Universitas Israel Mendukung Kejahatan Perang di Gaza

Oleh Satrio Arismunandar

Berbagai universitas Israel berperan aktif dalam mendukung agresi militer ke Gaza, yang menimbulkan korban ribuan jiwa warga Palestina, termasuk ratusan anak-anak. Bantuan keuangan, beasiswa, dan perkuliahan diberikan pada mahasiswa Israel yang bergabung dalam operasi militer.

Perguruan tinggi dan universitas sering dipandang sebagai lembaga keilmuan dan akademis, yang mengedepankan nilai-nilai kebenaran, bukan kepentingan politik-militer. Namun hal itu tidak berlaku untuk universitas-universitas di Israel. Universitas beserta para pimpinan, dosen, dan mahasiswanya berperan aktif, dalam mendukung kejahatan perang yang dilakukan Israel di wilayah Palestina. Hal ini khususnya dalam aksi genosida brutal di Gaza, Juli-Agustus 2014.

Agresi Israel telah menyebabkan kehancuran besar-besaran di Jalur Gaza. Sekitar 2.000 warga Palestina tewas, termasuk tak kurang dari 459 anak-anak. Masjid, perumahan, rumah sakit, sekolah, dan fasilitas Universitas Islam Gaza milik Palestina juga dibom. Sedangkan puluhan sekolah di Gaza yang dikelola oleh badan bantuan pengungsi Palestina di bawah Perserikatan Bangsa-bangsa (UNRWA) dijadikan tempat pengungsian bagi 218.000 warga Palestina.

Menurut UNRWA, sedikitnya 373.000 anak-anak Palestina di Gaza “membutuhkan dukungan psikososial langsung dan khusus. Anak-anak itu menunjukkan gejala meningkatnya stres, termasuk mengompol sewaktu tidur, mimpi buruk, dan tak berani berpisah dari orangtua.” Tampaknya setiap anak itu terpengaruh oleh krisis dan agresi militer Israel ke Gaza.

Namun, ketika pemboman brutal oleh pesawat-pesawat Israel menimbulkan ribuan korban di Gaza, lampu-lampu di Eshkol Tower, gedung 30 lantai di Universitas Haifa milik Israel, justru dinyalakan begitu rupa. Lampu-lampu itu dalam temaram malam tampak membentuk bintang segi enam, bintang Daud, yang menjadi lambang di bendera Israel. Administratur Universitas Haifa mengatakan, hal itu sengaja dilakukan untuk “mengekspresikan solidaritas dengan prajurit-prajurit Israel.”

Menjalani dinas cadangan

“Universitas bangga pada semua mahasiswanya dan berterimakasih pada mereka yang menjalani dinas cadangan (di kemiliteran). Saya berharap kita semua bisa segera kembali ke rutinitas yang diberkati,” ujar Yoav Aril, Dekan di Universitas Tel Aviv, dalam emailnya tanggal 13 Agustus 2014.

Ariel dalam suratnya memaparkan beberapa kemudahan yang diberikan Universitas Tel Aviv kepada para mahasiswa, yang berpartisipasi dalam agresi militer Israel ke Gaza. Mereka boleh mengikuti ujian-ujian susulan. Universitas itu juga sudah mengumumkan pada Juli 2014 bahwa pihaknya memberikan setahun bayaran kuliah buat para mahasiswanya yang bertugas sebagai prajurit.

Hampir semua universitas Israel terlibat dalam aksi kejahatan perang brutal yang dilakukan militer Zionis, dengan cara memberi penghargaan kepada para mahasiswa yang ambil bagian dalam serangan ke Gaza. Penghargaan ini termasuk untuk mereka yang mungkin terlibat dalam berbagai kejahatan perang terhadap warga sipil.

Manfaat atau kemudahan yang diberikan kepada mahasiswa itu tidak sekadar bersifat praktis, tetapi juga mengagung-agungkan mereka yang berpartisipasi dalam operasi pembantaian terhadap warga Gaza. Dengan demikian, universitas semakin memperkuat peran terpuji kaum militer dalam masyarakat Israel, terutama di kalangan kaum muda.

Universitas menggalang dana

Universitas Hebrew, misalnya, mengeluarkan surat yang mendeklarasikan bahwa “universitas bergabung dalam upaya perang untuk mendukung para mahasiswa pejuangnya, dengan maksud meminimalkan beban keuangan” mereka. Mereka adalah mahasiswa yang dipanggil untuk bergabung dalam militer, dalam operasi serangan ke Gaza.

Universitas juga menyerukan kepada “teman-teman dan alumni” untuk menyumbangkan uang melalui dana beasiswa khusus. Universitas menyampaikan tautan laman Internet, yang memungkinkan pemberian bantuan itu ditandai khusus untuk dana “Protective Edge,” sebutan bagi operasi militer Israel ke Gaza. Sumbangan minimum ditetapkan sebesar 18 dollar AS atau sekitar Rp 210.000.

Fasilitas lain yang diberikan Universitas Hebrew kepada para “mahasiswa pejuang” adalah termasuk diskon dan penjualan murah bagi mahasiswa yang ikut dalam pasukan cadangan. Juga, diberikan bimbingan belajar ekstra sebelum ujian, potongan harga untuk kursus-kursus persiapan tes, dan perpanjangan keanggotaan gimnasium (sarana kebugaran) secara gratis. Ini masih ditambah akses khusus ke perpustakaan kampus, ketika perpustakaan itu ditutup terhadap mahasiswa lain. Terakhir, ada diskon 50 persen untuk kartu lintas transit publik bulanan, yang berlaku sampai akhir Agustus 2014.

Himpunan Alumni Universitas Haifa menggunakan gambar Kobi Rabinowitch, mahasiswa Program Studi Sumberdaya Manusia yang berseragam militer dan membawa senjata, sebagai bagian dari kampanye penggalangan dana untuk Operation Protective Edge, sandi operasi militer ke Gaza. Himpunan alumni itu juga menyerukan penggalangan dana untuk para prajurit yang ikut serta dalam serangan ke Gaza.

Universitas Haifa juga memasukkan video ke kanal resmi universitas itu di YouTube. Video itu mengungkapkan, 150 mahasiswa dan staf universitas ikut ambil bagian dalam operasi militer ke Gaza. Universitas Haifa tidak malu-malu untuk menunjukkan sikapnya, yang tidak lagi menjunjung keindependenan intelektual lembaga pendidikan. Pesan di video itu justru mendesak para penyumbang potensial: “Bantu kami memperkuat Negara Israel.”

Melakukan perang propaganda


Pusat Antar-Disiplin (IDC) Herzliya, sebuah universitas swasta Israel yang bergengsi, juga turut andil dalam mendukung kejahatan perang Israel di Gaza. Caranya tidak konvensional seperti mengirim mahasiswa berperang membawa senjata api, tetapi IDC Herzliya membentuk “ruang perang” (war room), untuk kampanye membela operasi militer Israel di media sosial, seperti Facebook. Ada 400 orang atau hampir seluruh mahasiswa IDC Herzliya terlibat di sini.

Kampanye kebohongan terorganisasi lewat media daring (online) ini bertujuan untuk mempropagandakan, mendukung, dan mempromosikan aksi genosida yang dilakukan Israel di Gaza kepada dunia luar. Ketika jumlah korban warga sipil Palestina akibat pemboman brutal Israel muncul di media internasional, dan memancing kecaman dari seluruh dunia, para mahasiswa IDC Herzliya menjadi andalan untuk membuat pembelaan bagi rezim Zionis di kancah media sosial. Perang propaganda di dunia maya ini bagi Israel tidak kalah penting dibandingkan dengan pertempuran fisik di medan Gaza.

Tidak begitu jelas, seberapa jauh keterlibatan pemerintah Israel terhadap inisiatif ini. Namun Persatuan Nasional Mahasiswa Israel, di mana mahasiswa IDC Herzliya berafiliasi, memiliki sejarah bekerja pada program propaganda yang didanai pemerintah. Dalam program itu, para mahasiwa direkrut sebagai “wajah-wajah cantik,” untuk mengangkat citra negara Zionis Israel, yang secara konsisten terus melanggar hak asasi manusia dan tak mau mundur dari wilayah yang direbut dari rakyat Palestina.

Menurut pakar tentang Israel, Dena Shunra, fasilitas dan kemudahan yang diberikan kepada mahasiswa --yang terlibat dalam agresi militer ke Gaza-- bisa berbeda-beda antara satu universitas dengan universitas yang lain. “Namun, semua memiliki signifikansi finansial bagi universitas-universitas tersebut, yang menanggung sebagian dari biaya Operation Protective Edge. Maka dengan demikian mereka terlibat dalam setiap kerusakan yang dilakukan dalam proses (agresi militer) tersebut,” ujar Dena.

Dukungan mereka kali ini berada dalam posisi teratas, dari puluhan tahun keterlibatan universitas-universitas Israel dalam membela rezim Zionis, yang terdokumentasi dengan baik. Dukungan itu termasuk dalam bentuk riset militer dan peran langsung dalam perampasan tanah-tanah milik rakyat Palestina.

Bukti lebih lanjut tentang dukungan langsung universitas-universitas Israel –baik dalam hal pernyataan deklarasi ataupun finansial—terhadap penindasan warga Palestina dan penghancuran Gaza, juga menghasilkan konsekuensi lain. Yaitu, munculnya seruan yang semakin kuat untuk memboikot lembaga-lembaga akademis Israel tersebut. *** (Diolah dari berbagai sumber)

30 Agustus 2014

Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI