Pilpres 2014 dan Masyarakat yang Gamang

Oleh Satrio Arismunandar

Pasangan capres-cawapres yang ada dalam pemilihan presiden 2014 ternyata belum cukup meyakinkan publik untuk segera menentukan pilihan. Lebih dari 41 persen calon pemilih masih bimbang. Jumlah massa yang “gamang” ini sangat besar dan akan menentukan siapa yang jadi pemenang pilpres.

Jika pemilihan umum presiden (pilpres) Indonesia bukan dilakukan pada 9 Juli mendatang, namun dilakukan pada minggu pertama Mei 2014, siapa yang akan jadi pemenang? Ternyata peraih suara terbanyak bukanlah pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla, bukan pula Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, namun massa mengambang. Mereka adalah masyarakat yang belum memutuskan, akan memilih pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang mana dalam pilpres 9 Juli nanti.

Dari seluruh responden, 35,42 persen memilih Joko Widodo-Jusuf Kalla, sedangkan 22,75 persen memilih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, dan 41,83 persen menjawab “tidak tahu” atau tidak menjawab. Berarti, para juru kampanye dari masing-masing pasangan capres dan cawapres harus bekerja ekstra keras, karena posisi jago mereka masih belum aman. Lebih dari 41 persen calon pemilih, yang masih “gamang” dan belum menentukan pilihan (undecided voters) itu bisa menentukan siapa yang akan jadi pecundang dan siapa yang akan jadi pemenang.

Demikianlah hasil survei nasional menjelang pilpres, yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI) dan diumumkan di Jakarta pada 20 Mei 2014. Survei dilakukan pada 1-9 Mei 2014 di 33 provinsi dengan metode baku multistage random sampling (pengambilan responden dilakukan secara acak lewat beberapa tahap). Jumlah responden ada 2.400 orang dan margin of error-nya lebih kurang 2%. Responden dipilih secara acak dan diwawancarai dengan tatap muka. Survei dilengkapi dengan analisis media, focus group discussion, dan wawancara mendalam. Survei nasional ini dibiayai sendiri oleh LSI.

Peluang menang relatif sama

Melihat begitu besarnya jumlah massa yang belum menyatakan pilihan, maka kemenangan atau kekalahan pada pilpres 2014 akan tergantung pada keberhasilan atau kegagalan mempengaruhi 41,38 persen suara masyarakat yang gamang tersebut, agar bisa dialihkan menjadi pendukung pasangan capres-cawapres tertentu. Dalam hal ini, meski elektabilitas pasangan Jokowi-JK sementara ini lebih besar sekitar 13 persen dari elektabilitas Prabowo-Hatta, kedua pasangan yang bersaing ini punya peluang menang yang relatif sama.

Jika melihat realita dukungan dan koalisi partai, pasangan Jokowi-JK kalah dalam dukungan elite dan partai politik dibandingkan pasangan Prabowo-Hatta, namun Jokowi-JK menang sementara dalam dukungan pemilih. Dukungan koalisi Prabowo-Hatta yang terdiri dari partai Gerindra, PAN, PKS, PPP, dan Golkar mencapai 48 persen. Sedangkan pendukung koalisi Jokowi-JK, yang terdiri dari PDIP, Nasdem, PKB, dan Hanura mencapai 40 persen.

Namun, jangan dilupakan bahwa memilih presiden tidaklah sama dengan memilih partai. Dalam pilpres, yang lebih dilihat masyarakat adalah figur atau tokoh capres/cawapres, bukan asal partainya. Keunggulan dalam persentase suara yang diraih jumlah parpol pendukung belum menjadi jaminan kemenangan dalam pilpres.

Lihatlah, misalnya, pengalaman putaran kedua pilpres 2004, di mana pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono bersaing melawan Megawati-Hasyim Muzadi. Dukungan koalisi partai kepada Megawati-Hasyim Muzadi yang berasal dari PDIP, Golkar, PDS, dan PPP, mencapai 51 persen. Sedangkan SBY-JK didukung oleh partai Demokrat, PAN, PKPI, dan PKS, yang total hanya mencapai 19 persen. Namun, kita tahu hasil akhirnya bahwa SBY-JK menang telak dalam pilpres 2004.

Antusiasme dukungan publik

Kemenangan SBY-JK ini terjadi karena meskipun total persentase dukungan partai yang mendukung SBY-JK di pilpres 2004 jauh lebih kecil, namun persentase dukungan pemilih pasangan SBY-JK jauh lebih besar. Hal serupa masih bisa terjadi pada pilpres 2014. Jokowi-JK berpotensi mengulang kasus yang sama karena antusiasme dukungan publik atas pasangan ini jauh lebih besar.

Dalam survei LSI terakhir, ada pertanyaan: “Jika bapak/ibu menjadi relawan untuk membantu capres memenangi pemilu, pasangan capres manakah yang bapak/ibu lebih antusias membantu secara sukarela? Pasangan Jokowi atau pasangan Prabowo?” Ternyata yang memilih membantu Jokowi adalah 68,5 persen, yang mau membantu Prabowo ada 15,3 persen, sedangkan sisanya 16,2 persen tidak tahu atau tidak menjawab.

Ini adalah keuntungan besar buat pasangan Jokowi-JK karena dukungan spontan dari masyarakat luas tampak lebih besar padanya. Dukungan spontan inilah yang membuat PDI Perjuangan menang pada Pemilu 1999, atau SBY yang menang pada Pilpres 2004 meski berasal dari partai kecil (Demokrat).

Namun yang harus dicatat sebagai potensi ancaman lain terhadap Jokowi adalah tren, seberapa jauh Jokowi bisa mempertahankan atau malah menambah tingkat dukungan sampai hari pencoblosan, 9 Juli. Hal ini karena ada tren bahwa elektabilitas Prabowo terus menanjak, sedangkan elektabilitas Jokowi cenderung stagnan. Berbagai bentuk kampanye hitam dan negatif yang gencar dilancarkan terhadap Jokowi, sampai tahap tertentu turut andil dalam terjadinya stagnasi dukungan pada Jokowi.

Selain itu, Jokowi terkesan kurang lincah bermanuver menggalang dukungan dibandingkan dengan Prabowo. Hal ini kemungkinan disebabkan berbagai persoalan di internal PDI Perjuangan sendiri. Ada sejumlah elemen internal yang terkesan kurang ikhlas atau setengah hati dalam mendukung Jokowi. Hal ini sudah terlihat sejak pemilu legislatif lalu, di mana “efek Jokowi” tidak tampil penuh seperti yang diharapkan. Penyebabnya lebih pada faktor internal daripada eksternal. Sedangkan pada saat yang sama, kubu Prabowo tampak all out dan habis-habisan mencari dukungan.

Hal yang harus dibenahi oleh tim kampanye Jokowi-JK adalah soal lemahnya sosialisasi gagasan atau program. Di mata responden, secara kepribadian calon presiden, baik Prabowo maupun Jokowi masing-masing memiliki keunggulan tersendiri. Jokowi dianggap lebih jujur, punya kemampuan menyelesaikan masalah, dan peduli pada rakyat kecil. Sedangkan Prabowo dianggap lebih pintar, tegas, dan punya gagasan/program.

Maraknya kampanye negatif

Butir yang rawan adalah di gagasan/program. Responden yang menyatakan Prabowo memiliki gagasan/program mencapai 53,4 persen, sedangkan yang bilang Jokowi memiliki gagasan/program ada 38,7 persen. Selisihnya cukup jauh. Padahal seorang calon presiden tentunya dituntut memiliki visi, misi, dan program yang jelas untuk Indonesia di masa depan.

Ketertinggalan Jokowi dalam hal ini adalah salah satu kesalahan tim kampanye yang lambat dan kurang agresif dalam mensosialisasikan visi-misi capresnya. Sekali lagi, hal ini tampaknya terkait dengan faktor internal di PDI Perjuangan yang setengah membelenggu Jokowi.

Pilpres 2014 tampaknya akan diwarnai oleh marak dan masifnya kampanye negatif yang menyerang kedua capres. Survei LSI menunjukkan, kampanye negatif --jika dipercaya oleh publik-- akan berdampak cukup besar terhadap elektabilitas para capres. LSI menanyakan sejumlah hal kepada responden, tentang pengetahuan mereka terhadap isu negatif yang diasosiasikan kepada kedua capres.

Ada empat isu negatif Jokowi yang ditanyakan. Pertama, “capres boneka” (Jokowi dikendalikan Megawati dan negara asing). Kedua, Jokowi berbohong dan tidak menepati janjinya menjabat Gubernur DKI selama 5 tahun. Ketiga, Jokowi terlibat dalam kasus korupsi pengadaan Busway dari China. Keempat, jika terpilih nanti Jolowi akan lebih membela kelompok minoritas dan mengabaikan kepentingan mayoritas Muslim.

Dari keempat isu negatif Jokowi yang ditanyakan, antara 9-39 persen publik menyatakan pernah mendengar atau tahu dengan isu tersebut. Namun, dari mereka yang tahu atau pernah mendengar isu negatif tersebut, hanya 20-28 persen yang menyatakan percaya dengan isu negatif yang dihembuskan tersebut.

Sementara itu, empat isu negatif Prabowo yang ditanyakan adalah: Pertama, keterlibatan Prabowo dalam penculikan aktivis 1998. Kedua, Prabowo tidak harmonis dengan keluarga. Ketiga, Prabowo temperamental (tidak bisa mengendalikan emosi) dan suka menggunakan kekerasan. Keempat, Prabowo tidak sukses dalam bisnis perusahaannya karena banyak rugi dan utang.

Dari keempat isu negatif Prabowo yang ditanyakan, antara 7-32 persen publik menyatakan pernah mendengar. Namun, tingkat kepercayaan publik terhadap isu negatif Prabowo tersebut lebih besar dibandingkan dengan Jokowi. Dari mereka yang pernah mendengar isu negatif Prabowo, sebesar 51-72 persen publik menyatakan percaya terhadap isu tersebut.

Isu negatif terhadap kedua capres berpengaruh terhadap keinginan pemilih untuk memilih. Namun, pengaruh isu negatif terhadap keinginan pemilih dalam memilih Prabowo lebih besar daripada Jokowi. Dari mereka yang percaya isu negatif Prabowo, ada potensi penurunan suara Prabowo sebesar 40-51 persen. Sedangkan, ada potensi penurunan suara Jokowi sebesar 40-44 persen dari mereka yang percaya terhadap isu negatif Jokowi tersebut.

Unggul di hampir semua segmen


Dilihat dari segmen pemilih, pasangan Jokowi-JK relatif unggul di semua segmen pemilih. Pasangan Jokowi-JK unggul dari pasangan Prabowo-Hatta di semua segmen gender (laki-laki dan perempuan), desa-kota, usia, dan agama. Jokowi-JK juga unggul dari Prabowo-Hatta dalam semua segmen suku, kecuali suku Betawi yang lebih mendukung Prabowo-Hatta. Dari segmen pendidikan dan pendapatan, Jokowi-JK pun unggul di hampir semua kategori. Kecuali pada segmen pendidikan tinggi dan pendapatan Rp 1-2 juta, yang bersaing dengan pasangan Prabowo-Hatta.

Pada segmen pemilih partai, Jokowi-JK pun unggul di hampir semua pemilih partai, kecuali pemilih partai Gerindra, Hanura, dan PKPI. Kedua pasangan capres pun masih bersaing ketat di pemilih partai PKS dan PBB.
Menurut survai LSI, dari segi popularitas, kedua capres sama-sama dikenal mayoritas pemilih dengan persentase di atas 90 persen. Tingkat popularitas Jokowi sebesar 94,9 persen, sedangkan Prabowo dikenal oleh 93,8 persen pemilih. Meski sama-sama dikenal, Jokowi lebih disukai dibandingkan Prabowo. Kesukaan terhadap Jokowi mencapai 82,7 persen, sementara Prabowo sebesar 72,0 persen.

Hal yang patut digarisbawahi bagi tim kampanye kedua capres ke depan adalah perlunya penjabaran dan pemasaran program kerja yang lebih masif. Pengenalan publik terhadap nama para capres tidak berbanding lurus dengan pengetahuan publik terhadap program capres.

Dalam survai cepat (quick poll) yang diadakan LSI dengan 1.200 responden pada 15-18 April 2014, mayoritas publik yaitu 63,80 persen menyatakan tidak tahu sama sekali apa yang akan diperjuangkan oleh para capres. Hanya 18,90 persen responden yang menyatakan tahu program para capres. Dan sebesar 17,30 persen menyatakan tidak tahu/ tidak menjawab.

Dari hasil survei, mereka yang menyatakan tidak mengetahui program capres ini merata di semua segmen masyarakat (demografis), baik mereka yang tinggal di desa, maupun di kota, baik perempuan maupun laki-laki, baik yang berpendidikan tinggi maupun rendah. Atau mereka yang berstatus ekonomi tinggi maupun mereka yang berstatus ekonomi rendah.

Yang menarik, mayoritas publik (65,70 persen) berharap para capres lebih banyak bicara gagasan membangun Indonesia ke depan, bukan bicara soal koalisi. Hanya 17,25 persen publik yang menolerir para capres yang lebih sibuk bicara soal mitra koalisi. Adapun sebagian publik yang lain, yaitu sebesar 8,70 persen, menginginkan para capres berbicara tentang siapa saja calon anggota kabinetnya di posisi-posisi menteri strategis.

Untuk lebih merinci program apa saja yang ingin didengar para pemilih dari para capres, LSI melakukan riset kualitatif untuk memperkaya riset kuantitatif yang dilakukan. Kesimpulannya, ada tiga program utama yang ingin didengar publik: Pertama, program politik, berupa membangun pemerintah yang kuat, yang didukung secara solid oleh anggota kabinet dan parlemen secara mayoritas.

Kedua, program ekonomi, berupa mempercepat kesejahteraan rakyat, seperti program mengatasi kemiskinan, mengurangi pengangguran, menambah lapangan pekerjaan, dan mengatasi inflasi yang menyebabkan naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok. Ketiga, program budaya, yaitu publik ingin tahu program para capres dalam mengatasi kasus-kasus diskriminasi, serta menjaga keberagaman dan kerukunan di Indonesia. (Diolah dari berbagai sumber)


Jakarta, 21 Mei 2014.
Ditulis untuk Majalah AKTUAL

Comments

IBU HAYATI said…
aya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)