Komnas Perempuan Mendukung Tuntutan Hukum Terhadap Pelaku Kekerasan Pada Perempuan di Media Sosial - Kasus Fatin Hamama

RANGKUMAN BERITA

Pendahuluan

Kasus perlawanan Fatin Hamama, perempuan penyair dan ibu rumah tangga, yang bangkit melawan kekerasan seksual verbal yang dilakukan terhadapnya oleh pegiat sastra Sutan Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang, mendapat perhatian publik. Langkah Fatin mengadukan kasusnya dan meminta dukungan pada Komnas Perempuan, hari Jumat (31 Oktober 2014), diberitakan secara meluas oleh berbagai media nasional di Jakarta.

Yang memberitakan bukan cuma media cetak, tetapi juga media online dan media televisi yang bersiaran nasional. Secara tersirat, hal ini menunjukkan bahwa kasus Fatin Hamama dianggap penting oleh insan media. Mayoritas media dalam konten beritanya bisa dibilang menunjukkan simpati pada Fatin, yang melaporkan kekerasan terhadap dirinya ke polisi, setelah sekian lama menjadi bulan-bulanan tindakan kekerasan seksual verbal di media sosial.

Komnas Perempuan sendiri, setelah menerima pengaduan Fatin, mengajukan beberapa pertanyaan kepada Fatin untuk memperjelas masalah. Kepada Komisioner Komnas Perempuan juga diperlihatkan beberapa contoh kekerasan verbal terhadap Fatin di media sosial. Setelah pertemuan selama sekitar satu jam, Komnas Perempuan menyatakan tiga hal pokok tentang kasus Fatin, yang intinya sebagai berikut:

Pertama, berbagai serangan yang sudah dialami Fatin secara tegas bisa dikategorikan sebagai kekerasan seksual verbal terhadap perempuan, yang dilakukan melalui media sosial.

Kedua, Komnas Perempuan menyerukan pada publik dan semua pihak, agar jangan melakukan kekerasan melalui media sosial terhadap perempuan. Kasus Fatin ini bisa menjadi pembelajaran publik, untuk menghindarkan terjadinya kasus kekerasan serupa terhadap perempuan di masa mendatang.

Ketiga, Komnas Perempuan mendukung dilakukannya tuntutan hukum terhadap para pelaku kekerasan pada perempuan. Dalam kasus Fatin, Komnas Perempuan juga mendukung diajukannya para pelaku kekerasan seksual verbal di media sosial itu ke pengadilan, serta proses hukum yang lebih cepat terhadap para pelakunya.

Rangkuman Berita Kasus Fatin di Media Massa

Berikut di bawah ini akan disampaikan rangkuman pemberitaan media tentang kasus Fatin. Rangkuman terutama difokuskan pada pemberitaan media cetak nasional dan media online.
Harian Media Indonesia (1/11) mengangkat kasus Fatin dalam berita foto di hlm. 8. Foto menggambarkan Fatin dan pengacara sedang mendatangi Komnas Perempuan. Harian Republika (1/11) juga menggunakan berita foto yang cukup besar di hlm. 2, menggambarkan Komisioner Komnas Perempuan Neng Dara Affiah memberi keterangan pada pers, dan di sisinya tampak Fatin Hamama. Pada foto itu juga terlihat contoh halaman Facebook yang memuat kekerasan terhadap Fatin.

Harian Rakyat Merdeka (1/11) di hlm. 11 memasang judul “Komnas Perempuan Dukung Fatin: Media Sosial Jangan Digunakan untuk Mencaci Orang Lain.” Suratkabar ini secara tegas memuat tiga butir kesimpulan Komnas Perempuan. Harian Indopos (1/11) mengeksplorasi sikap Komnas Perempuan. “Komnas mendukung Fatin sebagai perempuan pertama di Indonesia, yang mengadukan kasusnya ke polisi dan menuntut para pelaku kekerasan tersebut ke pengadilan,” ujar Neng Dara, seperti dikutip Indopos.

Suratkabar Pos Kota (1/11) tak ketinggalan memberitaksan kasus Fatin di hlm. 10. Foto yang dipampang menunjukkan Fatin sedang menyerahkan pengaduan ke Komisioner Komnas Perempuan, Neng Dara Affiah. Judul yang dipasang: “2 Sastrawan Dilaporkan ke Komnas Perempuan.” Berita tentang peristiwa yang sama dimuat di versi online poskotanews.com (31/10), dengan judul “Penyair Dibully di Media Sosial Mengadu ke Komnas Perempuan.”

Untuk media online, detik.com (31/10) tentu harus disebut pertama. Media berita online terkemuka Indonesia ini mengangkat berita berjudul “Jadi Korban Kekerasan di Medsos, Fatin Ngadu ke Komnas.” Ada foto-foto Fatin yang cukup besar dalam sesi konferensi pers. Beritanya pendek saja, tetapi ada empat foto Fatin yang dipasang. Gresnews.com (31/10) juga mengangkat berita foto tentang kasus Fatin. Tempo.co (31/10) juga mengangkat berita foto tentang pengaduan Fatin ke Komnas Perempuan.

Gatranews.com (1/11) memasang judul “Dibully Lewat Media Sosial, Fatin Lapor Komnas Perempuan.” Sedangkan Wartabuana.com (31/10) memilih judul “Tak Terima Dibullying, Fatin Laporkan Dua Sastrawan.” Leadnya berbunyi, “Salah satu penyair top Indonesia, Fatin Hamama, menjadi korban kekerasan verbal di dunia maya yang dilakukan oleh sesama sastrawan, yaitu Sutan Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang.”

Yang juga penting dicatat adalah AntaraNews.com, karena Antara adalah kantor berita milik negara dan beritanya sering dikutip oleh berbagai media di daerah. AntaraNews.com (31/10) memasang judul tegas: “Komnas dorong polisi percepat penanganan kasus kekerasan perempuan.” Sementara itu, kompas.com (31/10) membuat foto berita berjudul “Kekerasan di Media Sosial,” disertai foto Fatin yang didampingi pengacara Wirman, SH, sehabis mengadu ke Komnas Perempuan.

Sedangkan deKandidat.com (31/10) memasang judul “Dibully di Media Sosial, Fatin Laporkan 2 Rekannya ke Polisi.” Media ini memulai berita dengan gaya soft: “Penyair perempuan, Fatin Hamama, tak bisa menutupi kesedihannya saat dia melaporkan penderitaan yang dialaminya kepada puluhan wartawan di kantor Komnas Perempuan...” Situs Harian Terbit (31/10) menampilkan judul “Sastrawati Korban Kekerasan di Media Sosial Datangi Komnas Perempuan.”

Seruu.com (31/10) memasang berita standar tentang Fatin. Seruu.com menulis, “... Ia (Fatin) diserang berbagai tuduhan dan julukan keji yang sangat merugikan, bukan saja pribadi dirinya, tapi juga harkat dan martabat kaum perempuan.” Sementara itu, Metrotvnews.com (31/10) lebih tegas dalam pemberitaannya. Judul yang dipasang adalah: “Dihina, Komnas Perempuan Dukung Fatin Laporkan 2 Penggiat Sastra.”

Okezone.com (31/10) memasang judul yang lebih mencolok: “Disebut Pelacur di Facebook, Fatin Ngadu ke Komnas Perempuan.” Di akhir beritanya, Okezone.com juga menyatakan, “Komnas Perempuan juga akan mendorong proses hukum ini untuk cepat ditangani oleh Polres Jakarta Timur.”

Hal serupa diungkapkan Skalanews.com (1/11). Dengan judul “Komnas Perempuan Dukung Pelaku Bully Fatin Hamama Diadili,” media ini memulai berita dengan: “Pihak Komnas Perempuan menyatakan dukungannya agar oknum pelaku ‘bully’ terhadap seorang penyair Fatin Hamama di media sosial Facebook, dimejahijaukan atau dibawa ke tingkat pengadilan, agar oknum itu bertanggung jawab terhadap segala perbuatannya.”

Sudut pemberitaan yang agak berbeda disajikan ObsessionNews.com (31/10). Judulnya “Salah Sasaran, Dua Sastrawan Dilaporkan ke Komnas Perempuan.” Dalam beritanya dikatakan, “Fatin menilai kedua orang tersebut (Sutan Iwan Soekri Munaf dan Saut Situmorang) salah sasaran dengan mengeluarkan kata-kata yang dianggapnya kurang pantas untuk diutarakan di media sosial. Karena, menurutnya, posisi dia (Fatin) pada peluncuran buku (33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh) sebagai Master Ceremonial (MC), bukan sebagai penggagas buku tersebut.”

Selain di media cetak dan media online, pengaduan Fatin ke Komnas Perempuan juga diberitakan di media televisi nasional, antara lain TVOne dan SCTV. SCTV adalah TV bergengsi yang tidak sembarangan menyiarkan berita. Artinya, jika sampai diberitakan oleh SCTV berarti peristiswa itu memang dianggap penting dan layak disiarkan.

Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa pengaduan Fatin ke Komnas Perempuan pada Jumat (31 Oktober 2014) telah berhasil meraih liputan media secara masif. Ini betul-betul luar biasa dilihat dari jumlah media yang meliput. Isi pemberitaan juga positif di pihak Fatin dan Komnas Perempuan. Sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak Iwan Soekri dan Saut Situmorang, kecuali sebuah berita di merdeka.com.

Isinya adalah pernyataan Iwan Pangka, pengacara Saut, yang menyesalkan tindakan Fatin melaporkan kasus ini ke pengadilan. Iwan Pangka membuat alasan yang mengada-ada bahwa kata-kata makian yang diucapkan Saut adalah hal yang biasa dalam pergaulan sesama seniman, sehingga tidak perlu diproses ke pengadilan.

Iwan Pangka lupa atau pura-pura lupa, bahwa kekerasan verbal yang dilakukan Saut bukan dilakukan dalam ruang tertutup dan tersekat. Tetapi kekerasan verbal itu dilakukan di media sosial, sehingga bisa dibaca oleh ribuan, bahkan jutaan orang, yang mayoritas bukan sastrawan dan bukan seniman.

Dengan demikian, dalih Iwan bahwa “maki-makian seperti yang dilakukan Saut itu adalah hal yang biasa saja di antara sesama seniman” sangat bisa digugat. Pertama, betulkah maki-makian vulgar itu wajar dan biasa saja di kalangan seniman? Apakah maki-makian ala Saut itu merupakan representasi valid bagi cara bergaul antara sesama seniman? Kedua, konteksnya di media sosial telah melibatkan ribuan atau jutaan Facebooker, yang bukan seniman dan bukan sastrawan. Saut tentu sangat menyadari hal ini. Jadi sudah jelas dan terang benderang, bahwa kekerasan verbal yang dilakukan Saut sangat tidak layak disebarkan ke publik yang begitu luas.



Jakarta, 1 November 2014

Tim Pembela Perempuan Korban Kekerasan di Media Sosial
Kontak: Satrio Arismunandar (081286299061). E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Comments

Jojo Rahardjo said…
Kok sepi ya? Barangkali sudah dapat nasehat untuk menahan diri dan berhati-hati?
Anonymous said…
Sepi, tidak ada saut-sa-utan ya. Mungkin saut lagi mabok, untuk mengumpulkan energi agar bisa maki2 saut kecil mencari bir gratisan hahahahaha

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI