Kasus Ferguson dan Bertahannya Bias Rasial di Amerika

Oleh Satrio Arismunandar

Meski sering mengklaim diri sebagai contoh demokrasi bagi seluruh dunia, rasialisme masih ada di Amerika. Perbudakan secara resmi sudah dihapuskan, namun warga kulit hitam masih sering jadi sasaran bias rasial di kota-kota Amerika.

Suatu siang di bulan April 2014, seorang polisi Amerika berkulit putih menembak dan menewaskan Dontre Hamilton (31), warga kulit hitam di Red Arrow Park, pusat kota Milwaukee. Menurut kepala polisi Milwaukee, petugas itu “hanyalah membela diri dalam situasi kekerasan.” Namun seorang saksi mata yang bekerja di kedai kopi Starbucks menceritakan kisah yang sangat berbeda.

Menurut saksi mata itu, Hamilton sedang tidur di kakilima beton, bersebelahan dengan kedai Starbucks, ketika dua petugas polisi berkulit putih mendekati dan menanyainya. Sesudah yakin bahwa Hamilton tidak melakukan hal apapun yang salah, dua polisi itu pergi. Namun, sekitar satu jam kemudian, saksi mata yang melihat dari balik jendela Starbucks menyaksikan seorang petugas polisi kulit putih lain berdiri berhadapan dengan Hamilton.

Hamilton memegang tongkat pentungan si polisi dalam posisi membela diri. Si polisi mencoba menarik tongkatnya, namun gagal. Si polisi itu dalam jarak sekitar tiga meter dari Hamilton, lalu mencabut pistolnya dan menembak warga kulit hitam itu 10 kali berturut-turut, tanpa mengeluarkan peringatan lisan apapun. Saksi mata itu mengatakan, dia tidak pernah melihat Hamilton memukul polisi dengan tongkat itu.

Terbunuhnya Hamilton secara tragis dan dengan cara yang “bermasalah” mirip dengan terbunuhnya Michael Brown, remaja kulit hitam berusia 18 tahun, di kota kecil Ferguson, kota berpenduduk sekitar 21.000 orang di negara bagian Missouri, pada 9 Agustus 2014. Brown ditembak enam kali oleh petugas polisi berkulit putih, termasuk dua kali di bagian kepala, sesudah Brown dihentikan ketika ia bersama temannya sedang berjalan dari sebuah toko kecil.

Sudah menyerah, tetap ditembak


Otoritas kepolisian kota Ferguson mengatakan, Brown menyerang secara fisik polisi yang berada di dalam mobil dinasnya. Tetapi para saksi mata mengatakan, Brown ditembak berkali-kali meskipun dia sudah mengangkat tangan tanda menyerah. Protes masyarakat pun merebak. Kasus yang memancing kerusuhan rasial itu muncul di tengah ketegangan antara penduduk Ferguson, yang mayoritas berkulit hitam, dan pemimpin politik serta polisi yang sebagian besar berkulit putih.

Termasuk Hamilton dan Brown, sedikitnya enam warga kulit hitam di berbagai kota Amerika ditembak dan ditewaskan oleh polisi berkulit putih sejak April sampai Agustus 2014. Tewasnya mereka terjadi dalam situasi yang mengisyaratkan penggunaan kekuatan secara berlebihan, yang tak bisa dibenarkan, dan sangat mungkin kekerasan polisi itu berbau rasial.

Apa yang terjadi di Ferguson sebetulnya bukan barang asing atau luar biasa, karena hal semacam ini –perlakuan diskriminatif terhadap warga kulit hitam—masih banyak terjadi di berbagai kota di Amerika. Meski pemerintah Amerika sering membanggakan diri sebagai teladan demokrasi, yang tidak membeda-bedakan manusia atas dasar warna kulit, agama, etnik, dan sebagainya, rasialisme sebenarnya masih terdapat di Amerika.

Terpilihnya Barack Obama, warga kulit hitam, menjadi Presiden Amerika dari kubu partai Demokrat menunjukkan bahwa mayoritas rakyat Amerika, secara formal dan asas legalitas, sudah meninggalkan cara pandang rasialis. Namun masih banyak budaya “warisan” lama, berupa instruksi dan sistem, yang masih diwarnai oleh prasangka rasial.

Perbudakan dan segregasi legal di AS

Lebih dari 240 tahun perbudakan dan 90 tahun segregasi legal di Amerika telah menciptakan warisan kebijakan yang bernuansa rasial. Pembunuhan dan pemukulan tak jarang terjadi, di mana warga kulit hitam –khususnya remaja kulit hitam—secara rutin distigmatisasi, direndahkan, dan dilecehkan. Mereka sering menjadi sasaran penyetopan, penggeledahan, dan pemeriksaan oleh polisi berkulit putih. Bahkan, sekalipun warga kulit hitam itu tidak melakukan perbuatan apapun yang keliru.

Angka-angka berbicara dengan sendirinya. Studi-studi terhadap penyetopan lalu lintas Rhode Island dan pemberhentian pejalan kaki New York mengkonfirmasikan bahwa polisi menyetop warga kulit hitam lebih sering daripada terhadap warga kulit putih. Yang lebih memprihatinkan, studi di New York menunjukkan, komposisi rasial di lingkungan tempat tinggal adalah faktor utama yang menentukan tingkat penyetopan yang dilakukan jajaran Departemen Kepolisian New York (NYPD).

Faktor rasial itu tingkatannya di atas dan melampaui “peran kejahatan, kondisi sosial, atau alokasi sumberdaya polisi.” Dengan kata lain, polisi New York menjadikan warga kulit hitam sebagai sasaran justru karena faktor ras mereka. Jadi, bukan karena mereka kebetulan tinggal di tempat yang berbahaya atau di kawasan yang dipenuhi oleh polisi.

Tindakan polisi dalam upaya meredam protes massa juga dinilai bernuansa rasial atau mengandalkan kekerasan secara berlebihan. Cara perlakuan polisi bukannya menghentikan, tetapi justru memancing timbulnya kerusuhan lebih jauh yang berkepanjangan. Dalam kasus Brown, pernyataan Walikota Ferguson, Brian Fletcher, yang menyalahkan terjadinya perluasan aksi protes massa pada “agitator luar” ikut berperan. Padahal, faktor yang menyebabkan berkelanjutannya protes massa dan bentrokan dengan otoritas lokal, kota, negara bagian –termasuk dilibatkannya Garda Nasional oleh Fletcher—dan nasional, adalah karena “penegak ketertiban” secara konsisten bersikap provokatif.

Polisi mengeluarkan berbagai versi tentang bagaimana Brown bisa terbunuh. Tindakan pertama yang menimbulkan kemarahan publik adalah keputusan polisi meninggalkan mayat Brown begitu saja tergeletak di jalan, di tengah kubangan darahnya sendiri, selama berjam-jam. Kemudian muncul cerita versi polisi bahwa Brown ditembak sesudah berkelahi melawan petugas polisi berkulit putih dan “berusaha merampas senjata polisi.” Versi ini tidak sesuai dengan kesaksian para saksi mata.

Polisi juga sangat lama menunda, sebelum akhirnya menyebutkan nama dan warna kulit petugas polisi pembunuh Brown, Darren Wilson. Ditambah keputusan polisi untuk menyiarkan video yang menunjukkan bahwa Brown mengutil sebungkus keripik dari toko swalayan kecil. Perilaku Brown ini disebut polisi sebagai “perampokan bersenjata yang kuat”—pada hari Brown terbunuh.

Penyiaran video itu jelas bertujuan untuk mengubah narasi ke arah yang menguntungkan posisi polisi, seolah-olah sebuah pencurian kecil-kecilan oleh seorang remaja layak diganjar dengan eksekusi mati oleh polisi! Terakhir, adalah hasil otopsi yang menunjukkan Brown ditembak enam kali, termasuk ditembak di bagian kepala, justru ketika Brown menunduk untuk menyerahkan diri.

Bertahannya bias rasial


Kasus Brown dan kasus-kasus kekerasan lain yang menimpa warga kulit hitam hanyalah sebagian dari fenomena masih bertahannya bias rasial dalam masyarakat Amerika. Pertanyaannya, mengapa kebijakan dan perilaku-perilaku pihak otoritas yang bernuansa rasial tetap bertahan setelah berakhirnya era perbudakan di Amerika?

Meskipun bias rasial secara eksplisit saat ini sudah jarang dimunculkan, bias rasial yang implisit masih “menjangkiti” banyak kalangan di Amerika. Termasuk tentunya, bias rasial yang ada di kalangan para petugas kepolisian. Banyak penelitian ilmiah menunjukkan, bagaimana proses mental mendalam di bawah sadar, yang teraktifkan secara otomatis ini, bisa berdampak fatal ketika diterjemahkan ke dalam tindakan polisi terhadap warga kulit hitam.

Bagi Indonesia sendiri, kasus Ferguson sangat relevan dan layak dibahas sebagai bahan pembelajaran. Hal itu karena dalam proses menuju penerapan demokrasi yang lebih substansial, “jebakan-jebakan bias SARA” (suku, agama, ras, dan antargolongan) terbukti masih cukup rawan di Indonesia.

Berbagai kasus diskriminasi masih terjadi di sana-sini berbasis sentimen SARA. Indonesia tentunya tidak harus mengalami berbagai bentrokan rasial yang berat, jika secara bijak bisa memetik pelajaran berharga dari pengalaman di negara-negara lain, termasuk Amerika. *** (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, 30 Agustus 2014
Ditulis untuk Majalah AKTUAL.

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI