Jokowi, Ahok, dan Stereotip Negatif

Oleh Satrio Arismunandar

Ada sejumlah alasan dari sekelompok warga, mengapa mereka tidak mendukung Joko Widodo (Jokowi), Gubernur DKI Jakarta dan calon presiden PDI Perjuangan ini, untuk menjadi Presiden RI. Salah satu alasan yang banyak disebarkan melalui media sosial, dan disosialisasikan melalui pertemuan informal, adalah bahwa jika Jokowi menjadi presiden maka otomatis Wakil Gubernur Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Lantas, apa yang menjadi keberatan mereka terhadap Ahok untuk menjadi Gubernur DKI Jakarta? Apakah Ahok melakukan korupsi? Apakah Ahok tidak becus bekerja? Apakah Ahok tidak tegas dalam menindak bawahan yang kerjanya tidak benar? Ternyata, yang menjadi alasan penolakan utama bukanlah hal-hal semacam itu, namun dasar penolakan itu bisa disingkat dalam dua kata: karena Ahok itu “Cina” dan “Kristen.”

Sungguh menyedihkan bahwa 58 tahun sesudah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, ternyata sebagian kita masih berkuat pada masalah-masalah primordial semacam ini. Namun, untuk tidak terkesan terlalu pesimis, saya katakan bahwa hal semacam ini juga masih terjadi di negara demokrasi besar, seperti Amerika Serikat. Sentimen terhadap orang Islam dan warga kulit hitam tetap ada di kalangan sebagian warga Amerika.

Hal lain yang menurut saya masih patut memberi rasa optimisme, dalam kasus Indonesia, adalah bagaimanapun juga pasangan Jokowi-Ahok terbukti mampu memenangkan pemilihan gubernur-wagub DKI Jakarta. Padahal waktu itu juga cukup gencar isu SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan) ditujukan pada pasangan Jokowi-Ahok. Artinya, masih cukup banyak warga DKI Jakarta yang tidak terpengaruh oleh kampanye SARA, dan tetap memilih Jokowi-Ahok.

Dalam melakukan kampanye hitam terhadap Jokowi dan Ahok, isu-isu primordial ini dieksploitasi. Sedangkan eksploitasi itu sering tidak terkait dengan fakta, namun terkait dengan persepsi. Persepsi merupakan proses kognitif atau cara pandang seseorang, yang bersifat unik bagi dirinya sendiri, di mana ia mengawasi, mengorganisasikan, menyeleksi, mengartikan atau memberi penilaian pada informasi atau rangsangan dari lingkungan sekitarnya. Jadi unsur-unsurnya adalah mengobservasi, mengatur atau mengorganisasikan, menyeleksi, dan mengartikan atau memberi penilaian. Dalam proses itu, ada faktor-faktor yang mempengaruhi, dan salah satunya adalah stereotip (stereotype).

Menurut James L. Gibson, “Stereotype is an overgeneralized, oversimplified, and self-perpetuating belief about people’s personal characteristics.” Jadi stereotip adalah keyakinan yang terlalu menyamaratakan, terlalu disederhanakan, dan diulang-ulang sendiri tentang ciri-ciri pribadi orang tertentu.

Definisi lain menyebutkan, stereotip merupakan citra mental tetap terhadap suatu kelompok yang kerapkali diterapkan terhadap seluruh anggota kelompok itu. Dalam dunia yang penuh kerumitan dan kemenduaan, kita terus-menerus berusaha mencari cara mengkonfrontasi dan menyederhanakan kebingungan terhadap realitas sehari-hari.

Stereotip sering digunakan sebagai mekanisme pertahanan untuk menyembunyikan ketidaklayakan kita atau membenarkan perasaan superioritas kita yang rapuh.

Misalnya, stereotip negatif terhadap orang Amerika keturunan Afrika awalnya dimaksudkan untuk membenarkan perbudakan terhadap orang Afrika dan sejak itu makin mendalam tertanam dalam budaya Anglo-American. Ini adalah beberapa contoh stereotip etnis atau kesukuan: orang Batak itu kasar, orang Jawa itu halus, orang Cina pintar dagang, orang India suka menipu, orang Yahudi itu kikir dan licik, dan orang Arab punya nafsu syahewat yang besar.

Stereotip dapat menjurus ke ketidakadilan sosial bagi mereka yang menjadi korban yang tak beruntung. Dan ketika hal ini terjadi, masalah etika yang serius pun muncul. Stereotip kadang-kadang meluas melampaui masalah ketidakadilan sosial. Ada kecenderungan untuk mengasosiasikan stereotip dengan isu-isu seperti sexisme dan prasangka rasial dan etnis.

Pola-pola stereotip itu tidak netral. Karena stereotip melibatkan persepsi personal kita terhadap realitas, stereotip itu sangat dilekati oleh perasaan-perasaan yang terkait dengannya. Maka stereotip merupakan mekanisme pertahanan vital, yang dibelakangnya kita bisa merasa aman dalam posisi yang kita tempati.

Pandangan ini mengisyaratkan bahwa stereotip merupakan sebuah proses alamiah dan memiliki peran dalam memelihara kewarasan kita. Bagaimanapun, dalam masyarakat kita yang egalitarian, stereotip sering tidak adil. Stereotip ini hanya meninggalkan sedikit ruang dalam memandang perbedaan-perbedaan individual dalam sebuah kelompok. Maka, sampai ke tingkat di mana kita menghakimi orang lain berdasarkan pada beberapa stereotip yang salah arah, kita telah merusak hak untuk menentukan diri sendiri (self-determination), sebuah nilai dasar dalam masyarakat kita.

Bagaimanapun, hal yang membuat stereotip sangat kuat adalah karena seringkali stereotip itu sedikit-banyak didasarkan pada realitas. Atau dengan kata lain, beberapa stereotip tidak sepenuhnya keliru. Misalnya, media biasanya menggambarkan kaum homoseksual pria sebagai bersifat flamboyan dan keperempuan-perempuanan. Ini adalah sifat-sifat yang memang mewakili sebuah segmen dalam populasi gay, namun tidak berarti mewakili kelompok gay secara keseluruhan.

Media sudah menjadi titik fokus bagi banyak kritik tentang pengulang-ulangan stereotip. Pada tahun-tahun terakhir, pihak media sudah menjadi makin peka terhadap kritik-kritik itu sehingga beberapa stereotip yang mengganggu sudah dihilangkan. Persoalannya, kadang-kadang justru sejumlah kalangan masyarakat sendiri yang mempersoalkan, ketika media tidak menggambarkan sesuatu sesuai stereotip.

Misalnya, sebuah film karya sutradara AS, Spike Lee, menggambarkan lingkungan komunitas kulit hitam yang bersih dari pecandu narkoba. Namun beberapa pengulas film justru mempersoalkan gambaran itu, yang menurut mereka tak sesuai realitas. Para pengeritik ini mengabaikan fakta bahwa jutaan warga AS keturunan Afrika tinggal di lingkungan yang tidak didiami oleh para pengedar narkoba dan geng-geng jalanan.

Media adalah institusi yang kuat. Media bisa memilih simbol dan citra yang mendorong gaya hidup tertentu dan meredam gaya hidup yang lain. Para pakar berbeda pendapat tentang seberapa jauh dampak buruk yang disebabkan oleh stereotip di media. Namun tanggung jawab moral tidak perlu menunggu hasil perdebatan itu.

Kerugian utama yang muncul dari stereotip adalah ia menjurus ke diskriminasi dan prasangka. Isu-isu etis muncul ketika stereotip-stereotip di media menjadi begitu kuat sehingga menumpulkan sikap kritis audiens dalam membuat penilaian, terkait dengan anggota-anggota individu dalam masyarakat.

Dalam budaya pluralistik seperti budaya kita, praktisi media memiliki kewajiban untuk mempertimbangkan keadilan fundamental dari sistem, yang secara tradisional memproyeksikan citra-citra yang bersifat stereotip tentang segmen tertentu dalam masyarakat. Semoga saja, Jokowi, Ahok, dan politisi atau pejabat publik lain bisa mendapat liputan yang lebih obyektif, yang tidak ditempatkan dalam stereotip-stereotip negatif.

Jakarta, 7 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)