Pembantaian Gaza sebagai Strategi Penghancuran Perdamaian

Oleh: Satrio Arismunandar

Pemboman brutal terhadap warga Palestina di Gaza adalah penghancuran sistematis, yang sengaja dirancang Israel untuk menghancurkan setiap peluang perdamaian. Rezim Zionis Israel di bawah PM Benjamin Netanyahu tidak benar-benar serius menginginkan perdamaian.

Kalau ada media yang menulis bahwa di Jalur Gaza, wilayah Palestina, pada Juli 2014 terjadi perang antara Palestina melawan Israel, maka pernyataan itu salah besar. Yang terjadi sebenarnya adalah pembunuhan atau pembantaian massal. Warga setempat yang tidak punya persenjataan canggih atau sistem pertahanan udara melawan pesawat-pesawat tempur paling canggih buatan Amerika, yang dikerahkan secara membabi buta oleh Israel.

Dari 172 korban tewas dan lebih dari 600 korban luka di pihak Palestina, sampai pertengahan Juli 2014, terlihat bahwa mayoritas korban adalah warga sipil. Mereka termasuk orang tua, perempuan, dan anak-anak. Sementara di pihak Israel sangat minim, atau bahkan bisa dibilang tidak ada korban sama sekali, dalam konflik berdarah yang tidak seimbang ini.

Ini bukan pertama kalinya militer Israel bertindak brutal. Serangan Israel serupa ke Gaza pada Desember 2008, menewaskan 1.400 orang, 350 di antaranya adalah anak-anak. Waktu itu lebih dari 5.000 orang terluka. Sedangkan pemboman masif oleh pesawat-pesawat Israel selama 8 hari pada November 2012 telah menewaskan 150 warga Palestina di Gaza, 33 di antaranya anak-anak.

Israel menggunakan dalih penculikan dan tewasnya tiga remaja Israel, yang dengan enteng langsung dituduhkan bahwa pelakunya adalah kelompok Hamas, sebagai dalih untuk menyerang Gaza. Sebenarnya bagi Israel tidak penting apakah pelaku penculikan itu sebenarnya adalah Hamas, atau kelompok lain, atau bahkan intelijen Israel sendiri. Karena yang penting bagi Israel adalah perlu ada kasus sebagai pemicu, untuk pembenaran bagi agresi ke Gaza, yang memang sudah dirancang sebelumnya.

Alasan semacam itu mudah dicari atau direkayasa. Warga Palestina hidup terisolasi di Gaza. Sedangkan arus keluar-masuk manusia dan barang kebutuhan di sana lewat gerbang Rafah dikontrol oleh Israel, dengan meminjam tangan militer Mesir. Tekanan kehidupan yang tanpa prospek masa depan --di bawah “kepungan permanen” militer Zionis Israel-- bisa dikondisikan untuk memprovokasi munculnya aksi kekerasan dari pihak Palestina.

Misalnya, serangan roket sporadis dari pihak Hamas, yang ditujukan ke kota-kota Israel. Serangan ini sebetulnya muncul lebih berbasis pada rasa frustrasi berkepanjangan, rasa sumpek dan putus asa, yang muncul akibat sekian lama di bawah pengepungan Israel. Namun serangan roket yang berangkat dari rasa frustrasi yang diprovokasi ini justru dimanfaatkan Israel sebagai dalih, untuk melancarkan serangan udara besar-besaran terhadap wilayah Gaza.

Konsisten melanggar resolusi PBB

Pertanyaannya kemudian, apa manfaat ingin yang diraih Israel dari agresi militernya ke Gaza tersebut? Berbagai kecaman masyarakat dunia jelas langsung tertuju ke Israel dan ini adalah harga yang sudah diperkirakan oleh Israel. Namun, Israel sangat paham bahwa selain kecaman, retorika anti-Israel, resolusi PBB, dan berbagai demonstrasi protes, tidak ada dampak yang serius terhadap Israel. Apalagi kawasan Timur Tengah saat ini sedang disibukkan oleh berbagai krisis politik lain di Mesir, Irak, Suriah, Afganistan, yang juga menyita perhatian internasional.

Israel adalah negara yang paling konsisten dalam melanggar semua resolusi Dewan Keamanan PBB dan seruan internasional lain, praktis tanpa sanksi apapun karena ia selalu dilindungi Amerika. Ketidak-kompakan dan terpecah belahnya negara-negara Arab dalam menyikapi masalah Palestina, dan adanya konflik internal di antara sesama kalangan Arab sendiri, adalah fakta yang membuat Israel bisa malang melintang seenaknya di kawasan Timur Tengah. Hal ini juga sudah diketahui dengan baik oleh Israel.

Satu-satunya negara yang membela agresi militer Israel dengan alasan yang absurd dan dibuat-buat adalah Amerika. Alasan pembelaan Amerika bahwa “Israel berhak membela diri dari serangan Hamas” terasa sangat naïf. Hal itu karena faktanya adalah justru populasi Palestina di Gaza, yang secara berkesinambungan harus membela diri dan bertahan hidup dari “pencekikan sistematis” atau “pembunuhan pelan-pelan” oleh pihak Israel. Terputus atau tersambungnya urat nadi kehidupan warga Palestina di Gaza sangat ditentukan oleh “kemurahan hati” Israel.

Agresi militer Israel bukanlah aksi kebetulan atau sekadar respons terhadap insiden di lapangan, namun adalah bagian dari suatu strategi untuk menghambat proses perdamaian yang makin mengarah ke pembentukan Negara Palestina merdeka dan dianggap membahayakan kepentingan rezim Zionis. Dalam bahasa lain, Israel sebenarnya tidak serius menginginkan perdamaian seperti yang dimaui Palestina.

Israel secara normatif tidak bisa menghindar dari proses perdamaian Israel-Palestina yang disponsori Amerika, Rusia, Uni Eropa, dan didukung masyarakat internasional. Namun pemerintahan Israel di bawah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu tidak rela memberikan hak-hak rakyat Palestina. Israel didesak untuk mengembalikan wilayah Jerusalem Timur sebagai ibukota Palestina, memberikan hak pengungsi Palestina yang terusir dar tanahnya untuk kembali ke Palestina, kedaulatan penuh untuk Negara Palestina merdeka, dan sebagainya.

Memperluas permukiman Yahudi

Maka Israel biasa memainkan kartu perundingan damai dengan cara mengulur-ulur waktu, seraya menciptakan penghalang di sana-sini, untuk memperlambat proses perundingan damai. Misalnya, dengan terus memperluas permukiman Yahudi di tanah-tanah Palestina di Tepi Barat. Israel sering memunculkan tuntutan-tuntutan baru yang tidak pernah ada sebelumnya, untuk membuat proses perundingan macet.

Kemudian, ketika pihak Palestina tak sabar dan mulai bersikap keras, Israel menjadikannya sebagai alasan untuk juga bersikap keras. Israel leluasa melakukan hal itu sebagian karena adanya perpecahan di pihak Palestina, antara otoritas Palestina (faksi Fatah yang nasionalis) yang berbasis di Tepi Barat dan Hamas (faksi Islam) yang berbasis di Jalur Gaza.

Kesal dengan kelakuan Israel, otoritas Palestina yang waktu itu di basah Presiden Mahmoud Abbas membuat terobosan, dengan membentuk pemerintahan gabungan yang melibatkan Hamas. Bersatunya kubu Fatah dan Hamas bisa memperkuat posisi Palestina, namun justru hal inilah yang paling dikhawatirkan dan tidak disukai Israel. Dengan dalih bahwa otoritas Palestina menjalin aliansi dengan “organisasi teroris” Hamas, Israel pun menghentikan proses perundingan.

PM Netanyahu mengultimatum otoritas Palestina, bahwa jika Palestina memilih berdamai dengan Israel maka jangan coba-coba melibatkan Hamas. Namun otoritas Palestina jalan terus dengan rekonsiliasi Fatah-Hamas. Dari sini Israel melihat, perlu diciptakan “situasi baru di lapangan” untuk memporak-porandakan aliansi Fatah-Hamas tersebut. Agresi militer besar-besaran oleh Israel ke kota-kota di Gaza yang dikuasai Hamas adalah “penciptaan situasi baru” di lapangan tersebut.

Semua yang terjadi di Gaza, Palestina itu bergema juga di Indonesia. Isu Palestina terangkat dalam acara debat calon presiden, ketika capres Joko Widodo (Jokowi) secara tegas mengatakan mendukung terbentuknya negara Palestina merdeka, dan akan mendirikan perwakilan tetap Indonesia di Ramallah, Tepi Barat. Jokowi juga mengecam keras agresi militer Israel ke Gaza, dan menyerukan pada pemerintah RI agar menggalang dukungan internasional bagi warga Palestina.

Capres lain, Prabowo Subianto, bergegas tak mau kalah, dengan mengatakan akan menyumbangkan uang sebesar Rp 1 miliar untuk warga Palestina di Gaza. Jika penempatan perwakilan tetap RI di Ramallah –seperti diusulkan Jokowi-- itu jadi terwujud, ini berarti Indonesia telah melangkah lebih jauh dari kebijakan luar negeri RI di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, 15 Juli 2014

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)