Jokowi Harus Menyuarakan Isu-isu Krusial Lingkungan Hidup

Oleh: Satrio Arismunandar

Belum lama ini, organisasi lingkungan Greenpeace Indonesia menyatakan, hasil survei yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyebutkan, 95,7 persen pemilih dalam pemilihan umum di Indonesia menginginkan pemimpin yang lebih berpihak pada lingkungan. Namun, hanya 7 persen calon legislatif yang ditemukan memiliki kedekatan dengan isu-isu lingkungan hidup.

Lantas, Greenpeace mempertanyakan, bagaimana dengan para calon presiden dan calon wakil presiden? Apakah mereka peduli lingkungan? Adakah mereka mengejar tampuk kekuasaan tertinggi untuk menciptakan Indonesia yang lebih baik, khususnya dalam hal lingkungan hidup? Meski tidak sexy seperti isu-isu politik praktis, isu lingkungan hidup ini sangat krusial bagi masa depan Indonesia dan rakyatnya, dan ia juga terkait dengan permasalahan global.

Sudah sepatutnya para bakal calon presiden untuk pemilihan presiden 9 Juli 2014 menyuarakan pandangan mereka tentang isu-isu lingkungan hidup. Tak terkecuali untuk Joko Widodo (Jokowi), bakal capres yang diunggulkan PDI Perjuangan. Apalagi isu-isu lingkungan sebetulnya terkait dengan upaya penguatan masyarakat madani (civil society) di Indonesia.
Untuk mengangkat pentingnya masalah lingkungan, Greenpeace Indonesia telah menjadwalkan beberapa aksi untuk mendesak para calon pemimpin, agar mengarusutamakan isu lingkungan dalam kebijakan pemerintahan ke depan. Greenpeace juga mengajak masyarakat untuk mendesak pemimpin yang peduli pada isu lingkungan di Indonesia.

Greenpeace Indonesia memfokuskan kampanyenya pada beberapa persoalan, yakni persoalan kehutanan, energi, air, dan kelautan. Kampanye kehutanan terutama hutan gambut terkait dengan pemanasan global atau perubahan iklim. Kampanye hutan Greenpeace tidak hanya berlangsung di negara-negara berkembang seperti Indonesia atau Kongo saja. Greenpeace juga berkampanye untuk perlindungan hutan di negara-negara maju, dan berhasil menyelamatkan jutaan hektare hutan di Kanada, Brasil, Rusia, dan lain-lain.

Kampanye Greenpeace juga mengenai revolusi energy, sebagai hal yang krusial dalam menanggulangi bencana perubahan iklim. Greenpeace menyerukan efisiensi energi dengan peningkatan besar-besaran penggunaan energi terbarukan dan meninggalkan penggunaan energi fosil kotor. Isu ini relevan dengan situasi ekonomi Indonesia, yang kini terbebani oleh subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Air adalah sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan, namun juga menjadi sumber daya esensial yang paling terancam di dunia. Polusi limbah kimia industri mengkontaminasi sumber-sumber air bersih. Maka pada 2011, Greenpeace memulai kampanye Air Bersih Bebas Bahan Kimia Beracun di Indonesia, dengan meluncurkan kampanye Penyelamatan Sungai Citarum bernama “Citarum Nadiku, Mari Rebut Kembali.”
Sedangkan kampanye kelautan Greenpeace Indonesia mulai berjalan sejak 2013. Pengakhiran penangkapan berlebih (overfishing) merupakan fokus dari kampanye Greenpeace Indonesia, yang menjadi bagian dari kampanye global penyelamatan laut dari dampak perubahan iklim, pencemaran, dan cara penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).

Greenpeace Indonesia bersama organisasi lainnya mendeklarasikan Visi Bersama Kelautan Indonesia 2025 pada 31 Mei 2013, yang menjadi landasan penyusunan Peta Jalan Pemulihan Laut Indonesia. Peluncuran secara resmi kampanye kelautan Greenpeace Indonesia ditandai dengan kehadiran Kapal Rainbow Warrior (III) pada Mei-Juni 2013 sebagai bagian dari Tur Ocean Defender di kawasan Asia Tenggara. Greenpeace juga meluncurkan sebuah laporan terkait yang membeberkan keterancaman yang dihadapi oleh laut Indonesia saat ini, berjudul: Laut Indonesia dalam Krisis.

Greenpeace Indonesia dan berbagai organisasi lingkungan lainnya, sebagai bagian dari unsur-unsur masyarakat madani, akan terus menggunakan aksi langsung tanpa kekerasan, dan konfrontasi damai dalam melakukan kampanye, untuk menghentikan berbagai aksi perusakan lingkungan di Indonesia. Kita patut berharap bahwa Jokowi, serta para bakal capres lain, akan menunjukkan apresiasi dan mendukung aksi-aksi pro-lingkungan seperti ini. Semuanya adalah untuk masa depan Indonesia yang lebih baik. ***

Jakarta, 10 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI