ckckck!
Sastra Hati said…
tulisan mantan anggota AJI cuma kayak gini??? malu-maluin AJI aja lu brur. sono belajar nulis lagi sama Khusala Mula :P
Anonymous said…
Hahaha kayak bebek semuanya
Anonymous said…
Kasian judith butler dipake unt membenarkan makian pd perempuan, btw di hlm brp di buku dia ya? Sotooooy lo ut hahahaaha--> Buat pertanyaan saja salah. :D Buku yang mana yang kamu tanyakan halamannya. =))
Saut Situmorang said…
Begitulah kalok isu Penipuan Sejarah Sastra Indonesia mau dibelokkan, dimanipulasi jadi isu karang-karangan bernama "kekerasan terhadap perempuan" maka usaha Kekerasan Atas Sejarah itu akan dengan sangat jelas nampak dari kualitas tulisan-tulisan para Tukang Manipulasi tersebut! Itu jugak beda Sastrawan dari para Sastrawan-sastrawanan alias para impostor petualang sastra yang saat ini banyak gentayangan di dunia Sastra Indonesia dengan bermodal cumak duit banyak dan muka tembok! Hahaha!!!
Saut Situmorang said…
WAJIB BACA!

Fatin Hamama: Korban Atau Bersandiwara Korban?
http://boemipoetra.wordpress.com/2014/11/01/fatin-hamama-korban-atau-bersandiwara-korban/
Anonymous said…
Hahahaha yg jadi masalah makian2mu Ut, bukan soal debat sastra, ngaku penyair tapi maki2 terus, ngaku sastrawan modalnya makian hahaha
Anonymous said…
Yg masih nenen elu Ut, sama mamak elu, terus skrng sama istri elu yg kerja mati2an, elunya cuma nganggur, kagak kerja, mabok dan maki2 orang hahaha
Anonymous said…
Buletin sampah, dulu dicetak, sekarang gak ada modal Ut? Buat mabok terus ya, kerja Ut, buka warung, bakmipoetra hahaha
Anonymous said…
PUISI JEMBUT SAUT

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu


karya Saut "Jembut" Situmorang

ada jembut nyangkut
di sela gigiMu!
seruKu
sambil menjauhkan mulutKu
dari mulutMu
yang ingin mencium itu.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata kata puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
tapi bersihkan dulu gigiMu
sebelum Kau menciumKu!

jogja, 6 januari 2002
Anonymous said…
LUAR BIASA PUISI BANG SAUT INI....
....
LUAR BIASA JELEK DAN BODOHNYA HAHAHAHAHAHAHA
Jojo Rahardjo said…
Lumayan menghibur perdebatan para sastrawan di sini. Segala jembutpun dibahas....
Anonymous said…
Huft, macam yang tau persoalan aja kau
Anonymous said…
kenapa harus bawa2 seorang ibu? duh bang saut memang tidak bisa menjaga ucapannya
Anonymous said…
HAHAHA Manusia RENDAH MACAM SAUT bisanya merendahkan perempuan, ibu yg gak terlibatpun dibawa2, GWA GAK IKUT2AN RENDAH MACAM KAU, IBUMU MULIA, ANAKNYA YANG HARAM JADAH, BANCI lebih berani dari kau Ut, yg cuma berani memaki perempuan hahaha. Banci bisa cari makan sendiri, kau kecoak, benalu, makan dari istri HahHhahHhHhHaaa
Anonymous said…
2 judul buku sdh disebut oleh suamimu wahai katrin bandel, maka pertanyaannya di halaman berapa di buku judith itu yg dikutip suamimu? Tolong bilangin suamimu, jangan bandel bandel ya, krn namanya saut situmorang, bukan saut bandel hahahahaha
Anonymous said…
Faitin dimaki2 saut konteksnya buku 33 tokoh sastra yg berpengatuh, yg dia tdk terlibat. Loh menggalang sastrawan menulis puisi esai apa yg salah? Tanya aja knp sastrawannya mau. Karya berasarkan pesanan hal yg lumrah dlm dunia seni, makanya ada istilah commision work. Yg salah kalau pesanan itu menjungkir balikkan yg benar dan yg salah.
Anonymous said…
Banci tdk rendah wahai saut bandel, krn banci bisa makan sendiri, drpd kau hidup dan mabok numpang istri dan titarubi hahaha saut bandel hahahahahaha
Saut Situmorang said…
Monyet aja kalok ngasih komentar bangga nunjukin identitasnya sebagai monyet, kau?! Iya, banci memang jauh lebih berani dan punya integritas ketimbang Penjilat Pantat Denny JA pengecut macam kau! Hare gene masih ANONYMOUS! LOL :p
Saut Situmorang said…
This comment has been removed by the author.
wahmuji said…
Fatin memang bukan anggota Tim 8, tetapi pengesahan Denny JA sebagai Sastrawan Paling berpengaruh didasarkan, salah satunya, pada puisi esai yang ditulis oleh sastrawan yang dibayarnya khusus untuk menulis. Dengan begitu, Fatin tidak bisa dipisahkan dari buku 33 Tokoh Sastra. Pengabaian fakta semacam ini sungguh menggelikan dan konyol.

" Loh menggalang sastrawan menulis puisi esai apa yg salah?" Tentu saja salah! Itu karena penggalangan ini merupakan bagian dari upaya Denny JA untuk mengklaim dirinya hebat dan paling berpengaruh.

"Karya berasarkan pesanan hal yg lumrah dlm dunia seni, makanya ada istilah commision work." Memang ada, tetapi tidak bisa dikatakan lumrah. Karya bayaran menempati posisi yang rendah dalam dunia seni. Sedangkan dalam kasus Denny JA, posisi karya yang rendahan semacam itu jadi legitimasi bagi dirinya sendiri. Justru Denny JA yang "menjungkirbalikkan yang benar dan yang salah".

Anonymous said…
Iya mas, bang saut humoris jg ternyata, masa ada jembut nyangkut di gigi Tuhan. Kayak judul puisi dia Saut Kecil Mencari (Jembut) Tuhan xixixixixixi..
Saut Situmorang said…
Kok kau ngingatin aku sama Bajingan Besar Pengecut bernama Radityo Djadjoeri yaaa?! Si Bajingan itu jugak sukak makek banyak akun anonim untuk nyerang lawan-lawannya yang gak berani dia serang terang-terangan seperti Farid Gaban dan yaah aku. Pasti kalian ada hubungan darah nih, satu bapak dan dua gendak peliharaan. Anak haram kan memang banyak dihasilkan komunitas liberal bejat kalian KUK-Salihara yang sekarang gentayangan secara anonim di internet, hahaha! Dan persis macam si Radityo Bajingan Pengecut itu, matinya pun kalian persis macam gaya hidup kalian: di tempat najis macam kakus, sendirian, baru ditemukan setelah bau bangkainya bikin mabuk cicak-cicak di dinding rumah kosan! Kasihan...
Saut Situmorang said…
This comment has been removed by the author.
Saut Situmorang said…
Kasihan aja liat ada perempuan yang sampek bisa lahirin sampah macam kau! Udah bajingan mulut besar, tukang fitnah murahan, anonim lagi di internet! Babi aja geleng-geleng kepala liat kau! Pasti kau anak haram nih! HAHAHA!!!
Saut Situmorang said…
Iri nih yeee gak bisa bikin puisi sedahsyat ini! Sampek kau ingat gitu secara mendetil kata, baris dan tipografinya! Wah jadi malu aku, hahaha...
Saut Situmorang said…
Satu-satunya jurnal yang mampu bikin Goenawan Mohamad and the Gangsters gak bisa tidur nyenyak kerna membongkar semua kedok busuk mereka sebagai buayawan kaaan! Hahaha!!! Dan terbit Tujuh Tahun tanpa harus ngemis funding ke Ford Foundation, Asia Foundation, dan George Soros kaaan! Huahaha!!!
Anonymous said…
Wkwkwkwk....seruuuuuu kalok para 'SASTRAWAN & PENYAIR' pada berantem kayak gene...lumayan menghibur....saran gw Ut elu buruan minta maaf sonoh daripada entar nyesel dan mewek di penjara bareng stok
Anonymous said…
wkwkwk pantesan aje endonesa kagak maju-maju, the so-called sastrawannya ga punya karya,
cuman jago ribut doang!

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)