Jokowi-Jusuf Kalla dan Pekerja Outsourcing di Indonesia

Oleh: Satrio Arismunandar

Salah satu masalah perburuhan yang memusingkan pemerintah di bawah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah masalah tenaga alih daya. Pekerja alih daya atau outsourcing secara sederhana diartikan sebagai pengalihan daya (melalui kontrak) pelaksanaan suatu proses bisnis internal (sebagai perusahaan pengguna outsourcing) ke organisasi pihak ketiga (sebagai perusahaan penyedia jasa outsourcing).

Ini merupakan praktik bisnis yang umum dalam ekonomi modern, dan yang dialihdayakan biasanya adalah proses bisnis pendukung, bukan proses bisnis inti. Misalnya, yang dialihdayakan adalah tenaga satpam, petugas kebersihan, atau office boy, yang sifat mereka bukan sebagai pekerja proses bisnis inti. Menurut undang-undang yang berlaku, outsourcing memang tidak boleh diberlakukan untuk pekerja yang menjalankan proses bisnis inti.

Masalah outsourcing menempatkan perusahaan dan pekerja dalam posisi yang seolah-olah bertentangan. Para pengusaha Indonesia dalam kaitan iklim persaingan yang ketat dengan pengusaha lain, termasuk pengusaha dari luar negeri, menuntut adanya keluwesan dan keleluasaan dalam mengelola penggunaan tenaga kerja di perusahaannya. Tujuannya, agar bisa menekan biaya dan meningkatkan efisiensi. Penggunaan outsourcing adalah salah satu cara menekan biaya buruh.
Di sisi lain, sistem outsourcing dirasakan buruh tidak memberi jaminan tentang prospek karir dan masa depan mereka.

Sistem outsourcing juga tidak memberi ketenangan, ketenteraman, dan suasana bekerja yang nyaman. Hal itu karena para buruh ini sadar, sewaktu-waktu melalui mekanisme berakhirnya kontrak, mereka bisa kehilangan pekerjaan jika situasi ekonomi menuntut pengusaha harus mengurangi biaya tenaga kerja. Itulah sebabnya, para buruh lewat berbagai aksinya menuntut agar sistem outsourcing dihapuskan sama sekali.

Di sinilah pemerintah selaku regulator dan fasilitator dituntut harus segera menemukan titik temu antara kepentingan pengusaha dan buruh. Hal ini akan menjadi tantangan bagi pemerintahan baru pasca SBY. Calon presiden dari PDI Perjuangan Joko Widodo (Jokowi) dan pasangannya calon wakil presiden Jusuf Kalla diharapkan bisa memenangi pemilihan umum presiden (pilpres) 9 Juli 2014. Jika, insyaAllah, berhasil meraih kemenangan, pasangan Jokowi-Jusuf Kalla –yang masing-masing punya basis sebagai pengusaha-- diharapkan segera memahami situasi dilematis ini. Penyelesaian masalah outsourcing ini tentunya tidak bisa dengan cara menang-menangan.

Jika para pengusaha nasional --yang bisnisnya belum cukup efisien-- ditekan untuk menerima penghapusan outsourcing secara sepihak, ada risiko bahwa para pengusaha nasional kita akan kalah bersaing dengan kompetitor dari luar. Jika daya saing perekonomian nasional melemah, yang rugi bukan cuma pengusaha tetapi juga para buruh. Para buruh mungkin harus menerima pemutusan hubungan kerja (PHK) lebih jauh. Artinya, yang rugi nantinya adalah semua pihak.

Yang jelas, titik temu harus segera ditemukan. Janganlah situasi dibiarkan terus mengambang. Sementara itu, Dr. Hanes Riady, dosen Manajemen di Kwik Kian Gie School of Business menyatakan, praktik outsourcing di Indonesia saat ini justru berkembang pesat, baik di sisi perusahaan pengguna mau pun perusahaan penyedia jasa outsourcing. Nilai bisnis jasa outsourcing di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 15 triliun pada tahun 2012, atau mengalami pertumbuhan rata-rata 30 persen per tahun sejak 2010.

Pasangan Jokowi-Jusuf Kalla jika terpilih nanti tampaknya perlu memberi perhatian khusus pada masalah pekerja outsourcing. Hal itu karena masalah outsourcing itu sudah sekian lama terabaikan. Demi mencapai solusi, tak bisa tidak para buruh dan pengusaha harus duduk bersama, dengan pemerintah sebagai penengah, untuk mencari solusi yang realistis, adil, dan berimbang. ***

Jakarta, 22 Mei 2014

•Satrio Arismunandar adalah dosen Ilmu Komunikasi di beberapa universitas dan penulis buku. Ia pernah menjadi jurnalis Harian Kompas (1988-1995) dan Executive Producer di Divisi News Trans TV (2002-2012).

Comments

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)