SIARAN PERS - Komnas Perempuan Dukung Proses Hukum terhadap Pelaku Kekerasan pada Perempuan di Media Sosial

Jakarta, Jumat

Komnas Perempuan mendukung dan mendorong dilakukannya proses hukum terhadap para pelaku kekerasan terhadap perempuan di media sosial. Hal ini penting untuk pembelajaran bagi publik dan mencegah berulangnya kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia, khususnya yang dilakukan melalui media sosial.

Hal itu dinyatakan pihak Komnas Perempuan di Jakarta, Jumat (31/10), menanggapi pengaduan yang dilakukan Fatin Hamama, perempuan penyair dan ibu rumah tangga, yang sekian lama merasa tertekan karena menjadi korban kekerasan melalui media sosial, yang dilakukan pegiat sastra Iwan Soekri dan Saut Situmorang. Fatin terpaksa menuntut Iwan dan Saut secara hukum karena serangan di media sosial itu sudah sangat berlebihan, vulgar, apalagi juga sudah mempengaruhi ketenteraman keluarga Fatin, khususnya anaknya.

Ini adalah pertama kalinya di Indonesia, seorang perempuan yang menjadi korban kekerasan di media sosial, mengadukan kasusnya dan menuntut para pelaku kekerasan tersebut ke pengadilan. Dengan demikian, kasus Fatin Hamama ini menjadi preseden yang bisa berpengaruh pada kasus-kasus hukum serupa berikutnya.

Bukan tidak mungkin, bukan cuma Fatin yang pernah menjadi korban kekerasan di media sosial, namun para korban tersebut mungkin takut, cemas, atau tak percaya diri untuk tampil di depan publik memperjuangkan nasibnya. Dengan demikian, lewat kasus Fatin diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan lain korban kekerasan untuk melawan kekerasan di media sosial tersebut.

Kasus yang menimpa Fatin bermula dari polemik di antara sejumlah pegiat sastra, sesudah terbitnya buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Persoalan kekerasan muncul ketika salah satu pihak yang menolak terbitnya buku itu justru menjadikan Fatin, yang sebenarnya sama sekali tidak terlibat dalam proses penerbitan buku itu, sebagai bulan-bulanan di media sosial. Bahkan seandainya Fatin betul menjadi bagian dari penerbitan buku itu, hal itu tetap tidak boleh menjadi dalih yang membenarkan kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk serangan-serangan vulgar terhadap pribadi Fatin.


Jakarta, 31 Oktober 2014


Tim Pembela Perempuan Korban Kekerasan di Media Sosial

Kontak: Satrio Arismunandar (081286299061).
E-mail: arismunandar.satrio@gmail.com

Comments

Jojo Rahardjo said…
Mungkin sekarang memang sudah saatnya untuk menegakkan hukum pada siapapun dan kelompok apapun....

Popular posts from this blog

MEMAHAMI KONVERGENSI MEDIA (MEDIA CONVERGENCE)

Strategi dalam Industri Media (Contoh Model Five Forces Michael E. Porter)

TANYA-JAWAB SEJARAH FILSAFAT YUNANI