Tanggapan Terhadap Iwan Soekri dan Saut Situmorang: Melawan Fitnah, Penistaan, dan Pembunuhan Karakter

Oleh Fatin Hamama

Surat pernyataan ini saya tulis dengan tujuan meluruskan berbagai disinformasi, bahkan bisa dikatakan sudah menjadi fitnah dan pembunuhan karakter, yang telah dilancarkan terhadap saya akhir-akhir ini oleh dua orang pegiat sastra, yaitu Iwan Soekri dan Saut Situmorang. Sebenarnya saya malas berurusan dengan dua nama tersebut. Namun karena berbagai pernyataan mereka disiarkan terbuka melalui media sosial, dan telah sangat merugikan saya dan keluarga saya, terpaksalah saya membuat surat pernyataan ini.

Tujuan lain surat pernyataan ini adalah sebagai pembelajaran publik, bahwa orang tidak boleh seenaknya menyalahgunakan kebebasan berekspresi di media sosial untuk melakukan kekerasan (dalam bentuk verbal) terhadap perempuan, mengumbar tuduhan-tuduhan keji dan fitnah yang tidak berdasarkan fakta, dan penggunaan kata-kata kotor dan vulgar terhadap orang lain yang jauh dari sikap beradab.

Yang membuat persoalan melebar adalah serangan personal mereka terhadap saya pribadi dikemas dan dikaitkan dengan isu atau cause yang lebih besar, masalah dunia sastra Indonesia (!), sehingga fitnah personal itu seolah-olah mendapat “pembenaran.” Cause tersebut, kalau memang layak disebut begitu, adalah pro-kontra terhadap penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang sempat menimbulkan polemik belum lama ini, serta figur Denny J.A. yang terkait dengan buku itu.

Padahal saya tidak pernah terkait sama sekali dengan penerbitan buku itu, baik dari segi ide/gagasan awal, pemilihan tokoh, proses editing, sampai penerbitannya. Tetapi fakta ketiadaan hubungan saya dalam bentuk apapun dengan buku itu tidak digubris, dan mereka terus melancarkan serangan pribadi dan tuduhan-tuduhan keji pada saya.

Dengan taktik kotor –lewat kemasan yang diada-adakan, seolah-olah berkaitan dengan cause kesusastraan yang agung itu-- mereka mengira bisa menggalang dukungan dari komunitas sastra, yang mungkin tidak paham betul tentang apa yang sebenarnya terjadi. Atas berbagai tindakan mereka yang telah sangat merugikan saya secara pribadi, saya berhak sepenuhnya dan telah melakukan tindakan hukum dengan melaporkan mereka kepada polisi.

Bersama ini, saya akan mencoba mengklarifikasi berbagai disinformasi, tuduhan, dan fitnah yang ditujukan kepada saya satu-persatu. Yakni, agar komunitas sastra yang lebih luas memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Saya tidak punya kemampuan mengatur-atur opini dan pandangan komunitas sastra, tetapi demi integritas saya pribadi dan ketenangan hidup keluarga saya, saya harus bicara di sini. Sekadar Anda tahu, putri saya yang tak tahu apa-apa di sekolah sempat tertekan, karena dipanggil oleh gurunya dan ditanyai tentang kasus ini.

Berikut ini adalah beberapa klarifikasi dari saya:

Pertama, tidaklah benar jika dikatakan bahwa saya, Fatin Hamama, melaporkan Iwan Soekri ke polisi karena terkait dengan kritik Iwan terhadap buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (TSIPB). Sudah saya jelaskan seara gamblang di atas tentang alasan mengapa saya melaporkan Iwan dan Saut ke polisi. Ini benar-benar kasus serangan personal ke pribadi saya, tidak ada hubungannya dengan buku TSIPB.

Saya tidak terlibat dalam bentuk apapun dengan penerbitan buku TSIPB dan hal ini dengan mudah bisa ditanyakan atau dikonfirmasi ke para anggota Tim 8, yang nama-namanya sudah jelas (Jamal D. Rahman, dkk), yang menyusun buku tersebut. Tetapi hal ini tidak pernah dilakukan Iwan dan Saut. Mereka lebih suka mengumbar tuduhan daripada mencari kebenaran faktual. Tuduhan bahwa saya menjadi penggagas buku TSIPB adalah sepenuhnya fitnah dan kebohongan.

Kedua, saya membantah keras tuduhan keji dari Iwan Soekri yang dimuat di status FB-nya, bahwa saya telah menipu teman-teman sastrawan dan melakukan penggelapan dana. Fakta sebenarnya berbeda seperti langit dan bumi dengan tuduhan itu, dan bisa saya jelaskan secara privat pada rekan-rekan yang serius ingin mengetahui faktanya. Namun, saya tidak mau mengumbarnya di media sosial justru karena mau melindungi nama baik sastrawan tertentu. Sayangnya, dengan menyesal harus saya akui, terkadang niat baik kita tidak dihargai justru oleh orang yang kita coba lindungi nama baiknya. Mereka juga berdiam diri saja ketika fitnah dilancarkan pada saya, padahal mereka tahu persis fakta sebenarnya.

Ketiga, setelah saya laporkan ke polisi, Iwan Soekri yang didampingi beberapa rekannya pernah bertemu dengan saya. Waktu itu pihak Iwan mengatakan ingin berdamai dan minta maaf. Namun, dalam pertemuan di anjungan Sumatra Barat, Taman Mini Indonesia Indah itu, ketika saya tanyakan bagaimana bentuk konkret permintaan maafnya, pihak Iwan tidak memberikan jawaban yang jelas. Mereka hanya berjanji akan mengontak lagi untuk membahas bentuk konkretnya,

Salah satu yang mendampingi Iwan saat itu adalah orang yang saya anggap dituakan di antara mereka, yaitu Kapitra Ampera. Kapitra mengatakan ke saya dan dihadapan yang hadir saat itu bahwa mereka datang bertemu saya dengan niat untuk minta maaf. Namun mereka tidak meminta saya untuk mencabut perkara atau tuntutan, yang sudah saya laporkan ke polisi (pernyataan yang aneh menurut saya). Karena itu, dengan berjalannya waktu, proses hukum jalan terus dan Iwan pun kemudian dipanggil polisi, sekitar Juni 2014.

Di tengah proses itu, Saut Situmorang ikut nimbrung, dengan mengomentari status Iwan di FB. Pernyataan Saut saat itu sangat provokatif dan sama sekali tidak mendukung ke arah proses perdamaian, tetapi malah sebaliknya. “Jangan mau damai dengan bajingan!” begitu tulis Saut, memprovokasi Iwan sekaligus menista saya. Saut jelas memprovokasi Iwan untuk tidak berdamai dan dengan demikian mementahkan lagi semua proses perdamaian yang sudah pernah ada. Dalam berbagai postingnya sebelumnya, Saut secara vulgar juga sudah menista saya dengan berbagai julukan yang tidak senonoh dan terlalu keji, sehingga saya pun tidak sanggup memuatnya di sini.

Atas dasar serangan-serangan personal, penistaan yang vulgar, pembunuhan karakter (dalam perspektif feminis, tindakan Saut bisa dianggap sebagai kekerasan terhadap perempuan) inilah maka saya melaporkan Saut ke polisi. Jadi jika Saut dipanggil polisi, itu tidak ada hubungan apapun dengan penerbitan buku TSIPB dan Denny J.A., tetapi akibat tindakan kejinya sendiri yang dilakukan terhadap saya.

Jadi taktik kotor Saut untuk menggalang dukungan di kalangan komunitas sastra, terkait dengan laporan saya ke polisi, adalah bentuk pengalihan isu. Dengan mengaitkan-ngaitkan ke masalah buku TSIPB dan Denny J.A., Saut bersikap manipulatif. Ia ingin mengecoh komunitas sastra dengan “isu sastra yang besar dan penting,” padahal dasar kasusnya adalah penistaan personal yang dilakukannya secara vulgar terhadap saya.

Demikianlah pernyataan terbuka ini saya tulis dengan sebenar-benarnya. Karena saya tidak punya akun Facebook atau blog, saya minta tolong ke beberapa rekan untuk menyebarkannya di media sosial. Karena fitnah terhadap saya dilakukan di media sosial, saya terpaksa harus menjawab juga di media sosial. Saya berharap, tulisan ini bisa mengklarifikasi apa yang sebenarnya terjadi antara Iwan Soekri, Saut Situmorang, dan saya. Saya berharap rekan-rekan komunitas sastra bisa memahami masalah ini dengan sejelas-jelasnya.

Saya tidak menuntut anda harus percaya begitu saja pada saya. Maka saya persilakan anda untuk mengkonfirmasi pada pihak-pihak yang terlibat, yang bisa memberi informasi faktual dan obyektif tentang masalah ini. Saya berdoa pada Allah SWT agar dilindungi dan diselamatkan dari penistaan dan fitnah keji di media sosial, yang sekarang dilancarkan pada saya dan telah merugikan saya beserta keluarga. Saya percaya, cepat atau lambat kebenaran pasti akan terkuak.

Jakarta, 23 Oktober 2014

Comments

Saut Situmorang said…
Semua yang menentang kau itu Tukang Fitnah dan Dusta yaaa! Suci kali kau, Fatin Hamama! LOL >>> Empat sastrawan ini mengaku diperalat Denny JA http://www.merdeka.com/peristiwa/empat-sastrawan-ini-mengaku-diperalat-denny-ja.html
Saut Situmorang said…
Masih ingat gak kau waktu acara Temu Sastra di Jakarta tempohari, kau pun mengancam akan mempolisikan penyair Cirebon, Ahmad Syubbanuddin Alwy alias Alwy, yang jadi MC acara cumak kerna dia bikin joke kecil tentang namamu yang maha suci itu! Ckckck!
Saut Situmorang said…
Sudah empat penyair merasa diperalat Denny JA
http://www.merdeka.com/peristiwa/sudah-empat-penyair-merasa-diperalat-denny-ja.html
Saut Situmorang said…
"Saya sangat malu dan menyesal ikut menuruti "pesanan" Denny JA lewat Fatin Hamama untuk menulis puisi esai. Sebab, menulis puisi esai bukanlah pilihan hati nurani saya sebagai penyair, tapi lebih karena pesanan dan godaan honor yang besar. Saya menyesal, karena telah menulis puisi esai hanya demi uang suatu orientasi penciptaan atau motivasi yang rendah dalam bersastra.

Semula sebenarnya saya sempat menolak keras ketika diminta Dennya JA lewat Fatin Hamama untuk menulis puisi esai, karena sudah mencium bakal adanya politisasi sastra dengan gelagat yang kurang sehat. Selain itu, dengan memenuhi pesanan puisi jenis WOT (wrote on demand) ditulis berdasarkan pesanan -- itu sama saja dengan "melacurkan diri" dalam sastra.

Saya sempat berdebat keras dengan Fatin di Tamini Square, disaksikan Mustafa Ismail, Remy Novaris DM, dan Dad Murniah, dan sampai akhir pertemuan saya tetap bersikeras menolak pesanan itu. Tapi, Fatin terus merajuk, dan rajukannya terus berlanjut lewat sms sampai saya pulang. Sialnya, sekitar dua hari kemudian, saya terdesak kebutuhan dana sosial (ya beginilah nasib penyair, sering kekurangan uang untuk mememuhi kebutuhan mendadak).

Akhirnya, karena perlu dana mendesak, tawaran Denny lewat Fatin itu saya jawab dengan lebih lunak,"Oke saya akan tulis puisi esai, asal honornya Rp 10 juta."

Setelah sempat tawar menawar (mirip pelacur ditawar lelaki hidung belang lewat mucikari ) akhirnya Denny sepakat membayar puisi esai saya Rp 10 juta. "Yah, sesekali tak apalah jadi pelacur sastra asal pelacur yang mahal," pikir saya. "Kan hebat, satu puisi dibayar 10 juta.... He he he." (Ahmadun Yosi Herfanda)

Sastrawan mengaku melacurkan diri ke Denny JA demi Rp 10 juta
http://www.merdeka.com/peristiwa/sastrawan-mengaku-melacurkan-diri-ke-denny-ja-demi-rp-10-juta.html
Saut Situmorang said…
JANGAN DIHAPUS YA KOMENTAR-KOMENTAR SAYA DI SINI DAN DI TEMPAT LAIN DI SITUS KAU INI, SATRIO ARISMUNANDAR!
Saut Situmorang said…
Mereka yang memakek taktik "alihkan isu" dalam sebuah perang wacana sebenarnya udah mengakui Kemenangan Lawannya! Tapi kerna Gengsi (arogansi megalomaniak) yang begitu tinggi untuk menerima Kekalahan tersebut maka dipakeklah taktik "alihkan isu" itu untuk menutupi rasa malu yang lebih dalam dibanding Samudera Pasifik dan lebih besar ketimbang Galaksi Bima Sakti! #bajingan
Jojo Rahardjo said…
Hahahah... banyak kali komen Saut ini.
Imron Tohari said…
"Jika ingin mendapati kebudayaan suatu Negeri hancur, maka bengkokkan sejarah sastra negeri tersebut" (lifespirit)

jangan biarkan anak cucu kita kehilangan fakta sejarah sastra Indonesia yang sebenar-benarnya.

salam lifespirit!
Saut Situmorang said…
Trus apa persoalan kau?!
Anonymous said…
Saut panik, komennya banyak banget, tapi sudah tdk berani dia maki2, ayooo saut maki2 lagi, habiskan kata2mu... bukankah makian buatmu itu sdah jd local wisdom? "Dengan Makian, Aku Ada" Saut Situmorang
Anonymous said…
Hajar ut, ayo maki2...
Anonymous said…
Mana makianmu Ut? Saut uda takut? Saut tekuk lutut? Ayoo ut maki maki dan maki hahaha
Anonymous said…
AYOOO MAKI MAKI UT HAHAHAHA
Anonymous said…
Hahaha bohong kali kau Ut, kau lah yg dilaporkan ke Polisi kagak usa bawa nama2 lain kau bajingan hahahahaha
Saut Situmorang said…
Lho, si Banci Anonim ada jugak di sini! Jauh amat lu melalaknya, Banci, pantes ibu lu gak nemu udah nyariin lu seharian! Tau gak, ibu lu udah ngadu ke Komnas Perempuan tuh ngelapor kalok anaknya ilang jangan-jangan disodomi gendruwo! Serius loh!!!
Saut Situmorang said…
Bilang aja ama si Fatin Hamama: Sampai Jumpa Di Pengadilan Yaa! Tidak Ada Damai Dengan Bajingan!!! Muuuaaaaach! :p
Saut Situmorang said…
WAJIB BACA!

Fatin Hamama: Korban Atau Bersandiwara Korban?
http://boemipoetra.wordpress.com/2014/11/01/fatin-hamama-korban-atau-bersandiwara-korban/
Saut Situmorang said…
FUCK OFF, BANCI! MONYET AJA JAUH LEBIH BERANI DIBANDING KAU YANG BERANINYA KOAR-KOAR SEBAGAI "ANONYMOUS"! CKCKCK...
Anonymous said…
Yoih monyet lebih baik dr elu Ut, monyet kagak mabok dan maki2 kayak elu hahahaha
Anonymous said…
Salam buat Sitok Srengengek ya, duo SS Saut Situmorang & Sitok Srengenge akan reuni di penjara hahahaha kasusnya satu, kekerasan pada perempuan
Anonymous said…
Tentang Saut "Jembut" Situmorang http://saut-situmorang.blogspot.com/2007/10/siapa-aku.html?m=1
Anonymous said…
PUISI JEMBUT SAUT

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu


karya Saut "Jembut" Situmorang

ada jembut nyangkut
di sela gigiMu!
seruKu
sambil menjauhkan mulutKu
dari mulutMu
yang ingin mencium itu.

sehelai jembut
bangkit dari sela kata kata puisi
tersesat dalam mimpi
tercampak dalam igauan birahi semalaman
dan menyapa lembut
dari mulut
antara langit langit dan gusi merah mudaMu
yang selalu tersenyum padaKu.

Aku mencintaiMu dengan seluruh jembutKu
tapi bersihkan dulu gigiMu
sebelum Kau menciumKu!

jogja, 6 januari 2002
Anonymous said…
Komentarku:

1-- Jembut itu rambut yang terletak di bagian ketiak dan kemaluan manusia. Bagaimana “sehelai jembut…menyapa lembut dari mulut”?

Maunya Saut pakai metafora yang tidak biasa, akan tetapi tidak dibayangkan baik-baik sebelum ditulis. .

2 – Kata Saut, jembutnya “bangkit dari sela kata kata puisi.”

Bagaimana jembut kok “bangkit”? Jembut tumbuh, dong, bukan bangkit.

3 –Bagaimana “langit langit dan gusi” bisa “selalu tersenyum”?

Nah, kacau kan, Saut ini dalam mengembangkan metafora?
Jojo Rahardjo said…
Lumayan menghibur perdebatan para sastrawan di sini. Segala jembutpun dibahas....

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)