Militer Indonesia Masuki Era Pesawat-pesawat Tanpa Awak (Teknologi dan Strategi Militer)

Oleh Satrio Arismunandar

Tentara Nasional Indonesia di masa mendatang akan semakin banyak menggunakan pesawat tanpa awak (drone) untuk tugas pengintaian dan pengamanan wilayah, khususnya di daerah perbatasan yang sulit dijangkau transportasi darat.

Siapapun yang terpilih menjadi Presiden RI pada pemilihan presiden 9 Juli 2014, hal itu akan berimplikasi pada kebijakan pertahanan dan keamanan. Khususnya yang menyangkut strategi dan teknologi militer yang digunakan. Salah satu teknologi militer yang akan dikembangkan penggunaannya itu adalah pesawat udara nirawak (PUNA). Di Amerika, PUNA disebut dengan istilah unmanned aerial vehicle (UAV) atau lebih populer dengan sebutan drone.

PUNA adalah pesawat terbang tanpa pilot, yang penerbangannya dikontrol secara otonom oleh komputer di dalam pesawat itu, atau oleh sistem pengendalian jarak jauh (remote control) oleh seorang pilot, yang berada di darat atau berada di wahana lain. Cara peluncuran dan pendaratannya kembali diatur oleh sistem otomatis atau oleh seorang operator eksternal di darat. Kontrol otonom kini semakin banyak diterapkan pada PUNA.

PUNA biasanya digunakan untuk misi militer dan operasi-operasi khusus, namun juga bisa digunakan untuk tugas-tugas nonmiliter. PUNA sering lebih disukai untuk misi-misi yang “terlaku kotor, terlalu membosankan, atau terlalu berbahaya” bagi pesawat berawak.

Dalam debat calon presiden putaran ketiga, calon presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berpasangan dengan Jusuf Kalla telah mencanangkan penggunaan PUNA secara ekstensif. Terutama untuk mengontrol wilayah laut Indonesia yang sangat luas dan daerah perbatasan RI dengan negara-negara tetangga. Meskipun terkesan menyegarkan, usulan Jokowi ini sebenarnya bukanlah gagasan yang sangat orisinal.

Walaupun termasuk tren teknologi militer baru, PUNA bukanlah barang asing bagi ilmuwan Indonesia. Sejumlah lembaga riset di Indonesia, seperti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) serta beberapa universitas riset sudah membuat prototipenya. Tentara Nasional Indonesia sendiri secara terbatas juga sudah menggunakan PUNA.

Cocok mengintai daerah perbatasan

Insinyur rekayasa di BPPT Adrian Zulkifli mengatakan, biaya pembuatan sebuah prototipe PUNA kira-kira Rp 2 miliar. Mesin PUNA buatan BPPT diimpor dari Jerman dan kameranya didatangkan dari Taiwan. Lima pesawat prototipe dari BPPT ini telah diujicobakan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada Oktober 2012.

PUNA berfungsi antara lain sebagai pesawat pengintai, pemotretan udara pada area yang sangat luas, pengukuran karakteristik atmosfir, dan pemantauan kebocoran listrik pada kabel listrik tegangan tinggi. PUNA cocok digunakan di daerah perbatasan yang berhutan lebat, konturnya naik-turun, sehingga sulit dijangkau lewat transportasi darat.

TNI Angkatan Darat bekerjasama dengan Universitas Surya yang dipimpin ilmuwan fisika Prof. Yohanes Surya juga telah memamerkan prototipe PUNA untuk kebutuhan militer, yang dinamai UAV Autopilot Super Drone. Kepala Staf TNI-AD Jenderal TNI Budiman menjelaskan, bahan pesawat itu terbuat dari fiber, ukuran rentang sayap 6 meter dan badannya 4 meter. Ia mampu terbang selama 6-8 jam. PUNA ini dilengkapi tangki cadangan, namun tempat untuk tangki itu juga bisa digunakan untuk benda lain. Ia mampu terbang malam, dilengkapi kamera thermal (kamera pelacak panas) untuk mengintai sasaran, serta menggunakan teknologi Autonomous Return To Base (kemampuan kembali ke pangkalannya secara otonom).

Saat ini cara lepas landas dan pendaratan PUNA itu masih manual. Namun, ia masih dikembangkan agar bisa lepas landas dan mendarat secara autopilot. Pengerjaan PUNA ini dijadwalkan dimulai pada November 2014 oleh tim yang terdiri dari 15 orang. KSAD menambahkan, teknologi pesawat nirawak ini nantinya akan dikombinasikan dengan teknologi Open Base Transceiver System yang dibuat oleh Onno W. Purbo dari Universitas Surya. Penggunaannya untuk memantau dan mengamankan daerah perbatasan.

Sedangkan untuk TNI Angkatan Laut dikembangkan PUNA Sriti. PUNA Sriti adalah wahana udara nirawak jarak dekat dengan konfigurasi desain playing wing, yang menggunakan pelontar sebagai sarana lepas landas dan jaring sebagai sarana pendaratan. PUNA Sriti yang berfungsi untuk tugas pengintaian ini ini bisa melihat ke depan sejauh 60-75 km. Jadi bisa dikatakan, PUNA Sriti berfungsi sebagai “mata” bagi kapal-kapal perang TNI-AL.

PUNA terbaru buatan Lapan

Sementara itu, Lapan tengah mengembangkan tiga jenis pesawat tanpa awak. Setelah memproduksi pesawat tanpa awak jenis Lapan Surveillance UAV-01X dan LSU (Lapan Surveillance Unmanned) 02, Lapan juga membuat jenis LSU 03 yang berukuran lebih besar. LSU 03 memiliki bentangan sayap 5 meter dan badan 4 meter. Daya jelajahnya 400 km dengan ketinggian 3.000-4.000 meter.

Tahun 2014, Lapan juga sedang mengembangkan jenis pesawat tanpa awak terbaru dengan series LSA (Lapan Surveillance Aircraft) 05. Prototipenya sudah disiapkan, tinggal melakukan uji terbang. LSA 05 ini lebih canggih, ukurannya lebih besar, dan kapasitas bahan bakar lebih banyak.

Nantinya, jenis LSA 05 bisa digunakan untuk pemadaman kebakaran hutan dan tugas pemantauan strategis lainnya. Ia mampu terbang non-stop 6-8 jam dengan jarak tempuh 1.300 km, ketinggian hingga 5.000 m, serta mampu membawa beban hingga 160 kg. Komponen produk pesawat ini belum sepenuhnya buatan lokal. Masih ada yang harus diimpor, seperti mesin dan motor penggerak. Namun, porsi komponen lokal yang dibuat Lapan jauh lebih besar dibandingkan komponen impornya.

Jika kita membuat perbandingan dengan PUNA yang dibuat atau digunakan negara-negara lain, pada Februari 2013 dilaporkan bahwa PUNA sudah digunakan oleh sedikitnya 50 negara. Beberapa negara seperti Iran, Israel, dan China membuat PUNA versi mereka sendiri. Indonesia jelas bukan sekadar pengguna, tetapi juga ingin memproduksi sendiri.
Predator dan Global Hawk

Pada 2008, Angkatan Udara Amerika mengaku telah memiliki 5.331 PUNA, atau dua kali lipat dari jumlah pesawat berawak yang dimilikinya. PUNA sudah berperan dalam perang Vietnam, Perang Ramadhan antara Arab lawan Israel (1973), dan Perang Teluk di Irak (1991). Banyaknya tentara AS yang tewas di Vietnam, memicu AS mengembangkan PUNA untuk misi-misi berbahaya, sehingga mengurangi risiko tewasnya personel militer AS.

Awalnya, PUNA lebih banyak digunakan untuk misi pengintaian dan tidak bersenjata. Tetapi dalam perkembangannya kemudian, PUNA pun dipersenjatai. Dari sekian banyak PUNA milik AS, Predator adalah jenis PUNA yang dilengkapi dengan rudal Hellfire, sehingga ia dapat menghancurkan sasaran yang lokasinya sudah terlacak. Ide memberi persenjataan ini diwujudkan setelah Predator beberapa kali dapat melacak keberadaan Osama bin Laden, tokoh militan yang diburu AS. Tetapi waktu itu Predator belum dipersenjatai dan tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya mengirim gambar ke operatornya di darat.

Berbeda dengan Predator, yang dikendalikan dari jarak jauh via satelit oleh pilot yang berlokasi 7.500 mil jauhnya, PUNA jenis Global Hawk bisa dibilang beroperasi secara otonom. Pengguna tinggal memencet tombol “lepas landas” atau “mendarat,” sedangkan PUNA itu mendapat arahan via GPS (Sistem Pemosisian Global) dan melaporkan apa yang ditemuinya secara langsung.

Global Hawk memiliki kemampuan terbang jarak jauh. Bahkan ada versi yang begitu kecil, yang bisa diluncurkan dengan tangan dan bermanuver di jalan raya. PUNA semacam ini, yang dinamai Raven, bermanfaat untuk misi-misi di kawasan perkotaan seperti yang dihadapi tentara AS di Irak. Yakni, untuk mengantisipasi kemungkinan serangan atau penyergapan oleh para gerilyawan kota.

Meski sangat bermanfaat secara militer, pengoperasian Global Hawk oleh AS di Afganistan banyak menimbulkan kecaman oleh kelompok hak asasi manusia. Hal ini karena serangan rudal yang dilakukannya lebih banyak menewaskan warga sipil, ketimbang gerilyawan Taliban atau Al-Qaeda yang sedang diburu oleh AS. Penggunaan PUNA tanpa izin di wilayah negara lain juga bisa dipandang melanggar integritas teritorial. (Diolah dari berbagai sumber)

Jakarta, Juli 2014

*Penulis adalah Doktor Ilmu Pengetahuan Budaya UI, alumnus Angkatan XIII Program Studi S2 Pengkajian Ketahanan Nasional UI.

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI