Jokowi dan Kredit Mikro untuk Mengatasi Kemiskinan

Oleh: Satrio Arismunandar

Sebagai bakal capres dari PDI Perjuangan, yang dijagokan untuk memenangi pemilihan presiden 9 Juli 2014, sudah saatnya Joko Widodo (Jokowi) memberi perhatian lebih pada problem-problem sosial-ekonomi nyata yang dihadapi rakyat Indonesia. Problem itu terutama adalah bagaimana cara mengatasi kemiskinan. Pertumbuhan ekonomi di era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memang cukup tinggi, namun hal itu tidak serta merta mengatasi masalah kemiskinan. Malah kesenjangan kaya-miskin meningkat di bawah era SBY.

Salah satu persoalan yang dihadapi kaum miskin untuk bisa mengangkat kehidupannya adalah soal kekurangan modal. Mereka butuh kredit atau pinjaman dari bank untuk modal usaha, namun biasanya bank-bank konvensional sulit memberikan kredit karena ada berbagai persyaratan dan jaminan, yang tidak bisa disediakan oleh rakyat kecil. Kedit kecil untuk warga miskin ini kita sebut kredit mikro. Jokowi yang pernah merintis usaha dan mengalami jauh bangun sebagai pengusaha mebel kecil tentu memahami betul problem ini.

Kredit mikro awalnya diadakan untuk menjembatani kesenjangan modal, yang tidak bisa diisi oleh koperasi dan bank-bank komersial. Konsep dasarnya adalah bahwa kondisi sosial-ekonomi rumah tangga miskin dipengaruhi oleh kurangnya akses terhadap pelayanan keuangan. Kredit mikro adalah metode untuk menyediakan sejumlah kecil modal bagi individu kaum miskin dan sangat miskin, dengan sasaran utama kaum perempuan, sehingga mereka dapat memulai dan atau mengembangkan aktivitas-aktivitas yang memberi penghasilan.

Akses terhadap kredit memunculkan peluang untuk menciptakan usaha skala-kecil personal, dan dengan demikian membantu rumah tangga miskin dan sangat miskin untuk mengembangkan kondisi sosial-ekonominya. Ini adalah salah satu strategi tatanan pembangunan baru.

Kredit mikro adalah kumpulan dari praktik-praktik perbankan, yang dibangun untuk menyediakan pinjaman kecil dan menerima deposit tabungan kecil. Layanan keuangan paling umum yang ditawarkan organisasi keuangan mikro (MFO) mencakup tabungan, kredit, layanan pembayaran dan transfer, serta asuransi. Layanan kredit mikro umumnya disediakan oleh organisasi nonpemerintah (NGO), koperasi simpan-pinjam, bank-bank swasta dan milik negara, bank pos (postal banks), organisasi komunitas yang dimiliki anggota, perantara nonbank –seperti perusahaan pendanaan dan asuransi—serta organisasi-organisasi keuangan lainnya.

Metodologi kredit mikro yang paling sukses dan terkenal adalah yang diluncurkan oleh Prof. Mohammad Yunus pada 1976 di Banglades. Awalnya itu adalah sebuah proyek riset tindakan, dan ujungnya adalah berdirinya Grameen Bank, yang menawarkan kredit dan fasilitas perbankan pada kaum miskin di Banglades dan banyak negara lain.

Model kredit mikro berbasis kelompok dari Grameen Bank ditiru oleh banyak NGO di seluruh dunia, dan AIM adalah salah satu penirunya. Program kredit mikro berbasis kelompok didirikan dengan prinsip menyediakan sejumlah kecil kredit untuk individu-individu kalangan miskin dan sangat miskin dalam sebuah kelompok. Masing-masing individu itu sama-sama bertanggungjawab atas pencicilan utang dari anggota lainnya, yang pada puncaknya menghapus kebutuhan atas agunan fisik.

Pertemuan puncak kredit mikro (Microcredit Summit) mengadopsi definisi kredit mikro sebagai penyediaan sejumlah kecil pinjaman untuk warga miskin, khususnya kaum perempuan, guna membangkitkan proyek-proyek yang memungkinkan mereka mengurus dirinya sendiri dan keluarganya. Tujuan Microcredit Summit adalah memastikan agar 175 juta rumah tangga termiskin di seluruh dunia, khususnya kaum perempuan dalam rumah tangga itu, menerima kredit dan pelayanan keuangan lainnya sebelum akhir 2015.

Seperti disebutkan dalam Microcredit Summit Campaign Report (2009), diasumsikan tiap rumah tangga memiliki lima anggota. Sehingga layanan keuangan untuk 175 juta rumah tangga akan berpengaruh pada total 875 juta anggota rumah tangga. Ketika pendapatan rumah tangga ini naik di atas 1 dollar AS per hari, hampir satu miliar orang di seluruh dunia akan terangkat dari kondisi kemiskinan ekstrem.

Kredit mikro memberikan modal produktif, yang bersama dengan modal sosial dan modal manusiawi, memungkinkan rumah tangga miskin dan sangat miskin untuk bangkit dan lepas dari kemiskinan. Banyak literatur tentang kredit mikro yang menunjukkan, kredit mikro memberi dampak signifikan pada perkembangan sosial-ekonomi rumah tangga miskin dan sangat miskin di seluruh dunia.

Sebuah studi komprehensif yang dilakukan Hossain (1988) tentang dampak komprehensif program ini di Banglades mencatat, pendapatan rata-rata rumah tangga anggota Grameen Bank adalah 43 persen lebih tinggi ketimbang non-peserta. Jumlah modal kerja yang dikelola usaha-usaha nasabah meningkat rata-rata tiga kali lipat dalam periode 27 bulan. Investasi dalam aset tak bergerak (fixed asset) sekitar 2,5 kali lebih tinggi bagi peminjam dengan masa keanggotaan lebih dari 3 tahun, ketimbang mereka yang baru bergabung pada tahun ketika survei dilakukan. Studi lain di India mencatat, 12 persen responden telah terangkat keluar dari garis kemiskinan. Sedangkan di Sri Lanka, satu dari empat responden tidak lagi masuk kategori miskin.

Studi Khandker (1998) melaporkan, sekitar 21 persen nasabah Grameen Bank dan 11 persen dari BRAC (Bangladesh Rural Advancement Committee) lepas dari kemiskinan dalam waktu empat tahun kepesertaannya di Banglades. Untuk nasabah BRAC, disebutkan bahwa bagi setiap BDT 100 yang dipinjamkan ke kaum perempuan, konsumsi rumah tangga meningkat sebesar BDT 18. Yang menarik, ketika jumlah yang sama dipinjamkan ke kaum lelaki, peningkatan konsumsi rumah tangga itu cuma BDT 11. Bagi rumah tangga yang sudah menjadi peserta BRAC sampai tiga tahun, kemiskinan moderat berkurang sekitar 15 persen dan kemiskinan akut sebesar 25 persen.

Maka saya mengusulkan, jika Jokowi insyaAllah terpilih menjadi presiden nanti, ia perlu menginstruksikan para menteri yang mengurus peningkatan kesejahteraan rakyat miskin untuk studi banding ke Banglades. Indonesia tidak perlu malu belajar kepada sesama negara berkembang, demi mengentaskan kemiskinan dan mengurangi kesenjangan kaya-miskin yang sudah akut di Indonesia.


Jakarta, 10 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)