Jokowi dan Peran Pers Sebagai Mitra

Oleh Satrio Arismunandar

Pers atau media merupakan salah satu unsur penting yang membentuk masyarakat madani (civil society). Pilar penegak masyarakat madani adalah institusi-institusi yang menjadi bagian dari kontrol sosial, yang berfungsi mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa yang diskriminatif, serta mampu memperjuangkan aspirasi masyarakat yang tertindas. Pilar tersebut antara lain adalah pers.

Di negara demokrasi, pers adalah institusi yang bebas dan berfungsi untuk mengkritisi dan menjadi bagian dari kontrol sosial, sehingga seringkali pers disebut sebagai watchdog (anjing penjaga) yang mengawasi perilaku pemerintah. Pers dapat menganalisis serta mempublikasikan berbagai kebijakan pemerintah yang berhubungan dengan kepentingan warga negaranya.

Menurut Bahmuller (1997), ada beberapa ciri-ciri masyarakat madani. Salah satunya adalah terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara, karena keanggotaan organisasi-organisasi sukarela mampu memberikan masukan-masukan terhadap keputusan -keputusan pemerintah. Pemberian masukan ini antara lain dilakukan lewat peran pers atau media massa.

Dalam kaitan pembentukan masyarakat madani itulah, bakal calon presiden dari PDI Perjuangan (PDIP), Joko Widodo (Jokowi), perlu juga memperhatikan peran yang sepatutnya dimainkan oleh pers Indonesia. InsyaAllah, jika Jokowi jadi terpilih sebagai Presiden RI pada pemilihan presiden 2014 ini, sebagai eksekutif dia akan banyak berurusan dengan pers. Pers bukan hanya memberitakan program, tindakan, dan langkah-langkah pemerintah, tetapi juga mengawasi kiprah pemerintah.

Pers bisa menjadi mitra pemerintah yang bermanfaat lewat penggunaan fungsi kontrolnya. Artinya, Jokowi bisa mengontrol kinerja aparat pemerintahannya dengan “meminjam” atau secara tak langsung mendapat dukungan dari pers. Hal ini karena harus diakui bahwa birokrasi memiliki keterbatasan –dan seringkali lamban—dalam mendeteksi dan mengatasi masalah yang ada di internal aparat pemerintahan.

Namun, Jokowi juga harus menyadari bahwa pers atau media di Indonesia saat ini bukanlah sekadar lembaga sosial. Media saat ini adalah juga suatu institusi bisnis, suatu industri, bahkan juga dianggap sebagai pusat penghasil keuntungan (profit center). Oleh karena itu, media dapat diharapkan akan mengadopsi strategi pemasaran dan langkah-langkah yang sama dengan lembaga-lembaga ekonomi lainnya.

Status media sebagai industri atau lembaga bisnis yang berorientasi profit bisa memunculkan tekanan-tekanan komersial ,yang membahayakan standar jurnalistik. Hal itu akan tercermin lewat pemberitaannya. Ketika nilai-nilai komersial makin merembes ke wilayah jurnalistik, terjadilah ketegangan antara nilai bisnis dan nilai jurnalisme.

Kedua nilai ini sebenarnya sama-sama penting bagi keberadaan dan kelangsungan hidup suatu media. Namun ketika satu nilai menjadi terlalu dominan terhadap yang lain, katakanlah nilai komersial lebih diunggulkan daripada idealisme dan independensi pemberitaan, maka ini bisa berdampak merusak bagi peran pers sebagai watchdog atau pengawas penguasa.

Sebagai Presiden RI nantinya, InsyaAllah, Jokowi tidak perlu terlalu jauh campur tangan dalam urusan pers ini, apalagi jika menyangkut konten media dan prinsip kebebasan pers. Di negara demokrasi, penguasa memang sebaiknya menahan diri dan tidak usah terlalu usil mengatur-atur media. Misi pers atau media adalah melayani kepentingan publik.

Cukuplah jika Jokowi mengapresiasi tugas dan peran pers, dan memanfaatkan pers sebagai mitra pemerintahnya. Meski kritik-kritik dari pers terkadang terasa cukup pedas, hal itu harus dipandang sebagai masukan yang bersifat konstruktif, dan merupakan bagian dari upaya penyempurnaan kinerja pemerintahan. Artinya, kritik dan masukan dari pers harus dipandang sebagai hal yang positif. Selamat bekerja, Pak Jokowi! ***

Jakarta, 7 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)