Jokowi-Jusuf Kalla dan Belajar Pengentasan Kemiskinan ke Malaysia

Oleh: Satrio Arismunandar

Ada anjuran, “carilah ilmu sampai ke negeri Cina.” Namun, untuk urusan pengentasan kemiskinan mungkin belum perlu sejauh itu, karena kita bahkan belum belajar dari negara-negara tetangga terdekat. Misalnya, ke negeri jiran Malaysia. Belajar dari pengalaman Grameen Bank di Banglades, Malaysia telah mengadakan program kredit mikro Amanah Ikhtiar Malaysia (AIM), yang bertujuan meningkatkan pendapatan rumah tangga sangat miskin di Malaysia.

Abdullah Al-Mamun, C.A. Malarvizhi, Sayed Hossain, dan Siow-Hooi Tan telah meneliti topik ini, lewat artikel ilmiahnya berjudul “Examining the Effect of Microcredit on Poverty in Malaysia” di jurnal ASEAN Economic Bulletin (April 2012), Vol. 29, No. 1. Menurut penelitian mereka, program AIM ini terbukti cukup efektif dalam mengentaskan kemiskinan.

Tingkat kemiskinan di Malaysia telah menurun drastis sejak kemerdekaan. Sementara 49,3 persen rumah tangga Malaysia hidup di bawah garis kemiskinan pada 1970, tingkat kemiskinan telah berkurang signifikan menjadi 16,5 persen pada 1990, dan turun lebih jauh menjadi 3,6 persen pada 2007.

Pengurangan kemiskinan dapat disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi yang cepat di Malaysia, yang menumbuhkan peluang kerja berpenghasilan tinggi, serta peluang bisnis skala mikro dan kecil yang menguntungkan. Lebih lanjut, pemerintah Malaysia melakukan beberapa strategi untuk meningkatkan produktivitas, menganekaragamkan sumber-sumber pendapatan, dan meningkatkan kualitas kehidupan warga miskin. Strategi pengurangan kemiskinan itu adalah bagian yang terpadu dari rencana pembangunan inti Malaysia.

Organisasi-organisasi terkemuka yang bekerja ke arah pengembangan status sosial-ekonomi rumah tangga miskin dan sangat miskin (hardcore poor) di Malaysia, antara lain: (1) Tabung Ekonomi Kumpulan Usahawan National (TEKUN, atau Dana Kelompok Ekonomi Wirausaha Nasional), (2) Agrobank, (3) Lembaga Kemajuan Ikan Malaysia (LKIM, atau Badan Pengembangan Perikanan Malaysia), (4) Yayasan Basmi Kemiskinan (YBK), dan (5) Amanah Ikhtiar Malaysia.

Bagaimanapun, proses pemilihan nasabah serta produk dan jasa yang ditawarkan oleh masing-masing program tidaklah sama. TEKUN didirikan pada 1998 sebagai yayasan di bawah Kementerian Pengembangan Wirausaha dan Koperasi. TEKUN hanya memberikan pinjaman kepada kaum bumiputra, yang saat itu memiliki atau secara langsung terlibat dalam bisnis apapun, walau mereka mungkin tidak miskin atau sangat miskin.

Sedangkan Agrobank memberikan kredit mikro pada seluruh wirausahawan-mikro Malaysia, lewat paket yang disebut sebagai “Modal Wirausahawan 1 Malaysia” (Entrepreneur Capital 1 Malaysia). Agrobank juga tidak mengutamakan fokus pada rumah tangga miskin dan sangat miskin di Malaysia.

Di sisi lain, LKIM didirikan untuk menawarkan beberapa layanan kredit skala-kecil, guna mengembangkan status sosial-ekonomi komunitas perikanan saja. Sasaran LKIM adalah nelayan, yang tidak harus miskin atau sangat miskin untuk memperoleh layanan itu.

Terakhir, YBK diluncurkan oleh pemerintah negara bagian Selangor dan program ini hanya memberikan layanan keuangan di negara bagian tersebut. Tujuan YBK adalah mengembangkan kualitas kehidupan, serta menghasilkan para wirausahawan dan pengusaha skala-kecil di kalangan rumah tangga sangat miskin di Selangor.

Sementara itu, AIM didirikan pada 1987 untuk memberikan layanan keuangan skala-kecil dan pelatihan hanya kepada warga miskin dan sangat miskin, dengan maksud meningkatkan kondisi sosial-ekonomi mereka. AIM menggunakan model berbasis kelompok dari Grameen Bank, sebuah organisasi pendanaan mikro (MFO, microfinance organization) di Banglades. Model Grameen Bank ini telah ditiru oleh banyak MFO di seluruh dunia.

AIM memilih klien-kliennya berdasarkan pendapatan rumah tangga rata-rata tiap bulan. Rumah tangga dengan pendapatan rata-rata bulanan di bawah pendapatan garis kemiskinan (PLI, poverty line income) akan dianggap sebagai miskin mutlak (absolute poor). Sedangkan rumah tangga dengan pendapatan rata-rata bulanan di bawah separuh dari PLI akan dikategorikan sebagai sangat miskin (hardcore poor).

Sejak 1971, pemerintah telah nenghitung PLI berdasarkan pada kebutuhan hidup dan kebutuhan-kebutuhan dasar lain, yang termasuk bahan pangan dan non-pangan. AIM hanya memilih rumah tangga yang pendapatan rata-rata bulanannya berada di bawah PLI, yang mencakup rumah tangga miskin dan sangat miskin.

AIM menyediakan tiga pinjaman ekonomi, yang dinamai pinjaman I-Mesra, I-Srikandi, dan I-Wibawa. AIM juga menyediakan pinjaman pemulihan (recovery) yang dikenal sebagai I-Penyayang. Sebagai tambahan, AIM menyediakan pinjaman pendidikan (I-Bestari) dan pinjaman perumahan/multiguna yang dikenal sebagai I-Sejahtera.

Tak ada tindakan hukum yang akan diberlakukan jika si peminjam gagal melunasi pembayaran pinjamannya. Pada Agustus 2010, AIM sudah meluaskan jangkauannya ke 87 cabang di Malaysia. Terdapat 60.497 kelompok di 6.646 pusat yang saat itu melayani total 254.116 nasabah dengan tingkat pengembalian pinjaman 99,42 persen.

AIM juga menekankan pada pengembangan modal manusiawi (human capital), seperti lewat pelatihan yang meningkatkan keterampilan. Program-program pelatihan itu sebagian besar difokuskan pada keterampilan pengembangan kewirausahaan. Kursus-kursus yang ditawarkan AIM kepada para anggotanya, antara lain: akuntansi dasar, kewirausahaan dasar, manajemen keuangan, komunikasi bisnis, dan program-program pengembangan anggota.

AIM juga mengorganisasikan program-program seperti promosi produk I-Wawasan dan kirab wirausaha Ikhtiar, untuk melayani kaum perempuan yang kurang mampu di Malaysia. AIM saat ini adalah satu-satunya organisasi pendanaan mikro yang beroperasi di tingkatan nasional, dan menjangkau lebih dari 82 persen kaum miskin dan sangat miskin di Malaysia.

Sejumlah besar literatur yang menilai dampak program menunjukkan, kredit mikro memungkinkan rumah tangga miskin dan sangat miskin untuk memanfaatkan peluang-peluang investasi yang menguntungkan, mengadopsi teknologi yang lebih baik, mengembangkan usaha-mikro, menganekaragamkan aktivitas ekonomi, dan mendorong pengambilan risiko. Selain itu, juga mengurangi ketergantungan pada sumber informal yang mahal, meningkatkan kemampuan untuk menghadapi kejutan eksternal, mengembangan profitabilitas investasi, dan mengurangi tekanan selama penjualan aset.

Ditambah lagi, program ini meningkatkan pertumbuhan ekonomi, memungkinkan pembelian aset-aset produktif, dan mengembangkan alokasi sumberdaya. Berbagai pengembangan kemampuan rumah tangga itu menjurus ke peningkatan pendapatan dan konsumsi rumah tangga, posisi aset, pendidikan bagi anak-anak, dan pemberdayaan. Ia juga mengurangi keterkucilan sosial dan mengembangkan kualitas kehidupan.

Temuan Salwa (2004) menunjukkan, pendapatan, pembelanjaan, tabungan, dan aset rumah tangga meningkat, baik untuk peserta AIM maupun PPRT (Proyek Perumahan Rakyat Termiskin). Peningkatan itu lebih tinggi bagi peserta AIM ketimbang peserta PPRT. Maka Salwa menyimpulkan, program kredit mikro berkontribusi langsung dan lebih tinggi dalam memberi penghasilan, dibandingkan program yang non-kredit mikro seperti PPRT.

Studi terakhir yang dilakukan Saad (2010) mengisyaratkan dampak positif dalam pengembangan manusiawi di pedesaan Malaysia, termasuk kondisi kesehatan yang meningkat dari para peserta, serta tingkat pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak mereka.

Aktivitas ekonomi dalam sektor perdagangan juga dilihat lebih memberi manfaat bagi peserta ketimbang aktivitas-aktivitas lain. Aktivitas yang membangkitkan pendapatan tinggi itu termasuk: perdagangan karet, penjualan gas untuk memasak, menjajakan di pasar malam, serta penjualan kosmetik, produk-produk cat, mobil bekas, produk kesehatan, dan pangan.

Maka dapat disimpulkan, program kredit mikro yang dilakukan AIM cukup berhasil meningkatkan pendapatan rumah tangga dan mengurangi tingkat kemiskinan di Malaysia. Maka, untuk pengembangan ke depan, yang perlu dilakukan adalah menganekaragamkan bentuk-bentuk kredit mikro AIM itu, agar cocok untuk berbagai kalangan miskin yang memiliki karakteristik berbeda-beda. Selain itu, AIM juga perlu memperluas jangkauan kredit mikronya, agar bisa diterima oleh lebih banyak lagi warga miskin.

Tulisan ini rasanya terlalu pendek, dan di sini tidak memungkinkan untuk secara rinci membahas program pengentasan kemiskinan di Malaysia melalui skema kredit mikro. Maka inti yang mau disampaikan adalah bahwa pemerintahan baru Indonesia nantinya harus fokus pada program pengentasan kemiskinan. InsyaAllah, jika pemilihan presiden 9 Juli 2014 dimenangkan oleh pasangan calon presiden dari PDI Perjuangan, Joko Widodo (Jokowi), dan calon wakil presiden Jusuf Kala, mereka tidak perlu sungkan atau malu-malu untuk membuat studi perbandingan ke Malaysia dalam upaya mengentaskan kemiskinan. Selamat berjuang, Pak Jokowi dan Pak Jusuf Kalla!


Jakarta, 22 Mei 2014

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI